Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Guru Bermartabat

08 Oktober 2019, 17: 14: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Badrus

Badrus (radarkediri.id)

Share this          

 

 

 

 

 

Oleh : Badrus

Tepat pada Sabtu, 5 Oktober 2019, diperingati hari guru sedunia. Harapan masyarakat dunia cukup tinggi terhadap guru, mampu mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas. Untuk itu guru perlu menguasai sejumlah pengetahuan baru sebagai role model bagi anak didiknya. Terlebih lagi saat ini, masuk era industri 4.0 yang menuntut manusia menguasai pengetahuan yang serba digital.

Guru yang mengajar anak didik di era industri 4.0, tidak lagi menggunakan metode konvensional. Ia dituntut memiliki pengetahuan yang luas dan modern. Sebab era ini menekankan pada pola kerja yang rumit dan detail. Menurut M. Nasir, menristekdikti, era industri 4.0, antara lain ditandai dengan digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya. Atau yang dikenal dengan fenomena disruptive innovation (Ristekdikti.com). Yaitu sebuah inovasi yang menciptakan pasar dan jaringan baru yang mengganggu jaringan nilai yang ada. Sehingga dapat menggusur perusahaan, produk, dan aliansi terkemuka di pasar. Menyikapi hal ini, guru berkewajiban mengikuti perkembangan teknologi digital yang tengah mengalir deras. Sekaligus memanfaatkan sebagai sumber belajar masa kini agar dapat memacu anak didik berpikir kritis dan kreatif.

Di sisi lain, di samping  guru harus menguasai teknologi digital, guru diharapkan menampilkan diri sebagai figur yang bermartabat tinggi di hadapan anak didiknya. Setidaknya ada tujuh karater, guru dapat dikatakan bermartabat. Yakni apabila guru itu; 1) memperlihatkan ketaatan yang tinggi terhadap agamanya, 2) memiliki spiritualitas yang kuat, 3) menampilkan kemauan yang mantap, 4) kedisiplinan yang tinggi, 5) sikap dan tindakannya yang adil, 6) keberanian dan tanggung jawab, dan 7) memiliki kemampuan menghargai dan menghormati orang lain secara tulus.

Sejumlah sifat itu muaranya pada kekuatan hati nurani guru. Karenanya guru diharapkan terus-menerus mengasah dan melatih hatinya agar menjadi figur yang mampu menjadi panutan anak didik (role model) dalam segala laku yang mulia.

Role model sangat penting bagi anak didik. Yaitu figur yang mampu menginspirasi orang lain untuk meniru perilakunya yang ideal. Role model menggambarkan bagaimana pikiran dan jiwa dapat menyatu untuk memecahkan kesulitan dan mencapai kesuksesan. Ia akan mempengaruhi tindakan, memotivasi untuk mengungkap potensi, dan  mengatasi kelemahan anak (Cambridge English Dictionary).

Menyinggung masalah martabat, saya ingat pesan Wakil Presiden Yusuf Kalla beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan bahwa “apabila kita ingin meningkatkan peradaban bangsa di masa depan, di samping mengembangkan teknologi dan entrepreneurship haruslah disertai spirit saudagar”. Beliau menjelasakan, “apa itu sepirit saudagar? Yaitu spirit seribu akal untuk menciptakan berbagai kemampuan inovasi baru.” Pesan ini merujuk pada kemampuan manusia yang harus dioptimalkan sehingga menghasilkan karya dan produk yang berguna bagi umat manusia.

Sumber Daya Manusia yang Unggul

 

Harapan kita, dari guru yang menguasai teknologi digital dan sekaligu menjadi role model, akan melahirkan SDM yang unggul. Yaitu manusia yang berkualitas  yang mampu memadukan kecerdasan intelektual (intelectual quotient), kecerdasan emosi (emotional quotient), kecerdasan spiritual (spiritual quotent). Indikator sumberdaya manusia yang unggul memang mudah untuk disebut. Namun untuk memenuhi itu diperlukan proses yang panjang dan strategi yang tepat. Terlebih memasuki era milenial saat ini.

Negara adi daya Amerika Serikat telah menemukan cara yang menantang manusia dalam mewujudkan pendidikan generasi yang unggul. Temuan itu disebut pembelajaran berbasis science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Sistem pembelajaran ini mengedepankan keterpaduan sebuah ilmu. Torlakson (2014) menyatakan bahwa pendekatan keempat aspek ini merupakan pasangan yang serasi, antara masalah yang terjadi di dunia nyata dan juga pembelajaran berbasis masalah. Pendekatan ini mampu secara kohesif dan pembelajaran aktif. Karena keempat aspek dibutuhkan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah. Konsep yang ditunjukkan bahwa peserta didik mampu  menyatukan konsep abstrak dari setiap aspek.

Sistem pembelajaran berbasis STEM, membantu dan memudahkan peserta didik mengintegrasikan keempat aspek untuk memahami, menggunakan, dan memproduk pengetahuan. Karena sains yang berarti pengetahuan mengenai hukum-hukum dan konsep-konsep yang berlaku di alam. Teknologi berarti keterampilan yang digunakan mendesain serta menggunakan alat buatan yang dapat memudahkan pekerjaan. Teknik atau Engineering, berarti pengetahuan  untuk mengoperasikan prosedur dalam menyelesaikan masalah, dan Matematika, adalah ilmu yang digunakan untuk menggabungkan besaran angka dan ruang yang terpadu. Pembelajaran berbasis STEM  ini tepatnya diterapkan pada jenjang sekolah menengah dan tinggi.

Bagaimana pendidikan anak di jenjang pendidikan dasar? Untuk menjawab ini orang tua atau guru dianjurkan menguasai pembentukan bakat dan minat anak secara maksimal. Memang membentuk bakat anak tidak mudah. Tetapi orang tua dan guru harus melakukannya untuk masa depan anak.  Caron B. Good, (2005) dalam bukunya  optimizing Your Child’s Talent menyarankan kepada para orang tua yang ingin mengembangkan bakat anak. Yaitu dimulai dari kreativitas orang tua dan guru membesarkan kepercayaan diri anak. Bahwa anak bisa melakukan sesuatu. Karena itu orang tua dan guru perlu menjauhkan diri dari tuntutan-tuntutan yang membebani diri anak.

Sebaliknya, guru dengan penuh kesabaran mendorong anak untuk; 1) menggunakan kemampuan seoptimal mungkin, 2) menguasai hobi atau keterampilan yang sudah dimiliki, 3) mengarhkan agar mampu menguasai emosi, 4) menganjurkan, agar tekun dalam menyelesaikan tugas, 5) menasihati  anak agar bisa mencapai tujuan, 6) memotivasi dan mau menyelesaikan tugas yang sulit, dan 7) menganjurkan untuk mengikuti suatu kegiatan hingga selesai. Ketujuh hal ini dihapkan menjadi bahan orang tua dan guru dalam mengembangkan bakat anak. Semoga berhasil. (penulis adalah dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia