Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Dua Dibacok, Dua Memar Dipukuli

Pengeroyokan Dipicu Insiden Penganiayaan

08 Oktober 2019, 11: 00: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Korban

TERLUKA PARAH: Geischa, salah satu korban pembacokan mendapat perawatan di RSUD Kertosono, Minggu malam usai jadi korban pengeroyokan sekelompok pemuda tak dikenal. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KERTOSONO, JP Radar Nganjuk­-Aksi pengeroyokan berdarah terjadi di Kertosono sekitar pukul 23.00, Minggu (6/10) malam. Tindak kriminal yang diduga dilakukan oleh anggota salah satu perguruan silat itu mengakibatkan dua korban mengalami luka bacok dan dua lainnya memar setelah dipukuli.

Dua korban yang mengalami luka bacok adalah Geischa, 18, warga Desa Kedungmlaten, Lengkong, dan Ariyo, 18, asal Desa Pandantoyo, Kertosono. Adapun dua pemuda yang mengalami luka memar akibat dipukuli adalah Dayat, 18, asal Desa Ngepung, Patianrowo, serta Rokim, 15, tetangga Geischa.

Jaga

DIJAGA KETAT: Puluhan mobil patroli dari kepolisian sektor (polsek) jajaran berjaga di Mapolsek Kertosono Minggu malam. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, empat korban didatangi oleh arak-arakan pemuda yang mengendarai sekitar 100 unit motor. Sebelumnya, iring-iringan itu konvoi di wilayah Kertosono. Mereka membunyikan klakson dan memacu gas dengan kencang.

Selanjutnya, rombongan mendatangi Taman Kertosono. Ariyo Sunandar yang tengah berada di warung dekat Taman Kertosono pun jadi sasaran. Saat dia hendak pulang, gerombolan itu menghampirinya. “Saya sudah keluarkan motor mau pulang. Saya tidak sadar, tau-tau sudah berdarah tangan saya,” ungkap remaja yang baru lulus SMK tersebut.

Ia mengalami luka bacok di punggung tangannya. Paling parah di ruas pangkal ibu jarinya. Sabetan senjata tajam (sajam) yang diduga pedang meninggalkan luka sedalam satu sentimeter. Merobek urat ibu jarinya. Panjang sabetan hampir melingkar penuh di punggung ibu jarinya.

Aksi koboi itu tak berhenti di sana. Gerombolan yang berboncengan motor itu masih terus berkeliling. Kali ini mereka ganti menyasar kawasan Jembatan Lama Kertosono. Bergerak ke utara menuju GKJW Kertosono lalu berputar kembali ke selatan.

Kini warung kopi di Jalan Diponegoro deretan Sungai Brantas yang jadi sasarannya. Gerombolan pemuda itu mengepung warung dan menginterogasi  remaja yang diduga sebagai musuhnya. Geischa Mendieta, 18, salah satunya.

“Saya sempat dipukul dan ditendang. Lalu tersungkur menghadap tembok,” ungkap pelajar SMK swasta di Kertosono itu kepada Jawa Pos Radar Nganjuk di tempat kejadian perkara (TKP).

Mendapat serangan dari orang yang tak dikenal, Geischa refleks melindungi kepala dengan kedua tangannya. Nahas, dia terus dipukul. Bahkan, sabetan senjata tajam mengenai punggungnya.

Dia pun menderita tiga luka sayatan menyerupai huruf T. Panjangnya sekitar 10 sentimeter dan 15 sentimeter. “Saya menghadap tembok waktu itu (dibacok, Red), tidak tahu bagaimana pembacokannya,” akunya.

Tak hanya punggungnya yang terkena luka bacok. Punggung tangan kanan yang digunakannya untuk melindungi kepala tak luput dari sabetan. Punggung tangan mulai dari jari manis, tengah, dan telunjuk mengalami luka robek yang parah. Otot jarinya terkena sayatan sajam. Bahkan, tulang jarinya sampai retak.

Saat dilarikan di IGD RSUD Kertosono, salah satu dokter jaga menduga sayatan tersebut tidak dilakukan dengan sabit. Melainkan semacam pedang atau parang. “Lukanya lurus, kalau celurit luka melengkung,” ujar salah satu perawat yang enggan namanya dikorankan.

Untuk diketahui, selain Ariyo dan Geischa, ada dua korban lagi dalam kejadian tersebut. Mereka adalah Dayat, 18, dan Rokim, 15. Dayat yang juga teman sekolah Geischa mengalami luka kecil di kepala. Sedangkan Rokim mengalami luka memar setelah dipukuli.

Hingga kemarin, Geischa belum diperbolehkan pulang. Bahkan, siang kemarin dia menjalani operasi di bagian tangan. Setelah dioperasi, tangannya dibalut gips. Sementara itu, Ariyo, Dayat, dan Rokim diperbolehkan pulang.

“Tadi (kemarin, Red) Dayat kata gurunya sudah masuk sekolah. Guru-gurunya sudah jenguk ke sini,” ungkap Suparyo, 45, ayah Geischa saat ditemui koran ini di RSUD Kertosono.

Sementara itu, kejadian pengeroyokan oleh sekelompok pemuda tak dikenal itu langsung jadi atensi Polres Nganjuk. Polsek Kertosono dijaga ketat. Total 20 polsek diminta mengirimkan dua personel berikut mobil patroli untuk berjaga di sana.

Sayang, Kapolsek Kertosono Kompol Abraham Sisik enggan berkomentar terkait kasus ini. “(Kasus pembacokan) ditangani Satreskrim Polres (Nganjuk). Dalam lidik,” tulisnya melalui pesan singkat WhatsApp.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan mengatakan, pihaknya sudah menyelidiki kasus pengeroyokan tersebut. “Kami sudah memeriksa saksi korban. Untuk pelaku kami masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi,” ungkapnya.

Apakah sudah ada terduga pelaku pembacokan yang dimintai keterangan? Ditanya demikian, dia menyebut belum ada. Meski demikian, saat koran ini berada di Polsek Kertosono Minggu malam, sempat ada satu pemuda yang dimintai keterangan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia