Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Harga Cabai Terus Anjlok

15 Oktober 2019, 18: 13: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai

MURAH: Pedagang cabai rawit di Pasar Induk Pare saat melakukan pemilahan. Saat ini harganya terus anjlok. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Petani cabai benar-benar merana. Harga di pasaran terus menunjukkan tren penurunan. Khususnya untuk cabai rawit. Yaitu Rp 23 ribu per kilogram. Padahal, bulan ini belum memasuki puncak panen.

Hal ini diungkapkan Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih. Menurut Tutik, saat ini harga di tingkat petani sebesar Rp 23 ribu per kilogram. Sementara di tingkat konsumen Rp 30 ribu per kilogram. Angka ini turun drastis dibanding sehari sebelumnya yang di kisaran Rp 28 ribu per kilogram di tingkat petani dan Rp 35 ribu per kilogram di konsumen.

“Padahal, sekarang belum puncak panen,” tutur perempuan yang sekarang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri. Prediksinya, puncak panen pada November hingga Januari. Sementara saat ini, tak hanya dari Kabupaten Kediri yang mengirim pasokan, tetapi juga berasal dari Blitar, dan Banyuwangi. Diperkirakan stok telah melimpah dan melebihi kebutuhan Kediri. “Kelebihan diperkirakan sekitar 200-210 ton,” terangnya.

Karena itulah, saat ini tim terus melakukan pemantauan harga agar tidak anjlok terus. Salah satu caranya dengan mengirim sebagian hasil panen ke luar kota. Salah satu sasarannya ke Jakarta yang masih membutuhkan pasokan cabai.

Selain itu, saat ini pihaknya berupaya agar bisa melakukan pengawetan limpahan stok cabai. Yaitu dengan bantuan cold storage yang tidak lama lagi akan diterima Kabupaten Kediri. Mesin pendingin ini berukuran 5x5x4 meter. “Bantuan berasal dari Kementan (kementerian pertanian),” terangnya. Hanya saja, daya tampung cold storage sebesar 10 ton ini  tak banyak dan masih belum mencukupi limpahan stok cabai.

Langkah lainnya adalah mengadakan pelatihan untuk pengolahan cabai paskapanen. Yaitu dengan membuat cabai bubuk dan produk lainnya. Sayangnya, langkah ini masih belum mampu menyerap banyak limpahan cabai. “Tapi, setidaknya sudah ada upaya menambah pendapatan petani dan menaikkan harga jual cabai,” jelasnya. Selanjutnya, Tutik berharap agar harga cabai tidak terus jeblok dan masih di atas break even point (BEP) menanam cabai yaitu sebesar Rp 10.800.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia