Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Menelisik Rumah ‘Ora Umum’ yang Lekat dengan Bisnis Q-Net (1)

Orang Tahunya Rumah Ora Umum....Ora Umum....

08 Oktober 2019, 17: 30: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

qnet amoeba

RUMAH MEWAH: Suasana penggerebekan yang dilakukan Polres Lumajang di Rumah ‘Ora Umum’ Kamis (3/10) lalu. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Imam selalu melewati rumah mewah yang biasa disebut sebagai rumah ‘ora umum’ itu. Pasalnya, Imam adalah warga Kecamatan Semen. Setiap kali berangkat ataupun pulang kerja pandangannya tak lepas dari rumah itu. Dan, setahu Imam, seminggu sekali rumah itu selalu didatangi banyak orang dengan pakaian yang  perlente.

Sudah hampir satu minggu, rumah ‘Ora Umum’ tertutup rapat. Seolah tidak ada kegiatan di dalam bangunan yang terletak di selatan Jalan Argowilis, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu. Padahal, tidak biasanya rumah besar tersebut sepi dari aktivitas.

Meskipun sangat menyolok mata karena kebesaran dan kemegahannya, warga sekitar tak banyak tahu apa aktivitas yang terjadi di dalam rumah itu. "Yang saya tahu, hanya kapan hari itu digerebek polisi, Mas," kata Yoyok, seorang warga Kecamatan Semen, sembari mengutak-atik peralatan elektronik di tangannya.

Pria paro baya yang saat ditemui itu bertelanjang dada karena panasnya terik mentari, mengaku tak pernah ikut campur dengan kegiatan orang di rumah ‘Ora Umum’. Dia mengaku tak tahu-menahu apa permasalahannya sehingga polisi datang menggeledah rumah tersebut. Yang dia tahu Kamis (3/10) rumah itu diperiksa polisi.

“Saya pas lagi keluar (waktu itu). Malamnya pas saya balik lagi, di depan rumah itu ada banyak mobil. Saya tanya teman katanya ada polisi datang,” terangnya  saat ngobrol di salah satu warung kopi di dekat lokasi tersebut.

Tapi Yoyok ingat betul setelah kasus penggerebekan itu suasana rumah seperti berbalik 180 derajat. Kalau sebelumnya sering ada keramaian dengan datangnya tamu-tamu ke rumah itu, kini menjadi sepi. Tidak ada lagi aktivitas seperti sebelum-sebelumnya. “Hari minggu yang lalu (sebelum penggerebekan, Red) masih banyak mobil-mobil yang parkir. (Hari Minggu) kemarin sepi Mas,” terangnya lagi.

Yoyok memang tak tahu apa saja kegiatan orang-orang yang datang ke rumah ‘Ora Umum’ itu. Namun, yang tidak bisa dia lupakan adalah gaya para tamu itu. Dia selalu melihat orang yang keluar dari mobil dan masuk ke rumah ‘Ora Umum’ semuanya perlente. Berpakaian rapi. Baik celananya, kemejanya, atau asesoris lainnya. Semuanya terlihat orang berada.

Bahkan, hampir selalu mereka yang datang itu berombongan. Yoyok memang tak ingat persis jumlahnya. Tapi, seingatnya hampir selalu berjumlah belasan orang setiap rombongan.

Imam, yang juga warga Semen, punya kenangan tersendiri tentang rumah ‘Ora Umum’ itu. Yang baru dibangun pada 2004. “Kalau tidak salah 2004-2005-an lah Mas,” terangnya.

Lelaki ini juga menerangkan, pemilik rumah bukanlah warga asli Semen. Walaupun tak mengenal secara langsung tapi Imam mendengar nama pemilik rumah itu adalah Tobing. Sebelum berdomisili di tempat itu Tobing kabarnya adalah warga Trenggalek.

Tanah tempat berdiri rumah ‘Ora Umum’ itu awalnya lahan persawahan. Lahan di seberang selatan jalan itu dibeli Tobing pada sekitar tahun 2003. Setelah itu dibangunlah rumah besar. Yang kini terkenal di kalangan masyarakat sebagai rumah ‘Ora Umum’ itu.

Kenapa disebut rumah ora umum? Imam hanya tertawa lepas. “Orang-orang tahunya ora umum..ora umum...gitu Mas,” jawabnya masih dengan tertawa.

Tapi Imam sedikit tahu bahwa sebutan ora umum itu terkait dengan bisnis yang dijalankan di rumah itu. Yang sering menggunakan istilah ora umum di setiap kali kegiatan. Hanya, dia tak bisa bercerita panjang lebar tentang bisnis di dalam rumah tersebut. Karena dia juga tak pernah mengikutinya. Kabarnya, bisnis rumah ‘Ora Umum’ adalah mengajak orang bergabung.

“Saya nama (bisnis)-nya tidak tahu. Tapi kalau caranya kalau tidak salah, yang sudah ikut harus mengajak teman yang banyak untuk bergabung. Semakin banyak yang gabung katanya semakin banyak untungnya Mas,” terangnya.

“Tapi saya nggak tahu soalnya nggak ikut gituan,” ucapnya buru-buru menyambung.

Imam mengatakan, karena warga Semen, dia selalu melewati rumah itu. Dan setiap seminggu sekali dia melihat banyak kegiatan di rumah tersebut.

"Rapat kayaknya Mas. Banyak yang pakai baju baju rapi soalnya. Tapi nggak tahu juga ya," sebutnya.

Sementara itu, hingga kemarin, pintu rumah yang terbuat dari besi berwarna hitam itu masih tertutup rapat. Rumah yang kian terkenal setelah polisi dari Polres Lumajang menggerebek pada Kamis (3/10) lalu itu. Polisi menggeledah rumah ‘Ora Umum’ terkait dugaan penipuan dengan tameng bisnis Amoeba Internasional. Dalam penyelidikannya, Polres Lumajang melihat ada keterkaitan antara PT Amoeba Internasional dengan Q-Net. Nah, Q-net tersebut pusat operasinya di rumah ‘Ora Umum’ tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia