Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (4)

Polisi Datang Lagi, Penghuni Tak Temui

11 Oktober 2019, 18: 47: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

ora umum q net

HIJAU: Salah satu taman di dalam rumah ‘Ora Umum’. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

  Selama bertahun-tahun pemilik rumah Ora Umum tak pernah menjalin komunikasi dengan pengurus RT setempat. Namun, kali ini sang ketua RT itu yang harus bolak-balik ke rumah tersebut. Mengantarkan polisi yang ingin melakukan penggerebekan.

Hingga seminggu setelah penggerebekan oleh Tim Cobra Polres Lumajang, suasana rumah ‘Ora Umum’ seperti tak ada kegiatan sama sekali. Beberapa kali sempat ada mobil yang berhenti di halaman. Namun, sang pengemudi hanya memandangi saja rumah dengan tulisan welcome home dari bebatuan itu. Setelah itu mereka beranjak pergi lagi.

Tidak ada lagi aktivitas kumpul-kumpul yang biasa berlangsung di Rabu dan Minggu. Tidak ada lagi parkir mobil yang jumlahnya bisa mencapai belasan atau puluhan. “Nihil Mas, nggak pernah ada lagi semenjak digrebek,” terang Agus Santoso, ketua RT 02 RW 03 Desa Titik, Kecamatan Semen, wilayah di mana rumah itu berada.

Justru, Selasa (8/10) sore, Agus kembali didatangi anggota polisi dari Polres Lumajang. Kali ini polisi mengajak Agus untuk mendatangi rumah ‘Ora Umum’. Mereka akan melakukan penyelidikan lanjutan.

Agus pun mengekor sang polisi. Bersamanya juga ada bhintara pembina keamanan dan keterbiban masyarakat (bhabinkamtibmas) Polsek Semen. Namun pintu rumah mili pria bernama Tobing itu tidak kunjung dibukakan. “Ada kali, Mas¸saya dan polisi nunggu di depan pintu sepuluh menit lebih. Saya tidak tahu tapi ada penyelidikan apa lagi,” terang pria 49 tahun itu.

Setelah itu, Agus bersama polisi meninggalkan rumah itu. Agus juga dimintai tolong untuk memberikan surat pemanggilan terhadap beberapa nama yang ditunjuk oleh Polres Lumajang.

Sembari mengingat-ingat, Agus menjelaskan bahwa sebelum ada peristiwa penggerebekan seperti ini, dia hampir tidak pernah berhubungan langsung dengan penghuni rumah. Baik dengan sang pemilik, Tobing, maupun dengan para pekerjanya.

“Saya hampir tidak pernah ada kontak dengan mereka. Mereka juga hampir tidak pernah mencari saya. Sekarang setelah ada peristiwa penggerebekan, saya jadi berhubungan dengan mereka. Lha saya saja tidak tahu siapa saja yang ikut,” ujarnya sembari tertawa kecil. Agus memang dimintai tolong untuk memberikan surat pemanggilan terhadap beberapa nama. Namun ia tidak ingat ada nama warga desa  lain yang ia ceritakan tadi.

Agus menjelaskan, dia melihat ada warga desa lain di Kecamatan Semen yang bekerja sebagai pengurus kebun di rumah ‘Ora Umum’ tersebut. Itu diketahuinya  saat penggerebekan Kamis (3/10) sore. Sedangkan para pekerja lain, ia tidak mengerti dari mana saja asalnya.

Agus mengaku prihatin dengan kondisi yang melilit rumah ‘Ora Umum’ itu. Menurutnya, jika para penghuni itu tidak merasa salah, seharusnya tidak perlu menutup akses jika ada petugas yang datang dan memintai keterangan saja.

“Lha saya, tidak merasa bersalah, dimintai tolong untuk ikut sebagai saksi saat penggeledahan.  Hingga sampai malam hari dimintai keterangan di kepolisian juga saya lakukan.  Lha wong memang saya tidak merasa salah. Saya hanya menjelaskan apa yang saya tahu dan tidak akan bicara apa-apa tentang yang tidak saya ketahui,” pungkasnya. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia