Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tim Robotic MTs ‘Aisyiyah Juarai Muhammadiyah Education Award

Sempat Panik saat Mobil Error di Sirkuit

08 Oktober 2019, 09: 51: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

BERLATIH: Empat siswa tim robotic MTs ‘Aisyiyah bersiap menjalankan robot line follower di sirkuit jelang lomba di Semarang Oktober ini. September lalu mereka berhasil meraih juara di ajang ME Award. (Sri Utami - radarkediri.id)

Share this          

Dibentuk sejak 2018 lalu, tim robotic MTs ‘Aisyiyah berhasil menelurkan prestasi tingkat nasional. Yakni, dengan meraih Special Award di ajang Muhammadiyah Education (ME) Award September lalu.

SRI UTAMI,  NGANJUK, JP Radar Nganjuk 

Empat siswa MTs ‘Aisyiyah terlihat sibuk mengutak-atik robot berbentuk mobil di ruang Kepala MTs ‘Aisyiyah Aris Nasution, Kamis (3/10) lalu. Selain menata kabel, mereka juga beberapa kali mengecek kondisi sensor yang terpasang di robot line follower itu.

Usai mengikuti Muhammadiyah Education (ME) Award di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 21 September lalu, para siswa ini memang tidak bisa bersantai. Pun setelah anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler robotic itu berhasil meraih penghargaan yang bergengsi. Yaitu, Special Award. “Oktober ini kami akan mengikuti lomba di Semarang,” ujar Adylla Fajar Krisnawan, salah satu tim robotic MTs ‘Aisyiyah.

Bersama Fahri Zakaria Nasution, M. Dimas Ardian Ramadan, dan Abdullah Jalalaldin Rumi, empat pemuda yang duduk di bangku kelas VIII dan IX MTs itu terus mengamati robot yang baru saja diikutkan lomba. Melawan puluhan robot karya siswa SMP dan MTs dari berbagai daerah di Indonesia.

Meski sudah membawa pulang piala, empat pemuda itu tidak bisa berpuas diri. “Kami masih punya PR untuk mengatasi error yang tiba-tiba muncul saat lomba,” lanjut pemuda yang akrab disapa Krisna itu.

Bersama tiga rekannya, Krisna lantas menceritakan pengalaman lomba di UMM Dome September silam. Saat itu, dia dan lima rekannya sempat mengeluarkan keringat dingin. Deg-degan. Grogi. Sebab, robot yang saat dilakukan pengecekan awal dalam kondisi baik, mendadak error.

Di lomba tersebut, robot jenis line follower karya anak-anak MTs ‘Aisyiyah itu mendapat tantangan yang cukup sulit. Yaitu melewati lima check point dengan tikungan tajam. “Idealnya, satu sirkuit bisa ditempuh 10 detik. Kalau error sampai 42 detik. Berputar-putar terus,” sambung Fahri, sapaan akrab Fahri Zakaria Nasution.           

Menghadapi kendala saat lomba, mereka berusaha berpikir tenang. Selanjutnya, sesuai prosedur yang diajarkan, tiap anggota tim mengecek kondisi robot masing-masing. Mulai kabel, sensor, dan beberapa bagian lain yang dimungkinkan error.

Beruntung, jika pemrograman robot lain harus dilakukan melalui komputer, robot buatan anak-anak yang pernah mengikuti ajang Islamic Robotic Competition  di Malaysia pada 2018 silam itu bisa dilakukan langsung. “Bisa diprogram langsung di robotnya. Lebih praktis,” sahut Rumi, sapaan akrab Abdullah Jalalaldin Rumi itu.  

Dengan sistem yang relatif sederhana ini, mereka bisa mengatasi error dengan cepat. Tiga robot yang diikutkan lomba pun bisa segera melanjutkan lomba. “Kami jadi lega,” urai M. Dimas Ardian Ramadan.

Belajar dari pengalaman saat mengikuti ME Award itu pula, enam siswa yang tergabung dalam tiga tim robotic itu terus berlatih. Mereka ingin mengoleksi lebih banyak gelar juara selama mengikuti ekstrakurikuler itu. “Terus berlatih pemrograman,” imbuh Dimas.

Dua tahun tergabung di tim robotic, Dimas dan teman-temannya pun semakin mencintai bidang ini. Mereka bertekad untuk terus bergabung dengan ekstrakurikuler robotic saat kelak melanjutkan ke SMA. “Robotic itu asyik,” lanjut Dimas sembari mengamati robot berbentuk mobil di tangannya.

Pembimbing tim robotic MTs ‘Aisyiyah Amin Alfiroq menuturkan, anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler robotic memang terus dilatih pemrograman. Tujuannya, agar error di robot bisa diperkecil. “Tantangan yang kami hadapi adalah agar anak-anak bisa membuat robot dengan kecepatan tinggi,” beber guru yang akrab disapa Amin itu.

Pemrograman untuk robot jenis line follower, lanjut pria bertubuh tinggi ini, relatif tidak terlalu sulit. Mereka hanya perlu teliti melakukan pengecekan tiap bagian robot. Terutama sensor.

Karenanya, jelang lomba di Semarang mereka diminta untuk semakin giat berlatih. Sehingga, jika terjadi error saat lomba mereka bisa mengatasi dengan cepat.   

Terpisah, Kepala MTs ‘Aisyiyah Aris Nasution menambahkan, pihak sekolah terus memotivasi siswa agar mereka bisa menampilkan yang terbaik dalam lomba di Semarang nanti. “Kami tidak memberi beban harus juara. Yang penting, anak-anak berusaha yang terbaik dan terus berlatih,” beber Aris yang mengaku bangga karena tim robotic mampu mengharumkan nama sekolah di ajang tingkat nasional.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia