Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Stasiun Baron Hanya untuk KA Lokal

Jajaki Pembuatan Jalur Pendek untuk Nganjuk

09 Oktober 2019, 14: 58: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

KA

WAJAH BARU: Stasiun Baron selesai dibangun oleh Kementerian Perhubungan beberapa bulan lalu. Bangunan anyar itu belum bisa dimanfaatkan maksimal karena tidak ada KA lokal di Nganjuk. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Pembangunan stasiun Kereta Api (KA) Baron yang sudah tuntas beberapa bulan lalu. Sayangnya, bangunan megah itu kini belum difungsikan untuk naik atau turun penumpang. Melainkan, hanya sebagai tempat perlintasan saja.  

Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun Ixfan Hendriwintoko mengungkapkan, tidak semua stasiun bisa melakukan operasional yang sama. Melainkan, sesuai kelas masing-masing.

Ixfan menuturkan, total ada tiga tipe stasiun. Yaitu, tipe A, B, dan C. “Khusus di stasiun KA Baron ini tipenya C,” ujar Ixfan. Sesuai peraturan, stasiun tersebut masuk kategori stasiun kelas tiga dengan sistem persinyalan elektrik.

Dengan kelas tersebut, operasional stasiun Baron khusus untuk KA lokal. Dia lantas mencontohkan stasiun lain dengan tipe sama hanya bisa mengangkut penumpang KA lokal. Misalnya, Surabaya-Malang.

Adapun di Nganjuk, tutur Ixfan, hingga saat ini belum ada KA lokal yang beroperasi. Karenanya, stasiun Baron dan stasiun lain dengan tipe sama di Nganjuk, tidak bisa mengangkut atau menurunkan penumpang.

Idealnya, tutur Ixfan, stasiun KA Baron bisa difungsikan untuk KA lokal yang beroperasi dari Kertosono sampai ke Solo. “Kami dari PT KAI sangat support bila semua stasiun kelas 3 ini dimanfaatkan untuk stasiun lokal,” lanjutnya.

Dikatakan Ixfan, selama ini stasiun kecil hanya dijadikan sebagai tempat pemberhentian saat persilangan saja. Selebihnya, stasiun kelas III tersebut hanya dilewati KA.

Lebih jauh Ixfan menuturkan, ada tiga konsep yang bisa diterapkan untuk mengoperasikan stasiun yang baru. Pertama, stasiun rintisan. “Pemanfaatan stasiun ini nanti akan dilaksanakan seluruhnya oleh pemerintah,” terang Ixfan.

Yang kedua, operasional KA lokal sebagian akan disubsidi oleh pemerintah. Konsep ini menurut Ixfan sudah banyak diterapkan daerah. Terutama di sejumlah kota besar. “Kami sangat mendukung jika Pemkab Nganjuk melaksanakan metode kedua ini,” tandasnya.

Pemkab Nganjuk, beber Ixfan, bisa berkomunikasi dengan pemerintah daerah lainnya. Di antaranya, Pemkot dan Pemkab Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi dan daerah lain untuk membahasnya bersama.

Adapun konsep ketiga adalah komersil. Khusus untuk skema ini, kendalanya menurut Ixfan adalah lokasi yang belum steril. “Lokasinya belum tertutup. Keselamatan dan kondisi penumpang adalah pelayanan utama bagi PT KAI,” tuturnya.

Untuk operasional stasiun tersebut, Ixfan mempersilakan warga untuk mengusulkan ke pemerintah daerah. Selanjutnya, pemkab bisa melakukan survei pasar untuk mengetahui volume penumpang yang baik dan turun di stasiun Baron.

Seperti diberitakan, dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pembangunan stasiun KA Nganjuk yang terintegrasi dengan mal dan hotel di Bandung, Jawa Barat akhir September lalu, PT KAI tengah mengkaji kemungkinan membuatkan jalur pendek untuk wilayah Kota Angin. Beberapa jalur yang bisa menjadi alternatif menurut Bupati Novi Rahman Hidhayat adalah Surabaya-Nganjuk dan Malang-Nganjuk. “Nanti ada KA lokal,” ujar Novi.

Untuk kepastian pembuatan jalur pendek khusus KA lokal itu, tutur Novi, Pemkab Nganjuk dan PT KAI akan kembali menandatangani nota kesepahaman. “MoU-nya nanti menyusul,” tegasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia