Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Rezim dan Kambing Hitam

07 Oktober 2019, 14: 13: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri.id)

Share this          

Saya sempat diprotes seorang teman ketika menggunakan kata rezim untuk mengganti kata pemerintah. Menurut sang teman, saya tak memiliki sikap menghormati pemerintah karena ‘menuding’ mereka dengan rezim.

Saya tertawa. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan kemarahan sang teman. Maklum, sang teman memang cenderung berbeda cara pandang saat melihat suasana hangat di tanah air menyusul keluarnya banyak RUU kontroversial. Yang menjadikan mahasiswa melakukan gerakan. Yang berdemo di mana-mana itu. Yang oleh sang teman itu justru dituding ditunggangi oleh kelompok yang antirezim eh, antipemerintah.

Saya bukan hendak larut dalam persoalan yang diusung para mahasiswa. Yang tentu saja secara pribadi saya punya kenangan tersendiri dengan aksi-aksi seperti itu. Dan, sang teman pun demikian. Kala jadi mahasiswa di pengujung abad 20. Kala berteriak lantang, mengumandangkan reformasi. Dan rasa itu memang menyeruak kembali. Ketika mahasiswa bergerak.

Yang ingin saya sampaikan adalah persoalan kata rezim. Yang oleh teman saya dianggap sebagai ‘penghinaan’ pada pemerintah. Menurut teman saya itu, rezim punya konotasi jelek. Pihak yang otoriter dalam berkuasa. Lengkap dengan tindak-tanduk represifnya.

Benarkah? Saya mencoba meredam amarah sang teman yang tersinggung dengan penggunaan dan pemilihan kata oleh saya itu. Rezim itu artinya adalah pemerintah yang berkuasa. Ini bisa dicek pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bila tak punya bukunya, bisa tinggal ketik di internet. Akan muncul KBBI online. Dan di situ bisa ditanya tentang makna rezim.

Sang teman pun mulai menarik sungutnya. Tapi masih bermuka masam. “Konotasinya kan jelek gitu,” ucapnya defensif.

Sungguh, kita masih sering terjebak dalam makna konotatif. Itupun bukan dalam pengertian makna konotatif yang sebenarnya. Sebagai lawan dari makna denotatif. Makna konotatif yang disangkakan oleh teman saya itu cenderung sebagai konotasi oleh dirinya sendiri. Bahwa rezim itu suatu kata yang negatif.

Misalnya, ketika ada kalimat Budi memakan apel, memakan adalah makna harfiah. Makna denotatif. Artinya benar-benar memakan. Memasukkan benda ke mulut sebelum akhirnya dicerna di pencernaan.

Beda lagi ketika ada kalimat, Kecelakaan di jalan raya itu memakan banyak korban. Memakan itu adalah makna konotasi. Bukan makna harfiah memakan. Karena jalan raya tak menelan korban kecelakaan.

Tapi sudahlah, kan di era sekarang ini orang lebih suka untuk berpendapat sesuai keinginannya. Bila sedang tidak suka, ya tetap akan tidak suka meskipun diberi penjelasan yang masuk akal. Yang penting pokoke.

Kasus hampir sama juga terjadi beberapa waktu lalu. Kali ini adalah pemilihan diksi kambing hitam pada satu berita di koran ini. Kebetulan, diksi yang dipilih itu adalah kambing hitam.

Istilah kambing hitam itu sontak mendapat respon. Bukan dari pembaca koran secara langsung. Tapi oleh para netizen. Kaum yang saat ini benar-benar ‘diagung-agungkan’.

Kambing hitam sendiri bermakna orang yang dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. Dalam berita tersebut sang narasumber mengatakan bahwa hasil yang mereka dapat karena sikap dan tindakan dari seseorang. Nah, bila kenyataannya seperti itu, penggunaan kambing hitam bisa dibenarkan. Sayang, kita sering tidak berkepala dingin dalam menyikapi hal-hal seperti itu.

Di era sekarang, seringkali, kebenaran bukanlah sesuatu yang jadi tampak seperti seharusnya. Objektivitas sering menjadi satu hal yang tersudutkan. Apalagi bila kemudian menabrak kepentingan dan rasa. Walaupun alasan untuk menghilangkan objektivitas dan kebenaran itu demi tujuan ‘baik’ versi suatu kelompok. Misal mempertahankan kondisi stabil pada suatu tatanan masyarakat misalnya.

Dalam hal menggunakan pilihan bahasa, kita sekarang ini memang dihadapkan pada kondisi yang serba salah. Kultur literasi kita sejatinya masih jauh dari kata ideal. Ironisnya, ketika kultur literasi itu belum mumpuni kita sudah diterpa badai dunia maya. Yang memaksa kita untuk melihat sekilas kemudian berkomentar. Bahkan tanpa melihat secara lengkap secara penuh apa yang ditulis. Kita bisa berkomentar panjang kali lebar hanya dengan melihat screen shoot penggalan alinea pada suatu tulisan. Dan, komentar kita justru terasa lebih pintar dari yang menulis itu. Walaupun yang dilihat hanya sepenggal alinea!

Melesatnya zaman dengan kemajuan bidang teknologi informasi memang tak terelakkan. Kita saat ini berada di zaman yang benar-benar tak berbatas. Teknologi mampu membuat jarak yang jauh bukan faktor penghalang. Meskipun bisa juga sebaliknya. Sayangnya, secara mental kita belum siap menghadapinya. Karena sebetulnya, kemajuan teknologi informasi yang sedemikian dahsyat seperti sekarang ini tetap butuh kematangan berliterasi. Kemampuan untuk melakukan analisa yang lebih mendalam. Agar kita tidak semakin terjebak dalam gemerlap dunia maya yang saat ini ternyata penuh kepalsuan. Penuh dengan buzzer yang berusaha  menyesatkan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia