Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Events

Germas Award 2019: Sekarang Bekerja Lebih Fresh

08 Oktober 2019, 17: 19: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

germas award 2019

HIDUP SEHAT: Tim juri Germas Award melakukan penjurian lapangan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Kediri, kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Kesadaran para pimpinan instansi di lingkup Pemkot Kediri terhadap kesehatan tim kerjanya relatif cukup tinggi. Setidaknya, itu tercermin dari penjurian tahap kedua Gerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (Germas) Award 2019, kemarin. Mereka sepakat, kesehatan akan berpengaruh pada produktivitas kerja.

Karena itu, sejumlah upaya mereka lakukan. “Di tempat kami, pemeriksaan kesehatan terhadap staf dilakukan rata-rata tiga bulan sekali,” ujar Camat Pesantren Eko Lukmono Hadi yang kemarin mendapat giliran pertama dinilai.

Untuk diketahui, penilaian tahap kedua event yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri bersama Jawa Pos Radar Kediri ini dilakukan terhadap peserta yang lolos tahap pertama. Yaitu, seleksi kuesioner. Tahap kedua dimaksudkan untuk mengecek sekaligus memperdalam isian kuesioner di lapangan. Penjurian melibatkan unsur dinkes, JP Radar Kediri, dan akademisi dari IIK Strada.

Germas Award 2019

Germas Award 2019 (radarkediri.id)

Eko menjelaskan, pemeriksaan kesehatan itu bekerja sama dengan puskesmas di wilayahnya. Teknisnya, staf kecamatan datang ke puskesmas atau sebaliknya. Mereka memanfaatkan program dan anggaran yang tersedia di puskesmas. “Kami memanfaatkan saja puskesmas mana yang sedang punya program. Maka, kami ke sana atau mereka ke sini,” jelasnya sambil menunjukkan foto dokumentasi pemeriksaan kesehatan.

Pemeriksaan antara lain meliputi kandungan gula darah, asam urat, dan kolesterol. Dari pemeriksaan itulah mereka bisa mengetahui kondisi tubuhnya. Sekaligus, mengantisipasi jika tidak sesuai dengan dengan ambang batas normal.

“Kalau untuk aktivitas fisik, kami punya program Jumat Sehat,” imbuh Eko. Bentuknya bisa senam yang tempatnya bergantian di kantor kecamatan, puskesmas, mapolsek, atau markas koramil karena lokasinya berdekatan. “Bisa pula jalan santai atau bersepeda. Terserah staf ikut yang mana,” lanjut Eko.

Bukan itu saja, di Kantor Kecamatan Pesantren, merokok tidak bisa dilakukan sembarangan. Selain hampir seluruh ruangan sudah ber-AC, Eko aktif mengimbau dan memberi contoh untuk tidak merokok di dalam ruangan. Apalagi di ruang pelayanan. “Kalau mau merokok, silakan di luar,” tegasnya.

Untuk menunjang hal itu, pada 2016, camat bahkan sudah mengeluarkan surat keputusan (SK) pembentukan kader ‘Cah Kediri Bro’. Itu merupakan singkatan dari Cara Hidup Sehat Kendalikan Diri Berantas Asap Rokok.

Cuma, sayang, dalam pengecekan kemarin, belum ada tulisan tentang larangan merokok yang ditempel di ruang-ruang kantor kecamatan. Di kantor ini juga belum disediakan secara khusus smoking area. “Larangan tertulis itu mestinya ada,” kata dr Rizal Amin, sekretaris dinkes, yang kemarin ikut penjurian.

Di ruang bagian administrasi pembangunan, kompleks sekretariat pemkot, asap rokok juga tidak terlihat. Selain karena dua ruangannya ber-AC, larangan merokok tertempel dengan jelas. Kepalanya, Bambang Priambodo, selalu tegas melarang siapa pun merokok di ruangan tersebut. “Pak Bambang sendiri memberi contoh dengan tidak merokok,” kata Kasubbag Bina Program Sunardi yang menemui tim juri.

Kebersihan di ruangan tersebut dijaga betul. Sejak Bambang masuk, ruangan ditata jauh lebih rapi dan bersih. Dokumen-dokumen yang tidak diperlukan dipindahkan ke gudang. “Sekarang kami merasakan betul lebih fresh dalam bekerja,” tambah Sunardi. Dia pun menunjukkan foto-foto perubahan tersebut.

Apalagi, ini yang menarik, ada ‘pojok relaksasi’ di sana. Lokasinya menyatu dengan ruang kepala bagian. Dilengkapi dengan komputer dan layar lebar. Personel yang berjumlah 12 orang bisa bersantai bareng di sana. “Kami bisa karaoke di ruang ini,” ungkapnya dibenarkan staf yang lain.

Seperti yang lain, bagian administrasi pembangunan juga mempunyai program Jumat Sehat yang menyatu dengan sekretariat. Mereka bisa ikut senam bersama atau olahraga yang lain. “Kami juga mulai memerhatikan sayur dan buah sebagai menu untuk hidangan jika ada kegiatan,” tambah Sunardi.

Program Germas di kantor dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) berbeda lagi. Sebagai kantor pelayanan publik, Kepala Dispendukcapil Kota Kediri Ida Indriyati menyadari tingkat kejenuhan pegawainya. Terutama mereka yang berada di bagian front office (FO). “Setiap hari menghadap komputer dan melayani warga, pasti berisiko jenuh dan stres,” kata Ida.

Karena itu, di sela-sela pelayanan, pukul 10.00 dan 14.00, Ida mewajibkan stafnya untuk melakukan peregangan. Menariknya, kegiatan itu dilakukan bersamaan dengan para pemohon. Cuma, dia mengakui bahwa hal itu kurang efektif. “Meski hanya lima menit, pemohon enggan melakukan. Alasannya, waktu antrean terbuang,” akunya.

Tim juri yang berada di kantor tersebut sejak sebelum pukul 10.00 hingga hampir pukul 11.00 juga tidak menjumpai peregangan dimaksud. Cuma, beberapa indikator pelaksanaan germas dijumpai. Seperti larangan merokok. Staf maupun tamu tidak boleh merokok di dalam ruangan. Apalagi hampir semua ruangan di sana ber-AC. “Satpam kami minta menegur jika ada pemohon yang kedapatan merokok di sekitar ruang pelayanan,” tutur Ida.

Untuk mengelola stres, dispendukcapil memilih peningkatan rohani untuk personelnya. Tiap Senin dan Rabu ada bimbingan membaca Alquran di sana. Dua kali dalam setahun ada capacity building yang mendatangkan ustad ke kantor.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia