Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Cerita Perantau asal Nganjuk yang Pulang Pasca-Kerusuhan Wamena

Pilih Tetap Jaga Toko meski Waswas

09 Oktober 2019, 15: 04: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

LELAH: Puluhan perantau Wamena bersiap menuju rumah singgah Senin (7/10) lalu usai mendapat pengarahan di kantor dinsos PPPA Nganjuk. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kepulangan 29 perantau Nganjuk dari Wamena Senin (7/10) dini hari lalu, sekaligus membawa kisah seputar kerusuhan yang terjadi di Bumi Cenderawasih itu, September silam. Meski selamat dari amuk massa, tak urung mereka sempat merasa ketakutan dan waswas seperti halnya warga pendatang lainnya.

REKIAN. Nganjuk, JP Radar Nganjuk  

Jarum jam menunjukkan pukul 00.00 Senin (7/10) dini hari lalu. Tiga unit mobil yang membawa rombongan perantau Nganjuk di Wamena, memasuki halaman kantor Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Nganjuk di Jl Supriyadi. Sejurus kemudian, puluhan pemuda masuk ke dalam aula.

Rasa lelah tergambar jelas di wajah mereka. Dengan mata yang memerah, mereka berjalan agak sempoyongan. Meski demikian, para pemuda itu berusaha menyimak penjelasan Kadinsos PPPA Nafhan Tohawi yang pagi itu memberikan pengarahan. “Masih mabuk laut,” sahut salah satu perantau saat memasuki aula dinsos PPPA.

Sekitar 30 menit berada di sana, total 29 pemuda yang merantau ke Wamena, Papua itu lantas dibawa ke rumah singgah dinsos PPPA di wilayah Kecamatan Nganjuk. Setibanya di rumah yang menjadi tempat penampungan anak-anak yang bermasalah dengan hukum itu, mereka bisa sedikit beristirahat.

Sembari mengonsumsi nasi yang disiapkan dinsos, para perantau itu melepas lelah sembari berbagi cerita. “Kemarin itu (akhir September lalu, Red) suasananya memang mencekam,” ujar M. Agus Faikur Rodli membuka kenangan tentang kerusuhan di Wamena.

Saat itu, Agus, demikian dia biasa disapa, tengah berada di toko sembako tempat mereka bekerja. Tiba-tiba saja, banyak orang dari luar Wamena yang datang ke sana dengan memakai seragam sekolah.

Saking banyaknya orang yang datang, pemuda berusia 22 tahun itu tidak bisa lagi membedakan mana warga pendatang dan warga asli Wamena. Hanya dalam hitungan jam setelah kedatangan orang-orang berseragam sekolah itu, kekacauan langsung terjadi.

Banyak bangunan, rumah, dan toko yang dijarah. Pemuda yang baru tiga bulan bekerja di Wamena ini pun merasa ketakutan. Waswas. Sebab, korban yang disasar adalah para pendatang. “Waktu itu kami sudah siap dengan segala risiko,” kenangnya. 

Beruntung, toko sembako tempat bekerja puluhan warga Nganjuk itu selamat dari amuk massa. Dalam situasi yang tidak menentu itu, mereka memilih untuk tetap menunggu toko. “Semuanya tetap di toko,” imbuhnya.

Mereka bergeming meski banyak perantau lain memilih mengungsi. Mulai mendatangi markas komando distrik militer (kodim) hingga mendatangi kepolisian resor (polres) setempat.

Melihat kekacauan yang terjadi, pemilik toko sembako berinisiatif untuk menyumbangkan sembako mereka kepada pengungsi. “Toko kami jadi penyumbang pertama,” tuturnya.

Belakangan, warga asli Wamena justru berinisiatif untuk ikut menjaga toko sembako tersebut. Agus bersama teman-temannya saling jaga bergantian dengan warga setempat.

Beberapa hari berselang, rupanya kondisi Wamena tetap belum kondusif. Khawatir dengan keselamatan puluhan pekerja yang semuanya perantau asal Nganjuk itu, sang pemilik toko memerintahkan agar Agus dan teman-temannya pulang ke Nganjuk. “Kami diberi kabar (untuk pulang, Red) pagi. Mendadak. Tidak ada persiapan,” urai pria berambut ikal ini.

Hanya dalam hitungan jam, mereka sudah harus tiba di bandara. Sempat menginap sehari di Jayapura, puluhan pemuda itu pulang ke Jawa dengan menumpang kapal pada Rabu (2/10) lalu. Membawa perlengkapan seadanya, mereka menempuh perjalanan selama lima hari.

Bersama puluhan perantau Wamena lainnya asal Jatim, rombongan tiba di pelabulan Tanjung Perak Surabaya sekitar pukul 20.30. “Kami bersyukur bisa selamat dan pulang kembali ke Nganjuk,” beber Agus sembari menyapu pandang ke arah teman-temannya yang lesehan di rumah singgah.

Apakah dia masih ingin kembali ke Wamena? Ditanya demikian, bungsu dari lima bersaudara itu cepat menganggukkan kepalanya. Setelah suasana Wamena kembali aman, dia dan teman-temannya akan kembali ke sana. Alasannya satu, Agus telanjur kerasan bekerja di sana. “Di sini juga belum tentu punya pekerjaan,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia