Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ibu dan Anak Penyandang Polio–Difabel Cerebral Palsy yang Produktif

Buka Jasa Pembayaran Online dan Olahan Kue

13 Oktober 2019, 16: 13: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

difabel

TETAP SEMANGAT: Galih Surya Hutama mengoperasikan laptop untuk usaha transaksi online didampingi ibunya, Ninuk Suci Rahayu, di rumahnya. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Kondisi keterbatasan fisik yang harus selalu di kursi roda tak menyurutkan semangat ibu dan anak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem ini untuk mandiri. Mereka tetap berusaha menjalani hidup dengan usaha yang produktif.

“Silakan masuk Mas,” ungkap Ninuk Suci Rahayu Ningtyas sambil kedua tangannya mengayuh kursi rodanya.

Perempuan yang akrab disapa Yayuk ini merupakan penyandang difabel polio. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di ruangan 6x5 meter kediamannya di Perumahan Tugurejo Indah, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Yayuk tampak sibuk dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga.

Beberapa pekerjaan harus dia selesaikan hari itu. Salah satunya membuat jenis jajanan ringan, seperti kue-kue basah. “Aktivitas saya setiap hari bikin kue ringan gini Mas,” ucapnya.

Yayuk memang mengalami kelainan pada kakinya. Ya, dia menderita penyakit polio sejak kecil. Di rumah tersebut, Yayuk hanya ditemani anak semata wayangnya, Galih Surya Hutama. Pemuda 23 tahun ini juga mengalami difabel cerebral palsy.

Keterbatasan fisik itu dideritanya sejak umur sembilan bulan. Praktis, kondisi tersebut membuat Galih tak bisa meninggalkan kursi rodanya. Cerebral palsy merupakan gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak. “Jadi motorik otak kanan sedikit mengalami gangguan,” tuturnya dengan lirih.

Karena keterbatasan itu, sebelum punya keterampilan kerja, Galih sempat merasa minder. Dahulu, ia menghabiskan waktunya di kasur saja. Bayang-bayang masa depan yang menuntutnya harus hidup mandiri selalu menghantuinya. Khawatir dirinya tidak bisa bekerja layaknya orang normal.

“Hanya ibu yang membuat saya termotivasi gini,” ungkap Galih sambil membenarkan posisi duduknya di kursi roda.

Galih menamatkan pendidikannya di sekolah dasar di SDN 1 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Kemudian, dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah pertamanya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul Jogjakarta. “Waktu itu saya ikut keluarga dan sekolah ke Kota Gudeg namun tidak sampai lulus,” ungkap pemuda kelahiran 30 April 1996 ini.

Galih memang mengalami kelainan di otak kanan dan tulang ekor. Sehingga ia kesulitan dalam berjalan dan bergerak. Praktis, hanya jari telunjuk saja yang bisa digerakkan dengan cepat. “Saya sehari-hari hanya membantu ibu memasarkan jajanan kuenya melalui online,” terangnya.

Awalnya, Galih hanya bermain game online saja, namun lambat laun dia pun bisa mengerjakan beberapa desain grafis maupun corel draw secara otodidak. “Tidak ada yang ngajari, saya bisa karena tiap hari utak-atik komputer,” ucapnya sambil tertawa.

Sambil berenang minum air. Peribahasa inilah yang tetap disandang Galih. Ketika itulah, dia mengetahui celah yang harus ia tangkap. Selain menjual produk ibunya, Galih juga melebarkan sayap melayani usaha pembayaran online. Seperti pembayaran BPJS, token listrik, asuransi, bayar tagihan, transfer uang hingga melayani pengetikan hingga print out.

“Alhamdulillah, satu bulan saya bisa melayani pembayaran listrik rutin hampir 80 orang sekitar perumahan ini,” terangnya.

Tanpa diduga, aktivitas yang ia jalani selama tujuh tahun sejak kepulangannya belajar di Jogja mendapatkan perhatian khusus warga perumahan sekitar. Alhasil, segala pembuatan website, hingga pembuatan video pun sering ia kerjakan.

“Mungkin basic dan rezeki saya di sini (usaha online) Mas,” tandasnya.

Bahkan kini Galih harus kewalahan melayani permintaan jenis pesanan kue ibunya melalui online. Dia mengaku, dalam sehari dapat melayani pembelian kue sekitar 5 hingga 8 produk. “Kebanyakan dari luar Kabupaten Kediri,” imbuhnya.

Unggah Tutorial Olah Jajanan di Youtube

Usaha yang dirintis Yayuk dan putranya sejak 7 tahun terakhir itu kini mendapatkan respons positif dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri dan Persatuan Disabilitas Kabupaten Kediri (PDKK). Bahkan, beberapa kali pemkab memberikan kepercayaan pada Yayuk dan Galih.

Salah satunya dengan memberikan fasilitas pelatihan kapasitas sumber daya manusia (SDM) hingga pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kami juga sering diundang Ibu Bupati untuk mengikuti pelatihan dan pameran UMKM,” terang perempuan alumnus STIEKEN Jayanegara Malang ini.

Saat ditemui koran ini, Yayuk sesekali mengayuh kursi rodanya untuk mencari tempat yang nyaman untuk bercerita. Dari pengalaman yang berkesan bagi ibu dan anak ini, diakui Yayuk, adalah ketika mendapatkan apresiasi dari Bupati Kediri Haryanti.

Ketika itu, bupati mengunjungi rumahnya di Perumahan Tugurejo Indah dan memberikan bantuan satu buah laptop untuk Galih. Tak hanya itu. Yayuk pun mendapat satu set alat memasak untuk pembuatan kue.

“Waktu itu memang komputer yang digunakan Galih dalam memasarkan produk kue ataupun jualan online sedang rusak,” urainya sambil meneteskan air mata.

Semenjak rumah tangganya mengalami perceraian, Yayuk mengaku, sempat mengalami kondisi yang begitu tak mengenakkan. Bahkan, dia sempat mengalami kondisi terpuruk selama hidupnya.

Namun, berkat semangat Galih yang saat itu sudah mulai aktif dalam menekuni online membuat Yayuk segera bangkit. “Penyemangat saya hanya Galih Mas,” ujarnya kepada koran ini.

Sementara itu, selain aktif memasarkan produk kue ibunya melalui online Galih kini juga mulai merambah ke dunia Youtuber. Langkah ini pun bukan tanpa alasan. Pemuda yang mengidolakan Youtubers asal Indonesia Atta Halilintar ini, menginginkan usaha ibunya mulai dikomersialkan melalui akun Youtube.

“Saya ingin tutorial cara membuat jajanan ringan juga saya masukkan Youtube,” ungkapnya.

Selain dapat memberikan referensi bagi ibu-ibu yang suka bikin kue, Galih mengatakan, upaya tersebut dapat dikomersialkan. “Selain bermanfaat juga bisa mendapatkan fee dari usaha itu,” ujarnya sambil tersenyum.

Ke depan, Galih berharap, usahanya yang mulai dirintis sejak 2012 ini mendapatkan perhatian semua pihak. Khususnya para penikmat pasar online. “Saya berharap upaya ini dapat bermanfaat bagi semuanya,” paparnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia