Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Agus Santoso, Warga Kandangan Kolektor Uang Lama dan Mancanegara

Mimpinya, ke Eropa Cari Uang sebelum Euro

12 Oktober 2019, 14: 03: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

uang lama

KOLEKSI : Agus Santoso menunjukkan koleksi uang kunonya kepada anak dan keponakannya, kemarin. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Agus punya mimpi, pergi ke benua Eropa. Mencari pecahan uang negara-negara di benua itu. Kemudian mengumpulkannya. Tentu, sebelum mata uang di negara itu  berganti menjadi mata uang Euro.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Agus Santoso beranjak dari tempatnya berdiri. Selang air yang baru saja dia gunakan untuk membasahi jalanan di depan rumahnya dia geletakkan begitu saja. Dia kemudian berjalan ke ruang tamu rumahnya. Mengambil dua album foto ukuran besar. Namun, album foto itu tak berisi gambar-gambar hasil jepretan kamera. Melainkan berisi beragam pecahan mata uang yang tertata rapi.

Uang-uang itu tak hanya dari Indonesia. Dari mancanegara pun ada. Mulai dari daerah Amerika Utara hingga Oceania. Mata uang dari negara yang masih satu benua dikelompokkan tersendiri. Demikian pula deretan uang lama. Ditata tersendiri.

Ya, Agus adalah kolektor uang. Mulai dari kategori uang kuno atau uang mancanegara. Begitu sukanya dia pada aktivitasnya itu wajah lelaki yang beralamat di Dusun Gedangan, Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan itu sangat bersemangat ketika diminta bercerita tentang koleksinya.

Agus menekuni hobinya itu sejak 2010. Dimulai dari ketidaksengajaan. Saat itu dia mendapati ada pecahan uang real, mata uang Arab Saudi, di dompet istrinya. “Uang itu oleh-oleh dari teman istri saya yang bekerja di Arab Saudi,” terangnya.

Agus pun terpesona pada perbedaan uang itu dengan uang rupiah. Rasa kagumnya kian menjadi ketika dia mendapati beberapa lembar uang rupiah lama. Pecahan Rp 500 yang bergambar orangutan dan Rp 1.000 yang bergambar tradisi lompat batu di Nias.

“Sejak saat itu saya mulai semangat mengoleksi (uang),” terangnya.

Saat itu kecanggihan teknologi informasi belum seperti saat ini. Internet belum menjamur seperti sekarang. Karena itu, untuk mendapatkan koleksi uang kuno dan mancanegara dia harus pergi ke sana ke marin. Menghubungi langsung lewat telepon ke teman-temannya yang memiliki.

Kebanyakan dia mendapati uang-uang itu dalam kondisi lepek dan kusam. Sedikit sekali dia mendapatkan uang yang kondisinya lumayan, apalagi bagus. Karena itu dia sering tak jadi membeli uang-uang tersebut karena kondisinya yang tak bagus.

Suatu saat dia bertemu dengan teman sesama pengoleksi uang kuno dan mancanegara. Temannya itu asal Kecamatan Pare. Dari sang teman itulah dia diperkenalkan pada kolektor lain yang ada di luar Kediri. Akhirnya dia bergabung dalam satu grup Facebook.

Hal itulah yang menjadi jalan cepatnya memperbanyak koleksi uangnya. “Mulai dari Papua sampai Sumatera, semuanya ada di dalam grup,” paparnya.

Untuk memuaskan hobinya itu, biaya yang dikeluarkan Agus tergolong mahal. Sejak awal menekuni hobi tersebut sudah puluhan juta rupiah yang dia keluarkan. Rata-rata untuk membeli uang kuno yang dia incar. Juga untuk biaya riwa-riwi mendapatkan uang-uang tersebut.

Saat ini Agus memiliki ribuan pecahan mata uang. Semuanya hanya untuk koleksi. Tak ada niat untuk menjualnya kembali. Bahkan dia bermimpi bisa berkesempatan pergi ke negara lain. Agar bisa mengumpulkan uang dari berbagai negara itu. Salah satu harapannya bisa ke  negara Eropa. “Saya (ingin) cari yang pecahan uang negara Eropa sebelum beralih ke Euro. Tapi ya nanti, masih cita-cita,” ungkapnya

Agus juga tak menjadikan koleksi itu sekadar jadi miliknya sendiri. Karena dia juga memanfaatkannya untuk memberi edukasi pada orang lain. Pada anak sekolah hingga orang tua. Terutama yang datang berbelanja ke tokonya. Kebetulan Agus memang pedagang sembako dan pulsa di rumahnya. Letak tokonya itu tergolong strategis. Berada di belakang salah satu SMK di Kandangan.

Agus juga mendapatkan ide untuk saling belajar tentang uang kuno dan uang dari mancanegara. Ia memberikan sampel uang kuno dan mancanegara asli di etalase toko. Setiap pembeli yang mampir, selalu menatap uang yang mungkin belum pernah diketahui oleh mereka itu. “Banyak yang nanya ke saya pas beli jajan, nanya ini uang asli atau tidak,” terangnya.

Dari situlah ia semakin giat untuk memberikan informasi dan ilmu yang ia dapat selama mengoleksi uang. Membuat rumahnya tidak pernah sepi karena sering dibuat untuk njagong.  Sambil mendengarkan cerita tentang uang yang berada di albumnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia