Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Bandingkan Pengelolaan Pasar Setonobetek dengan Pasar di Jogja

12 Oktober 2019, 14: 58: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Pedagang Pasar Setonobetek

MENUNGGU: Para pedagang lantai 2 Pasar Setonobetek menunggu pembeli. Hingga saat ini mereka mengeluh sepi pengunjung. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – DPRD Kota Kediri menyikapi serius kondisi Pasar Setonobetek Blok A yang masih sepi. Komisi B berencana menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bulan ini bersama pedagang pasar dan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jayabaya Kota Kediri.

Anggota Komisi B DPRD Kota Kediri Yuni Kuswulandari mengatakan, pihaknya perlu mengetahui persoalan yang terjadi di Pasar Setonobetek. Pasalnya, meski sudah beroperasi sejak setahun lalu, kondisi di blok A belum ramai seperti dulu. “Itu yang ingin kami tahu dari pemkot dan pedagang,” ujar perempuan yang akrab disapa Ninik ini.

Untuk itulah, ungkap Ninik, setelah alat kelengkapan dewan (AKD) disahkan, badan musyawarah (bamus) menyusun rencana kerja (renja) bulan ini. Salah satunya adalah mengagendakan hearing Pasar Setonobetek. “Sudah masuk renja,” ungkapnya.

Hanya saja, Ninik belum  bisa memastikan tanggal pelaksanaan hearing yang mengundang pedagang dan PD Pasar itu. Juga, beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dengan Pasar Setonobetek. “Tanggalnya belum ada. Cuma kami pastikan di bulan ini,” tandas politikus Partai Golkar ini.

Apalagi, lanjut dia, sebenarnya komisi B sudah menyiapkan bahan-bahan untuk RDP nanti. Minggu lalu, komisi yang membidangi masalah pembangunan dan keuangan ini baru saja menggelar kunjungan kerja (kunker) ke luar daerah. Sasarannya Kabupaten Sleman dan Kulonprogo.

Di kabupaten yang masuk wilayah Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) itu, kata Ninik, komisinya berdialog dengan dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) setempat. Berbeda dengan Kota Kediri, persoalan pasar di sana memang di bawah koordinasi disperindag.”Kami perlu ada pembanding,” ucapnya.

Menurutnya, ada banyak cara pengelolaan pasar di Sleman dan Kulonprogo yang bisa diadopsi di Kota Kediri. Mulai dari kebersihan, jenis dagangan, hingga manajemen pasar. “Nanti waktu hearing saja pemaparannya. Saat bertemu pedagang dan PD Pasar,” ujarnya.

Untuk diketahui, PD Pasar Jayabaya Kota Kediri memberikan surat peringatan pertama (SP1) kepada 118 pedagang. Terakhir, ada 15 pedagang yang disurati lewat pos pada Selasa lalu (8/10). Peringatan tersebut diberikan karena pedagang belum berjualan sejak setahun lalu. Sehingga banyak kios dan los yang belum buka.

Sofiah, salah satu pedagang gerabah, mengatakan, sebenarnya blok A bisa ramai seperti dulu. Asalkan semua pedagang yang sekarang berjualan di luar dimasukkan ke dalam. Pasalnya, mereka banyak berjualan di tepi jalan. “Di luar-luar masih banyak. Harusnya dimasukkan saja ke sini,” kata perempuan asal Desa Jambangan, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini.

Sebelumnya, pihak PD Pasar sudah merencanakan memasukkan pedagang dari Pasar Setonobetek atau pasar lain di Kota Kediri. Namun, mereka harus mengambilalih dulu kios dan los yang sudah telanjur disewakan kepada pedagang. Setelah SP3, pengambilalihan itu baru bisa dilakukan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia