Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Korban Pembacokan Kertosono Keluar RS

12 Oktober 2019, 10: 08: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

Korban

MEMBAIK: Geischa yang tangan dan punggungnya diperban keluar dari RSUD Kertosono, kemarin. Dia pun bisa beristirahat di rumah selama masa pemulihan. (Geischa for radarkediri.id)

Share this          

LENGKONG, JP Radar Nganjuk- Kondisi Geischa, 18, korban pembacokan anggota perguruan silat di Desa Pelem, Kertosono pada Minggu (6/10) malam lalu semakin membaik. Kemarin dia diperbolehkan pulang ke rumahnya di Desa Kedungmlaten, Lengkong, oleh pihak pihak RSUD Kertosono.

Suparyo, 45, ayah Geischa mengungkapkan, meski anaknya sudah diperbolehkan pulang, jahitan pada luka di punggung dan tangan pelajar SMK itu belum dilepas. “Tanggal 16 (Oktober, Red) nanti kontrol ke RSUD Kertosono,” ujarnya. 

Pantauan koran ini, pemuda yang dikeroyok dan mengalami luka bacok di punggung dan tangan kanannya itu masih terbalut perban. Bahkan, tangan kanannya juda digips. Sebab, punggung tangannya yang tersabet senjata tajam (sajam) itu retak. Yakni pada jari telunjuk, tengah, dan manis.

Kemarin siang Geischa juga mulai bisa mengangkat tangannya. Demikian juga menggerakkan jari telunjuknya ke atas dan ke bawah secara perlahan. Adapun jari tengah dan jari manis hanya bisa digerakkan ke bawah. Ia mengaku masih kesulitan untuk mengkoordinasikan syarafnya.

Sementara itu, meski sudah pulang dari rumah sakit. Geischa belum bisa kembali ke bangku sekolah. “Masih melihat dulu kondisinya nanti. Yang pasti harus antar-jemput,” terang Suparyo yang mengaku khawatir anaknya akan tertinggal pelajaran.

Terpisah, Polres Nganjuk mengaku melanjutkan pengusutan kasus pengeroyokan yang menyebabkan dua pemuda mengalami luka bacok dan dua lainnya luka memar itu. Meski demikian, mereka harus berhadapan dengan fakta minimnya saksi dan bukti yang menjadi hambatan pengungkapan.

Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan menjelaskan, saksi yang diperiksa kesulitan mengidentifikasi pelaku. “Para pelaku menggunakan pakaian bebas. Tidak ada atribut yang dibawa. Korban juga kesulitan mendeskripsikan kelompok penyerang tersebut,” papar Nikolas.

Tantangan lainnya, kejadian berlangsung pada kondisi gelap. Sehingga, proses identifikasi kelompok pelaku yang diduga kuat dari salah satu perguruan silat ternama itu menjadi lebih sulit lagi.

Belum lagi, kejadian berdarah tersebut terjadi dalam situasi yang relatif singkat. “Kejadian begitu cepat. Kick and run istilahnya. Dibacok lalu lari,” imbuh perwira dengan pangkat dua balok di pundak tersebut.

Meskipun belum ada yang dijadikan tersangka, pihaknya menduga kuat bahwa kelompok pengeroyok tersebut sebagian berasal dari Jombang. Pasalnya pada sore harinya sempat terjadi penganiayaan yang dialami oleh Veliyono, 23, asal Desa Mangunan, Kabuh, Jombang.

Hal itu yang menjadi pemicu aksi lebih besar pada malam harinya. Teman Veli yang tidak terima dengan kejadian tersebut diduga kuat melakukan balas dendam.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia