Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (5)

Dirayu dengan Cerita Orang Miskin Jadi Kaya

12 Oktober 2019, 14: 30: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

rumah ora umum

BARANG BUKTI: Polisi Polres Lumajang saat mengumpulkan barang bukti dari rumah ‘Ora Umum’ beberapa waktu lalu. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Siapa yang tidak tergerak hatinya? Saat mendengar cerita seorang penjual balon di pinggir jalan jadi kaya. Sukses dan punya banyak mobil. Juga cerita tentang tukang cuci piring yang ganti memiliki banyak restoran.

Cerita-cerita seperti itulah yang setiap hampir dua minggu sekali didengarkan oleh Fatah, bukan nama sebenarnya, selama ikut menjadi “rekrutan” bisnis Q-Net. Hingga dia tergiur dan bergabung dengan bisnis model multilevel marketing (MLM) itu.

“Yang diceritakan hanya tentang kesuksesan, kesuksesan, dan kesuksesan. Diceritakan juga dulunya mereka bekerja yang kecil-kecil gitu, Mas, ya kayak bakul etek, tukang cuci, dan banyaklah,” terang Fatah.

Fatah masih mengingat apa saja yang ia dapatkan saat ikut ‘kuliah’ tentang bisnis Q-Net di Rumah ‘Ora Umum’ di Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu. Meski hanya ikut terlibat selama 3-4 bulan, ia merasakan paket lengkap yang dilakukan oleh orang-orang berbaju necis pada setiap Rabu sore, Sabtu pagi, dan Minggu pagi.

Keramaian rumah yang megah itupun sekarang sepi. Pintu tertutup rapat. Tidak ada kegiatan sama sekali yang terlihat dari luar rumah. “Minggu kemarin ini (6/10) ya setelah lihat berita, saya sempatkan lewat, ternyata tutup,” terangnya.

Lelaki yang berdomisili di Kota Kediri itu menjelaskan bahwa sebelum mengikuti presentasi di Rumah ‘Ora Umum’ dia sebelumnya diajak oleh kenalan lamanya. Awalnya, ia diajak makan di warung, di restoran, sembari diceritakan tentang bisnis tersebut.

Fatah tidak pernah ada pikiran sedikitpun untuk bergabung. Karena menurutnya dengan biaya yang pada zaman itu, sekitar 2014, masih tergolong mahal. Yaitu mencapai Rp 6 juta rupiah untuk satu anggota. Namun, karena tingginya intensitas bujukan yang dilakukan temannya itu dia luluh juga. Terlebih ada ‘pemain tambahan’. Dua orang yang dibawa sang teman yang juga ikut merayu. Akhrnya Fatah pun luluh. Kemudian menjadi anggota bisnis tersebut. “Saya ya jujur saja, lama-kelamaan merasa tidak enak,” akunya.

Sebelum menyatakan diri bergabung, Fatah selalu diajak keluar untuk makan di warung atau restoran. Fatah juga berkali-kali didatangi di rumahnya. Dibimbing untuk mempelajari bisnis Q-Net ini. Akhirnya dia pun tertarik dan masuk ke bisnis tersebut.

Dia kemudian diimingi mendapatkan keuntungan secara langsung jika mengajak rekrutan lain di bawah naungannya. “Saya tidak begitu tahu namanya, pokoknya ada kaki kanan, kaki kiri. Itu isinya rekrutan baru yang harus kita ajak untuk mendapatkan keuntungan langsung,” terangnya.

Ia juga dibekali ilmu seperti itu setelah mengikuti training berkali-kali di rumah ‘Ora Umum’. Dengan merogoh kocek Rp 6 Juta, ia pun diberi semacam alat kesehatan yang terbuat dari kaca. “Intinya kita membeli barang, yang pas saat itu seharga paling murah ya kaca biodisc namanya. Setelah itu, otomatis bergabung langsung,” paparnya.

Ada pula barang lain yang harganya jauh di atas piringan kaca yang dijanjikan dapat menetralisir aura negatif dan dapat menyembuhkan segala penyakit itu. Namun, Fatah mengaku hanya mampu membeli biodisc. Karena harga dari barang lain itu mencapai belasan juta rupiah.

Namun, setelah mengikuti kegiatan selama kurang dari empat bulan itu, Fatah menyerah. Ia merasa apa yang dilakukan dan dijanjikan oleh teman dan mentor selama training itu tidak terpenuhi. Ia dijanjikan bahwa akan dibimbing terus hingga sukses dan kaya raya seperti apa yang didongengi oleh para mentor selama presentasi di Rumah ‘Ora Umum’.

Tidak pernah sekalipun janji itu ditepati. Setelah masuk, ia pun mencari rekrutan lain secara sendirian. Kesusahan dan merasa terbuang. Ia merasa di lubuk hatinya bahwa ia dipermainkan. Fatah pun akhirnya mundur secara pelan-pelan dari bisnis tersebut. Dia tidak datang saat kumpul di Rumah ‘Ora Umum’ maupun di tempat lain. Karena menurutnya, apa yang dilakukan oleh para petinggi dan mentor yang sudah memberikan janji itu hanya akan menambah kemalangan terhadap orang lain.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia