Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Desa Kedungsari, Berupaya Pertahankan Status sebagai Desa Gerabah

Cari Penerus, Kadir Siapkan Tiga Anaknya

07 Oktober 2019, 15: 01: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

perajin gerabah

MEMBENTUK: Damiati, salah seorang perajin gerabah di Desa Kedungsari, mencetak tanah liat menjadi salah satu bentuk peralatan rumah tangga. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Puluhan tahun lalu desa ini terkenal sebagai sentra perajin gerabah. Jumlah perajinnya bisa puluhan orang. Kini, delapan orang perajin gerabah berusaha terus mempertahankan eksistensi desa mereka sebagai sentra kerajinan dari tanah liat tersebut.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Siang itu sekitar pukul 10.00 WIB. Damiyati, 50, duduk di bangku kayu kecil di halaman rumahnya di Dusun Kedungsari, Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan. Tangannya asyik memegang sebentuk benda melingkar yang terbikin dari tanah liat. Benda itu berputar seiring berputarnya bidang lingkaran di bawahnya.

gerabah tarokan

BERAGAM: Sejumlah gerabah yang sudah jadi. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Damiyati siang itu membuat kendil. Yang biasa digunakan untuk menaruh ari-ari bayi sebelum ditanam di tanah. Ya, wanita itu memang perajin tembikar atau gerabah. Peralatan yang terbuat dari tanah liat. Di belakangnya juga tertata puluhan gerabah yang menunggu proses pembakaran. Masih dalam tahap penjemuran.

“Usaha ini sudah menjadi pekerjaan turun-temurun,” terang Damiyati.

Damiyati terlihat cekatan membentuk benda dari tanah liat seperti yang diinginkan. Buah dari pekerjaan yang telah dia geluti selama 35 tahun ini. Gumpalan tanah liat seberat satu kilogram dia ubah menjadi berbagai rupa. Kuali, kendil, atau bahkan pot bunga.

“Dulu di desa ini banyak perajin tembikarnya. Kini tinggal sedikit,” imbuhnya.

Memang, desa ini dikenal sebagai sentra perajin gerabah. Mereka membuat peralatan dari tanah liat seperti cobek, asbak, kuali, dan mainan alat masak untuk anak. Saat ini ada sekitar 8 perajin yang tetap bertahan. Jauh menyusut dari sebelumnya yang jumlahnya mencapai puluhan warga desa.

Setelah para perajin tembikar itu meninggal dunia, jarang ada penerusnya. Anak-anak para perajin banyak yang memilih bekerja di sektor lain. Seperti di keluarga Damiyati misalnya. Dia meneruskan pekerjaan itu dari sang ayah. Hanya, dari delapan orang, hanya dua orang yang meneruskan usaha sang ayah. Damiyati dan kakak pertamanya.

“Dulu saya pertama kali belajar membuat tembikar ketika berusia lima belas tahun,” tutur ibu beranak tunggal tersebut.

Setelah tidak melanjutkan sekolah, Damiyati lebih sering membantu orang tuanya membuat tembikar. Mainan masak-masakan merupakan karya pertama yang ia buat. Hanya dengan melihat saja, ia dapat dapat mengembangkan menjadi banyak bentuk.

Kini dalam setengah hari, istri dari Gito, 48, bisa memproduksi 100-200 unit wadah pakan kelinci. Sementara, dalam sekali bakar bisa mencapai 450-500 unit. Itu memakan waktu dua jam.

Dalam menekuni usaha pembuatan gerabah tersebut, pada 1987 dia pernah berhenti sejenak. Karena faktor ekonomi yang saat itu sedang sulit. Damiyati pergi ke Surabaya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Hingga akhirnya sekitar tahun 1991, Damiyati kembali ke desanya. Meneruskan usaha usaha pembuatan tembikar tersebut.

Saat ini, selain menurunnya jumlah perajin, kendala lain adalah bahan baku. Jumlahnya kian terbatas. Demikian pula dengan peralatan berproduksi atau mesin penggiling tanah liat. Para perajin biasa menyebut peralatan ini dengan molen.

Perajin lainnya adlaah H Kadir, 62. Lelaki ini merupakan salah satu perajin tembikar kawakan. Di tangan laki-laki kalahiran 1957, gerabah tidak hanya menjadi peralatan rumah tangga namun juga menjadi seni yang bernilai.

“Keluarga saya dulu adalah perajin gerabah,” kenang Kadir, ketika ditemui di rumahnya.

Bagi Kadir, tanah liat memiliki harga jual yang tinggi. Hingga akhirnya ia memiliki ide membuat jenis kerajinan seperti guci hingga asbak. Benda pertama kali yang ia buat adalah manukan. Kemampuan membuat barang seni dari gerabah dia perdalam dengan sempat kuliah di jurusan seni di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

“Ide saya berasal dari sekeliling,” imbuhnya.

Karena untuk konsumsi seni, karya milik Kadir lebih berwarna. Gerabah yang sudah dalam keadaan kering lalu ia hias dengan cat berwarna warni.

Terkait berkurangnya perajin gerabah di desanya membuat Kadir juga merasa prihatin. Namun, dia tak menyerah. Agar bisa melakukan regenerasi Kadir menyiapkan ketiga anaknya menjadi penerusnya.

“Ketiganya tidak hanya membuat namun juga menjual gerabah,” tutur Kadir.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia