Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Sanggar Kopi, Tempat Belajarnya Para Penggemar Kopi di Kediri

Berawal dari Angkringan saat Kuliah

07 Oktober 2019, 13: 56: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

sanggar kopi

ROASTING : Andi bersama anggota Sanggar Kopi melakukan roasting biji kopi di Titik Tuju, Sabtu (28/9). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ketika terjun ke dunia perkopian, mereka pun melebur dalam satu wadah. Sanggar Kopi. Tempat mereka menempa kemampuan dalam bisnis kopi.

Tempat di sudut Jalan Imam Bonjol itu terlihat ramai pada Jumat (27/9) malam itu. Sekumpulan orang tengah berbincang santai. Beberapa di antaranya duduk mengitari meja. Sebagian lain duduk lesehan di sudut lain.

Seorang pria fokus pada laptop di depannya. Dari tampilan di layar terlihat sang pria sedang membuka aplikasi desain grafis. Lelaki itu tengah mengerjakan pesanan pembuatan desain yang dia terima. “Masih dalam tahap pengerjaan,” ucap lelaki berkaos hitam tersebut.

kedai kopi

FOKUS: Henri Budiawan menyeduh kopi disaksikan anggota Sanggar Kopi lainnya. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Saat itu mereka tengah berada di Titik Tuju Coffee Roastery. Tempat yang menjadi arena berkumpul para penyuka kopi dari seluruh Kediri. Malam itu mereka juga sedang berkumpul. Pria berkaos hitam yang mengerjakan desain grafis itu adalah Fahim. Di sebelahnya, ada Andi dan Arda. Dua orang yang asyik berbincang tentang sesuatu hal.

Andi adalah pemilik Titik Tuju. Dia kemudian menceritakan sejarah berdirinya rumah roastery Titik Tuju. Awalnya Andi menyewa bangunan ruko dua lantai itu. Tujuannya membuka kedai yang digunakan untuk roasting biji kopi.

“Awalnya memang digunakan untuk itu. Kalau ada yang mau mampir dan beli kopi atau biji kopi ya silakan,” ujar pemilik nama lengkap Andi Restanto itu.

Pemuda berusia 26 tahun itu menjelaskan, dia memang ingin membuka usaha kopi di Kediri. Melanjutkan usaha yang didalaminya saat masih duduk di bangku kuliah di Surabaya beberapa tahun yang lalu.

Andi awalnya fokus berbisnis di angkringan kopi saat masih kuliah. Lelaki yang dulu kuliah di Jurusan Ekonomi Universitas Airlangga itu menjelaskan bisnis angkringannya dia jalankan untuk menambah penghasilan.

Setelah lulus kuliah Andi kembali ke kampung halamannya di Mojokerto. Di kota itu dia juga membuka warung kopi. Dengan memperlebar bisnis kopi yang sudah digemarinya sejak dulu itu.

“Sekarang yang di Mojokerto sudah ada yang jaga, saya buka lagi di Kediri. Di sini (Titik Tuju, Red) fokusnya ke roastingnya,” imbuhnya.

Lain cerita lagi Arda, salah seorang anggota Sanggar Kopi. Ia dulu awalnya tidak terjun ke bisnis kopi. Namun, karena ia suka dengan kopi, dan mencoba manual brewing di rumah, akhirnya kepincut. “Mimpinya dulu, saya harus nemu tempat nyangkruk  yang saya seneng dengan kopinya di Kediri,” terangnya dengan tersenyum.

Lulusan Teknik Kimia ITS itu menjelaskan bahwa sebelumnya ia hanya fokus ke pembuatan kopi manual di rumahnya saja. Ia hanya ingin mencoba membuat kopi yang ia senangi saja.

Lelaki asal Mojoroto, Kota Kediri itu menjelaskan bahwa selama kuliah di ITS, dia juga membuka warung kopi. Lokasinya di Jalan Penanggungan Kota Kediri. “Sekarang sudah pindah ke Muning. Yang di Penanggungan dikerjakan teman,” terangnya.

Kedua lelaki ini mengaku mereka tak saling kenal pada awalnya. Mereka baru bertemu dua tahun lalu. Arda saat itu berhenti di traffic light di Jalan Imam Bonjol itu. Saat menunggu lampu  menyala hijau dia melihat ada rumah roasting kopi yang berada di pojokan.

Penasaran, datanglah Arda ke lokasi tersebut. Berkenalan dengan Andi dan beberapa teman lain. Akhirnya para penghobi kopi ini setuju membuat komunitas. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang punya kemampuan bisnis di sektor handy kraft, sablon baju, fisioterapis tim futsal, hingga lulusan pondok. Semuanya berbaur dan diwadahi dalam komunitas yang bernama Sanggar Kopi.

Dari 30-an anggota Sanggar Kopi itu sebagian sudah memiliki tempat kopinya sendiri. Baik di Kediri atau di luar Kediri. Karena itulah, selain berkumpul di Titik Tuju, mereka juga sering berkumpul di warung yang lain milik anggota Sanggar Kopi.

Dulu Tak Bisa Kini Lancar Brewing

Ruangan tiba-tiba senyap. Semua mata tertuju pada salah satu meja di dalam Titik Tuju Roastery. Salah satu anggota Sanggar Kopi, yang datang sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (27/9), itu menyita perhatian.

Dia adalah fisioterapis salah satu tim futsal di Surabaya. Dia bernama Henri Budiawan. Dan dia merupakan salah satu anggota Sanggar Kopi. Kopi racikannya itu selalu ditunggu-tunggu oleh para pengunjung.

Orang-orang yang duduk mengelilingi meja itu juga fokus dengan apa yang dilakukan Henri dengan kopinya. Mulai dari penghitungan suhu dan waktu untuk menyeduh kopi secara rinci. Semua dilakukan dengan menggunakan stopwatch di telepon genggamnya.

Proses penyeduhan kopi itu adalah salah satu proses ‘sakral’ yang dilakukan oleh para penyeduh kopi. Dan Henri mendapatkan kemampuan itu awalnya dari setiap kali mampir ke Titik Tuju. Dari awalnya masih biasa-biasa saja hingga kini ia dijuluki oleh teman-temannya sebagai sesepuh.

Raditya Rendra, anggota sanggar yang lain, menjelaskan bahwa mereka selalu memperhatikan Henri melakukan proses penyeduhan. Lama-lama menjadi tertarik. Entah itu untuk membuat kopi ataupun mencoba hasil racikan Henri.

“Banyak dari anggota yang awalnya tidak bias kemudian belajar dan coba-coba. Akhirnya ada yang bisa,” terang pria berkacamata ini.

Ada pula yang awalnya hanya bergabung karena aksi sosialnya. Karena sering bermain dan belajar bersama dengan teman-teman lainnya, sekarang piawai menyeduh kopi sendiri.

Radit menjelaskan, selain bisa menyeduh kopi sendiri, beberapa anggota juga sudah berani berbisnis di bidang kopi. Mereka tersebar di wilayah kota dan Kabupaten Kediri. Bahkan hingga di luar wilayah Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia