Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sutiwo Mengaku Pernah Diancam Vicky

Sering Minta Uang untuk Gugurkan Kandungan

10 Oktober 2019, 13: 40: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

Sutiwo

BERI KESAKSIAN: Terdakwa pembunuhan Vicky Febrin Piawai memberikan keterangan di depan majelis hakim, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sidang lanjutan kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai, 28, asal Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk kembali digelar kemarin. Sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa Sutiwo itu mengungkap fakta kedekatan keduanya. Termasuk pengakuan Sutiwo tentang ancaman dari Vicky.

Di depan majelis hakim, Sutiwo yang juga anggota Satlantas Polres Nganjuk itu mengaku mengenal Vicky selama tujuh bulan. Vicky terjaring razia karena kedapatan tak membawa surat tanda nomor kendaraan (STNK). “Setelah itu sering WA (WhatsApp, Red). Korban (Vicky, Red) mengajak keluar jalan-jalan,” ujar pria asal Kelurahan Kapas, Sukomoro tersebut.

Meski mengaku tidak berpacaran dengan Vicky, Sutiwo mengaku kerap pergi bersama. Bahkan, keduanya pernah melakukan hubungan intim dua kali di salah satu hotel di Sukomoro. “Tidak menginap. Hanya dua jam (sewa hotel, Red),” aku Sutiwo.

Grafis

(Grafis Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Setelah persetubuhan itu, menurut pengakuan Sutiwo dirinya dimintai uang oleh Vicky. Masing-masing Rp 500 ribu dan ditambah Rp 300 ribu. Setelah beberapa bulan tak bertemu, Vicky kembali menghubungi Sutiwo dan mengajak bertemu.

Saat itu, Vicky mengaku sedang hamil satu bulan. “Korban minta uang Rp 2,5 juta untuk menggugurkan kandungan,” terang Sutiwo sembari mengaku dirinya langsung menyerahkan uang selang sehari kemudian.

Tak cukup sekali. Sutiwo menyebut Vicky kembali meminta uang untuk menggugurkan kandungan. Kali ini Sutiwo memberi uang Rp 1,5 juta sebanyak dua kali.

Karena tidak berhasil menggugurkan kandungannya, Vicky kembali meminta uang Rp 2,5 juta. Terakhir Sutiwo memberi uang sekitar Rp 2 juta. Permintaan uang yang terus menerus ini membuat polisi itu merasa diperas.

Apalagi, setelah kejadian itu Sutiwo mengklaim Vicky mengancam dirinya. Yaitu, akan melaporkannya ke Polres Nganjuk. “Dia (Vicky, Red) mau lapor ke kantor dan terus minta uang,” dalihnya di persidangan.

Tak hanya itu, menurut Sutiwo suatu kali Vicky pernah menyampaikan ancaman yang ditujukan untuk keluarganya. “Kalau tidak kena luar, kena dalam,” tandas Sutiwo menirukan ucapan Vicky saat itu.

Dalam kondisi bingung dan kalut, Sutiwo bertemu Supriyadi yang juga petugas sipil di satlantas. Setelah didesak, dia menceritakan masalahnya kepada Supriyadi sembari menunjukkan foto Vicky.

Ternyata pria yang kini jadi buron polisi itu mengenal Vicky. Dari percakapan itu lantas terjadi pembunuhan pada Jumat (29/3) lalu itu. Di depan majelis hakim, Sutiwo menyebut Supriyadi membunuh Vicky dengan cara memitingnya dari belakang.

Saat kejadian, Sutiwo mengaku keluar dari mobil. Sebab, dia tengah menerima telepon dari istrinya. Dengan jarak sekitar tiga meter, dia mendengar teriakan kesakitan dari perempuan berambut lurus itu.

Melihat Vicky tak sadarkan diri, Sutiwo bingung dan panik. Apalagi, setelah dipiting, Vicky juga dicekik menggunakan tali tasnya. “Ada keluar darah dari hidungnya,” beber Sutiwo.

Terakhir, Supriyadi membuang tubuh Vicky ke tepi jalan. Dua minggu setelah kejadian tersebut, Sutiwo menyerahkan diri ke polisi. “Saya mengaku bersalah. Saya juga menyesal,” tuturnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia