Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Wiwid dan Pongki, Dua Pilot Paramotor Kediri

Terbang di Atas Awan antara SLG dan Pare

10 Oktober 2019, 14: 24: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

paramotor kediri

PERSIAPAN: Pongki (kiri) dan Wiwid mengecek kondisi paramotor sebelum digunakan terbang di wilayah Tulungagung. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

 Menikmati pemandangan dengan cara berbeda. Itulah yang menjadi semboyan Wiwid dan Pongki. Keduanya terbiasa memandang indahnya daratan dari udara. Tapi, bukan dengan pesawat terbang atau helikopter. Tapi dengan mengendarai paramotor!

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Terbang menggunakan paramotor, mungkin, menjadi hal menegangkan bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi pemilik nama lengkap Agus Widodo dan Pongki Rizal Dwipoyono ini. Kedua orang tersebut justru menjadikan kegiatannya itu sebagai hobi. Menikmati keindahan dunia dari udara.

Lalu, apa itu paramotor?  Moda transportasi yang mereka gunakan untuk memuaskan hobinya itu? Saat ditemui kemarin sore (9/10), keduanya terlihat sibuk dengan benda tersebut. Berada di bengkel servis mobil di Jalan Sunan Ampel gang 2 Kota Kediri, Widodo merapikan tali webbing di bagian tempat duduk. Sementara Pongki menyeting bagian rangka paramotor. Rencananya, paramotor itu akan mereka gunakan terbang hari ini di daerah Ngantru, Kabupaten Tulungagung.

“Tiga bulan ini angin di Kediri sangat kencang,” urai Wiwid menjelaskan alasan kenapa mereka akan terbang di daerah Tulungaung, bukan di wilayah Kediri.

Wiwid dan Pongki merupakan penghobi paramotor. Olahraga sejenis paralayang, namun menggunakan mesin untuk menerbangkannya. Keduanya sudah memiliki lisensi untuk olahraga jenis ini. Dan telah masuk anggota Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

Wiwid mengaku bahwa hobi itu tak lepas dari hobi pertama mereka, yakni paralayang. Ia menyebut, olahraga paralayang paling dekat adalah di Kota Batu. “Karena sibuk dan waktu tidak memungkinkan karena bekerja jadi cari alternatif menggunakan paramotor ini,” terang pria asal Desa Paron, Kecamatan Ngasem tersebut.

Hobi ini diawalinya pada 2014 silam. Bersama rekannya, Pongki, Wiwid mulai mencoba terbang di langit Kediri. Awalnya bukan menggunakan power paragliding jenis whell launch seperti saat ini. “Dulu dengan foot launch. Jadi mesinnya digendong dan kita mengandalkan kaki untuk landing,” jelas pria 49 tahun ini.

Tentu, dalam lima tahun ini sudah banyak pengalaman yang ia rasakan selamamenggeluti hobi pemacu adrenalin ini. Salah satunya adalah ketika menyeberangi Selat Sumbawa yang jaraknya 22 kilometer! Bahkan dalam agenda tersebut, Wiwid mengatakan mengalami tiga kali mesin mati di udara. “Itu disebabkan air laut yang menguap dan terkena mesin. Dan itu terjadi di tengah laut,” ingatnya.

Saat kejadian mati mesin di udara itu, Wiwid sudah tertinggal dengan rombongan sekitar 15 menit. Dengan total jarak 7 kilometer, dia sempat akan landing di salah satu pulau tak berpenghuni. Namun, takdir berkata lain, setelah akan landing, ternyata mesin paramotor yang digunakannya bisa hidup lagi. “Rasanya menegangkan tapi seru. Dan itu menjadi pengalaman yang luar biasa,” imbuhnya.

Kegiatan rutin mereka adalah melakukan latihan satu minggu sekali. Kalau di Kediri, biasanya dilakukan di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) dan juga di daerah Pare.

Yang sering melakukan penerbangan di Pare adalah Pongki. Tepatnya di Lapangan Pogar, Desa Bringin. Selain SLG, lokasi tersebut menjadi lokasi favorit untuk melakukan penerbangan.

“Apalagi kalau musim penghujan. Terbang pagi hari, udaranya termal. Jadi kondisi angin lebih stabil,” terang Pongki.

Keunikan paramotor ini dibanding paralayang adalah cara mengendalikannya yang bisa fleksibel. Jika paralayang hanya mengandalkan arah angin, paramotor ini bisa dikendalikan sesuka pilot. Bahkan pada olahraga ini juga ada istilah cross country. Yakni berpindah dari satu daerah ke daerah lain.

“Kami pernah terbang dari SLG menuju Pare. Dan kebetulan dapat pemandangan awan yang begitu bagus,” akunya.

Pongki menyampaikan, saat itu ia terbang bersama tiga orang lainnya. Wiwid salah satunya. Sementara dua lainnya adalah anggota dari Tulungagung dan putra Wiwid. Mereka juga telah memiliki izin terbang.

Saat itu kondisi langit Kediri berawan. Dan itu yang membuatnya ragu pada awalnya. Apakah awan tersebut tebal atau tidak. Jika awan tebal, tentu penerbangan tidak bisa dilakukan di atasnya. Namun ternyata kondisi awan tersebut tipis maka ia mengaku serasa berada di negeri atas awan.

“Pemandangan di atas awan itu merupakan sensasi yang jarang kita temui. Ada ruang kosong di antara awan-awan, dan itu sangat indah,” ungkapnya.

Tentu saja Pongki menyampaikan bahwa dengan hobi ini mereka bisa melihat dunia dari sudut lain. Merasakan sensasi melihat pemandangan alam dengan cara berbeda. Menikmati suasana dan keindahan alam yang memesona.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia