Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Masih Ingin Kerja di Wamena Lagi

Dipulangkan usai Menginap di Rumah Aman

08 Oktober 2019, 13: 21: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Korban

KELELAHAN: Puluhan perantau Wamena meninggalkan kantor dinsos PPPA usai mengikuti pendataan Minggu malam. Kemarin pagi mereka dipulangkan ke rumah masing-masing setelah sempat menginap di rumah aman. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Rombongan warga Nganjuk yang merantau di Wamena, Papua, tiba di kantor dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (dinsos PPPA)  pada pukul 23.55, Minggu (6/10) malam. Setelah sempat menginap di rumah aman, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing kemarin pagi. 

Kepala Dinsos PPPA Nganjuk Nafhan Tohawi mengatakan, jika sebelumnya data perantau yang pulang hanya 27 orang, ternyata ada dua tambahan lainnya. “Total ada 29 orang. Laki-laki semua,” ujar pria yang akrab disapa Nafhan ini.

Untuk diketahui, begitu tiba di pelabuhan Tanjung Perak sekitar pukul 20.30 Minggu malam lalu, Nafhan bersama stafnya langsung melakukan pengecekan. Data perantau yang datang dicocokkan dengan data yang diterima sebelumnya.

Jika di data awal ada anak berusia 10 tahun yang ikut rombongan, saat dicek tidak ada. Usia perantau paling rendah adalah 17 tahun. “Adanya perubahan data itu bisa dimaklumi,” terang mantan Camat Ngronggot ini.

Sementara itu, setelah memulangkan para perantau Wamena itu, Nafhan menyebut dinsos PPPA akan tetap melakukan pemantauan. Jika ada perantau yang trauma akan didampingi.

Minggu malam lalu, tutur Nafhan, dinsos belum bisa melakukan penggalian secara mendalam. Sebab, para perantau itu kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Papua. “Secara umum, kondisi psikis mereka terbilang baik. Tidak ada yang mengalami depresi berat,” tandasnya.

Terpisah, M. Agus Faikur Rodli, 22, warga Desa Putren, Kecamatan Sukomoro yang baru tinggal tiga bulan di Wamena, Papua, mengaku senang bisa pulang ke Nganjuk. “Hampir satu Minggu di kapal. Tempat tidur seadanya,” akunya.

Meski lelah, dia pun lega. Sebab, bisa kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarganya. Menurut Rodli, mereka bisa pulang satu rombongan karena bekerja di tempat yang sama. Yaitu, di distributor sembako.

Kepulangan mereka ke Nganjuk atas keputusan sang bos. Sebab, kondisi Wamena sedang tidak kondusif. “Ada yang sudah bekerja dua tahun. Ada yang baru bekerja dua minggu,” tutur Rodli tentang masa kerja teman-temannya.

Karena baru tiga bulan bekerja, dia berharap kondisi di Wamena, Papua, bisa segera pulih. Sehingga, dia dan teman-temannya bisa kembali lagi ke Bumi Cenderawasih.

Selain masih ingin bekerja di sana, Rodli mengaku meninggalkan banyak pakaian dan barang-barangnya di sana. “Saya juga senang bekerja di Wamena. Usaha jualan sembakonya bisa cepat habis,” kenangnya pemuda yang saat kerusuhan terjadi tengah menjaga toko itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia