Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (6)

Dipikat Janji, setelah Bergabung Ditinggal

13 Oktober 2019, 18: 14: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

qnet amoeba

TELUSUR BUKTI: Tim Cobra Satreskrim Polres Lumajang memeriksa barang bukti saat menggeledah rumah ‘Ora Umum’ di Desa Titik, Kecamatan Semen, beberapa waktu lalu. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

   Kata manis motivasi si miskin yang jadi kaya menghipnotis para pengikut bisnis ini. Namun setelah daftar dan membayar, mereka tak lagi dibimbing secara intensif. Janji pun tinggal janji.

Janji tinggal janji. Begitulah yang kira-kira dirasakan oleh Fatah (bukan nama sebenarnya, Red). Ia dijanjikan untuk terus dibimbing hingga menjadi seseorang yang sukses. Seperti apa yang para “motivator” di Rumah Ora Umum katakan selama proses presentasi.

Namun, janji tersebut tidak kunjung dirasakan oleh Fatah setelah bergabung. Ia sama sekali merasa dilepaskan oleh teman yang mengajaknya. Juga ditinggalkan oleh para mentor dari dalam Rumah Ora Umum yang menjanjikan bimbingan hingga sukses.

“Setelah membeli dan menjadi member, tidak pernah sama sekali ada bimbingan hingga sukses,” ungkapnya.

Sesekali, saat Fatah mencari rekrutan baru, kesulitan pasti didapatkan. Karena memang untuk mengajak orang bergabung, menurutnya, sangat susah. Beberapa kali ia meminta bantuan ke mentor untuk memberikan motivasi dan mengajari terhadap calon rekrutan Fatah.

Meski pernah dibantu beberapa kali, namun rasanya tetap seperti ia harus bekerja mencari-cari sendiri. Bahkan, lelaki asal Kota Kediri itupun juga pernah sesekali mencoba membuat keluarga atau saudara untuk bergabung.

Namun, hasilnya nihil. Ia pun mulai berpikir, janji-janji yang ia dapatkan sebelum diajak, hingga saat ia mulai masuk dan terjun ke bisnis tersebut pada sekitar tahun 2014 itupun lebih banyak hal yang tidak bermanfaatnya.

Beban janji yang telah diucapkan oleh para mentor dan temannya, yang seringkali ditagih oleh Fatah juga tidak pernah didengarkan lagi. Ia merasa tertipu dengan janji mereka. “Saya tidak ingin orang lain merasakan sama seperti yang saya rasakan,” terangnya.

Fatah tidak ingin membebankan janji yang nantinya akan ia ucapkan kepada rekrutan anyarnya namun ia tidak dapat memenuhinya. Karena memang bisnis yang ia masuki beberapa tahun lalu itu tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan.

“Alhamdulillah, saya mulai mundur secara perlahan menarik diri dari bisnis tersebut,” ujarnya.

Sekali, dua kali, ia pun ogah-ogahan datang ke seminar ataupun presentasi yang dilakukan di Rumah Ora Umum setelah sedikit demi sedikit disadarkan. Ditinggal begitu saja oleh para mentor dan temannya, dan terus-menerus berpikir bahwa bisnis yang ia ikuti waktu itu tidak benar jika hanya bermodalkan janji.

Memang, kenangan yang buruk itu masih terus teringat di pikirannya. Janji yang diberikan kepadanya untuk dibimbing seterusnya agar menjadi sukses tidak pernah didapatkan.

Benda seperti bulatan kaca, yang disebut-sebut oleh para mentor di Rumah Ora Umum sebagai benda penangkal aura negatif itu masih tersimpan rapi di rumahnya. Uang sebesar Rp 6 juta pun dikeluarkan dengan jaminan dapat memperkaya dirinya dalam waktu dekat, dan dengan diberikan satu buah alat yang disebut sebagai biodisc.

    Barang yang dibeli oleh Fatah itu adalah alat yang digunakan sebagai semacam alat yang wajib dibeli untuk menjadi anggota bisnis multi level marketing (MLM) ini. Setelah itu, para anggota diminta untuk mencari anggota baru, dengan cara yang sama.

“Saya tidak begitu tahu namanya, pokoknya ada kaki kanan, kaki kiri, itu isinya rekrutan baru yang harus kita ajak untuk mendapatkan keuntungan bagi kita, dan orang yang mengajak kita terus berjalan,” terangnya.

    Ia mengingat-ingat apa saja yang ia dapatkan dalam presentasi  tentang bisnis Q-Net di Rumah Ora Umum di Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu. Meski hanya ikut terlibat selama 3-4 bulan, ia merasakan paket lengkap yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian formal dan rapi pada setiap Rabu sore, Sabtu pagi, dan Minggu pagi.

Kini, rumah megah yang terletak di sebelah selatan Jalan Argowilis, Semen, itu terus tertutup setelah ada penggerebekan yang dilakukan oleh Tim Cobra Polres Lumajang pada Kamis (3/10) sore. Meski Polres Lumajang melakukan penggeledahan dengan pencarian barang bukti dari PT Amoeba Internasional yang kasusnya sedang ditangani oleh mereka, namun, dari hasil penyelidikan menunjukkan bahwa PT Amoeba berafiliasi dengan Q-Net juga.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia