Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (8/Habis)

Jual dan Gadaikan Apa Saja untuk Bergabung

15 Oktober 2019, 18: 37: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

qnet amoeba

CARI BARANG BUKTI: Tim Polres Lumajang saat penggeledahan di Rumah "Ora Umum', Kamis (3/10). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Apa saja akan dilakukan oleh rekrutan anyar demi mengikuti bisnis Q-Net. Salah satunya adalah dengan cara menjual atau gadaikan barang pribadi.  Untuk mengejar syarat membeli benda yang harganya jutaan rupiah.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming gaji yang melimpah dengan janji effort kerja yang minim? Tugasnya hanya mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk bergabung dalam jaringan bisnis. Terdengar mudah. Namun, untuk masuk ke fase tersebut, para rekrutan anyar harus membayar sejumlah uang.

Untuk apakah sejumlah uang itu? Fatah, salah seorang mantan anggota bisnis Q-Net menjelaskan bahwa uang tersebut digunakan untuk membeli barang yang dijual oleh Q-Net. “Tergantung, ada kaca, atau kalung, gelang. Yang termurah harganya seteahu saya yang kaca, atau biasa disebut biodisc,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Cukup mudah. Namun, ternyata untuk membeli barang tersebut harganya juga tidak murah. Jutaan rupiah hanya untuk kaca yang disebutkan oleh para mentor dari Rumah Ora Umum dapat mengusir hawa negatif. “Saya dulu pas ikut sekitar lima tahun lalu, harganya masih Rp 6 jutaan kalau tidak salah,” imbuh Fatah.

Namun, tidak semua orang dapat mendapatkan uang sebanyak itu. Apalagi, masih lanjut Fatah, harga tersebut mengikuti kurs dolar Amerika. Jika dihitung, sekarang harganya mencapai Rp 9-10 juta per itemnya. Untuk harga kalung dan gelang yang disebutkan oleh Fatah sebelumnya, harganya pun berbeda. “Lebih mahal,” imbuhnya.

Namun, dengan harga yang tergolong mahal, ternyata banyak yang ingin ikut bergabung. Bagaimana jika tidak memiliki uang? Fatah menceritakan, para rekrutan baru itu didorong oleh sponsornya untuk menjual atau menggadaikan barang pribadinya. Itu berkaca dari pengalaman serta cerita yang dia dapatkan.

Ya, para rekrutan itu bisa menjual apa saja yang mereka miliki. Agar terkumpul uang secukupnya. Lalu dapat bergabung dengan bisnis ‘Ora Umum’ tersebut.

Fatah menjelaskan, beberapa rekrutan memang melakukan hal itu. Tapi tidak bagi dia. Kebetulan ia sudah memiliki tabungan yang dia sisihkan dari hasil kerjanya selama ini. Yang digunakan untuk membeli produk sebagai syarat bergabung dengan bisnis ‘Ora Umum’.

Cara membayarnya juga harus cash. Tak boleh mengangsur. Harus dibayar tunai saat mendaftar. Itulah yang membuat para calon rekrutan menjual dan menggadaikan apa saja yang ia punya untuk memenuhi jumlah uang menebus salah satu barang yang dijual. “Modelnya bisa langsung tunai atau lewat transfer. Pokoknya harus sudah lunas,” imbuhnya.

Fatah banyak mendengar ada motivasi dari senior di bisnis itu agar rekrutan baru tak takut menggadaikan atau menjual barang. Selama terlibat bisnis itu dalam 4 bulanan, dia mendengar senior menegaskan agar rekrutan tak takut melarat. Karena barang yang dijual itu dijadikan modal bisnis Q-Net yang hasilnya bisa lebih banyak.

Kini, rumah megah yang terletak di sebelah selatan Jalan Argowilis, Semen, itu terus tertutup setelah ada penggerebekan yang dilakukan oleh Tim Cobra Polres Lumajang pada Kamis (3/10) sore. Meski Polres Lumajang melakukan penggeledahan dengan pencarian barang bukti dari PT Amoeba Internasional yang kasusnya sedang ditangani oleh mereka, namun, dari hasil penyelidikan menunjukkan bahwa PT Amoeba berafiliasi dengan Q-Net juga.

Bagaimana untuk kelanjutan kasus yang dilanjutkan oleh Polres Lumajang itu, hingga saat ini masih dalam pendalaman kasus. Salah satu pimpinan direksi yang berhubungan dengan PT Amoeba di Blitar pun sudah ditetapkan tersangka atas kasus money games dengan sistem piramida itu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia