Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Fauzan Adima

Jangan Ada Joker di Antara Kita

14 Oktober 2019, 21: 27: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Fauzan Adima

Fauzan Adima (radarkediri.id)

Share this          

Beberapa hari yang lalu, 10 Oktober, kita memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Peringatan hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini sedikit fenomenal karena hampir bersamaan dengan ditayangkannya film “Joker” di mana tokoh utamanya penderita gangguan jiwa/mental.

Tokoh utama film tersebut, Arthur Fleck, digambarkan menderita gangguan jiwa. Dia mengalami tekanan mulai dari perisakan (bullying) sampai ditutupnya sistem layanan sosial sehingga terpaksa tidak bisa menjalani proses pengobatan. Tekanan tersebut membuatnya berubah menjadi sosok Joker dengan ungkapannya yang fenomenal: “Orang jahat bisa lahir dari orang baik yang tersakiti.”

Seperti Arthur Fleck, tokoh utama film Joker, penderita gangguan jiwa di Indonesia banyak juga yang mengalami perundungan dari orang sekitar hingga tak sanggup berobat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018, terdapat 0,67 persen dari total rumah tangga yang anggotanya menderita skizofrenia atau psikosis. Sementara prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8 persen. Angka ini meningkat dibanding 2013, yaitu sebesar 6 persen.

Namun, dari jumlah tersebut, sebanyak 51,1 persen individu yang mengalami gangguan jiwa tidak rutin meminum obatnya seperti Arthur. Sedangkan untuk penderita depresi, lebih besar lagi. Sebanyak 91 persen tidak berobat.  

Alasan tidak rutin minum obatnya adalah: merasa sudah sehat (36,1 persen), lupa atau sibuk sehingga tidak rutin berobat (33,7 persen), serta tidak mampu membeli obat sebanyak 23,6 persen.

Tindakan diskriminatif, perisakan, dan stigma negatif juga masih menghantui penderita gangguan jiwa di Indonesia. Mereka kerap kali juga diasumsikan terkena guna-guna, kutukan, gangguan roh halus, hingga kurang iman.

Permasalahan lain untuk penanganan penderita gangguan jiwa adalah kurangnya fasilitas dan tenaga kesehatan jiwa. Kapasitas rumah sakit jiwa (RSJ) di Indonesia sangat terbatas. Di seluruh Indonesia hanya ada 43 RSJ dengan total kapasitas tempat tidur (TT) sebanyak 9.880. Untuk tenaga kesehatan jiwa, satu psikiater melayani 300 ribu hingga 400 ribu orang. Total hanya ada 1.563 tenaga psikologi klinis di seluruh Indonesia.

Apa Itu Kesehatan Jiwa?

Kesehatan jiwa menurut Undang Undang Kesehatan Jiwa Tahun 2014 adalah suatu kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Orang yang sehat jiwanya memiliki perasaan sehat dan bahagia serta akan merasa nyaman terhadap dirinya sehingga mampu mengatasi amarah, rasa cemas, takut, iri hati, rendah diri dan mampu menerima orang lain apa adanya. Di samping itu juga mempunyai sikap positif terhadap diri dan orang lain sehingga mampu menerima dan mencintai  serta menggunakan akalnya dengan sehat. Kemudian mampu menerima tanggung jawab, mengambil keputusan, mempunyai tujuan hidup dan merancang masa depannya.

Penyebab gangguan jiwa bermacam-macam. Di antaranya kekerasan yang dialami anak dan perempuan (terutama kekerasan seksual), penyalahgunaan napza, kecanduan media sosial, bencana, serta tekanan psikologis akibat kurang mendapat perhatian atau terabaikan. Di samping ada pula akibat kelainan genetik atau faktor keturunan.

Gangguan jiwa sangat beragam jenisnya mulai dari yang ringan seperti stres atau depresi hingga akut seperti skizofrenia. Skizofrenia merupakan penyakit kronis di mana penderita memiliki kesulitan memproses pikirannya sehingga dapat berhalusinasi, delusi, berpikiran tidak jelas, hingga bertingkah laku dan berbicara yang tidak wajar.

Hal ini harus dicegah dan dikendalikan karena penderita gangguan jiwa akan membebani keluarga, masyarakat dan negara serta dapat mempengaruhi kualitas bangsa. Apalagi penderita gangguan jiwa tidak mengenal batas usia. Artinya, bisa menyerang di umur berapa pun.

Adapun pencegahannya, yang paling efektif tetap melalui pendekatan keluarga. Yaitu, bagaimana setiap kita bisa menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis dan komunikatif serta interaksi setiap anggota keluarga seimbang. Kalau dalam agama Islam biasa disebut keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmat. Peran kehidupan sosial masyarakat yang sehat dan guyub rukun juga dapat mencegah timbulnya penyakit masyarakat yang berdampak pada gangguan jiwa seseorang.

Dengan mengetahui penyebab, gejala, dan pencegahannya itu, semoga tidak sampai muncul sosok Joker di antara kita. Sehingga, ungkapan “Orang jahat bisa lahir dari orang baik yang tersakiti” bisa kita ganti dengan semboyan “Orang jahat tidak akan ada selama jiwa yang tersakitinya dapat terobati dengan baik.” Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Stop ODGJ! (dr Fauzan Adima MKes adalah kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia