Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (2)

Tetangga Hanya Ketemu saat Boyongan

09 Oktober 2019, 15: 26: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

ora umum q net

SEPERTI TAMAN: Salah satu sudut di rumah ‘Ora Umum’ saat penggerebekan beberapa waktu lalu. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Setelah rumah megah yang dibangun selesai pada 2004, pemilik rumah ‘Ora Umum’ mengundang para tetangga barunya ke rumah. Selain berkenalan, saat itu sang tuan rumah memberi para tetangga itu sembako dan alat tulis. Setelah itu tetangga tak pernah lagi ketemu sang pemilik rumah.

Warga sekitar rumah ‘Ora Umum’ mengenal pemilik rumah mewah di Jalan Argowilis tersebut dengan panggilan Tobing. Namun mereka tak tahu apakah panggilan itu merupakan nama atau hanya sekadar sapaan. Mereka juga tak tahu nama lengkap sang pemilik rumah yang asal Trenggalek tersebut.

Namun, para tetangga juga punya memori bagus dengan Tobing. Tepatnya saat baru pindahan pada 2004 silam. Saat berkenalan dengan para tetangga sang pemilik rumah juga memberikan santunan kepada yang kurang mampu. Berupa sembako dan alat tulis.

“Pertama kali (masuk) ke dalam rumah ya (saat) itu saja, Mas,”  aku Siti, tetangga rumah ‘Ora Umum’ saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Siti kemudian mengingat-ingat, saat itu antara tahun 2004-2005. Sebagai pendatang baru Tobing mengajak warga desa untuk berkenalan. Bagi para warga desa yang kurang mampu, Tobing memberikan mereka sembako dan peralatan tulis seperti pensil dan buku.

Siti mengingat jelas, ia hanya bertemu satu kali itu saja. Ia dan anaknya, yang saat itu datang karena diundang, diberikan sembako dan peralatan tulis. Yang akhirnya peralatan tulis itu digunakan oleh anak Siti untuk kegiatan belajar di sekolah. “Setelah itu, saya nggak pernah bertemu lagi,” terang Siti

Bahkan, Siti juga mengingat bahwa wajah Tobing seperti orang yang masih berumur 25-30-an waktu itu. Kini, setelah belasan tahun terlewati, tentu ada perubahan. Namun Siti tidak mengetahuinya karena memang ia tidak memiliki kesempatan bertemu lagi dengan Tobing. “Ya enggak setua saya, to Mas,” imbuhnya dengan nada bercanda.

Ia juga menceritakan betapa mewahnya rumah ‘Ora Umum’ saat itu. Meskipun para tetangga yang diundang hanya berada di halaman saja, Siti bisa melihat seperti apa kemewahannya. Ruangan-ruangan yang ada di rumah itu dia gambarkan sangat megah. Di balik pintu besi hitam terdapat beberapa bangunan selain rumah induk. Yang paling ia ingat adalah dari bangunan-bangunan tersebut banyak yang dilapisi kaca. Sehingga, menurut Siti, bisa melihat ke dalam rumah.

“Masih baru, dulu banyak kacanya. Jadi bisa melihat ke dalam rumah. Apa kalau sekarang masih banyak kacanya ya Mas?” Siti balik bertanya.

Memang gambaran yang diingat siti belasan tahun lalu tidak banyak berubah. Ada dua bangunan selain rumah induk di balik pintu hitam besi. Bangunan tersebut banyak yang menggunakan kaca besar sebagai estetika rumah. Dari luar bangunan itu bisa terlihat perabotan yang ada. Saat itu, Kamis (3/10), bangunan itu terlihat kosong karena para sedang dimintai keterangan oleh Tim Cobra Polres Lumajang.

Siti juga tahu di rumah ‘Ora Umum’ juga dijadikan tempat pertemuan atau tempat rapat. Hanya, rapat yang seperti apa Siti tidak bisa menjawab. Sama seperti warga-warga lain di sekitarnya, ia juga tidak mengetahui bisnis persis yang dilakukan saat ada perkumpulan atau rapat.

Namun, Siti tidak menyangkal bahwa ia pernah mendengar sebutan rumah milik Tobing adalah Rumah Ora Umum. “Warga sekitar ya tahunya itu, Mas, kebanyakan,” terangnya.

Siti juga bercerita bahwa ia tahu beberapa waktu lalu ada penggerebekan oleh kepolisian di Rumah Ora Umum. Karena rasa penasaran, Siti berusaha mendapatkan informasi tentang penggerebekan itu. “Setelah digrebek, pintunya tutupan terus, Mas,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia