Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

BPCB Tinjau Bangunan Kuno di Klurahan

Akan Melakukan Ekskavasi Penjajakan November

07 Oktober 2019, 12: 45: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Cek

POTENSIAL: Arkeolog BPCB Trowulan Wicaksono Dwi Nugroho (kiri) mengecek struktur bangunan kuno di Desa Klurahan, Ngronggot. Bangunan itu diduga peninggalan kerajaan yang lebih tua dari era Majapahit. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGRONGGOT, JP Radar Nganjuk-Penemuan bangunan kuno yang diduga patirtan di Desa Klurahan, Ngronggot awal Agustus lalu, akhirnya direspons oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Kemarin, seorang arkeolog diterjunkan untuk mengecek bangunan di lahan milik Rubianto, 38, warga setempat.

Pantauan koran ini, arkeolog dari BPCB Trowulan mengecek bangunan kuno di Desa Klurahan bersama tim dari dinas pariwisata, pemuda, olahraga dan kebudayaan (disparporabud). Setibanya di lokasi, salah satu staf disparporabud membersihkan struktur batu bata berukuran besar dengan menyiram air lewat selang.

“Dari segi bangunan, ukurannya cukup besar. Strukturnya membentang hingga 15 meter. Ini menjanjikan dan sangat potensial (untuk diekskavasi, Red),” ujar Arkeolog BPCB Trowulan Wicaksono Dwi Nugroho sembari mengamati struktur yang sempat digali dua bulan silam itu.

Pengecekan struktur bangunan yang dilakukannya kemarin, lanjut Wicaksono, sekaligus untuk menentukan tahapan berikutnya. Dari skala bangunan, menurut  pria asli Jogjakarta, layak untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Melihat ukuran batu bata sepanjang 42 sentimeter, lebar 24 sentimeter dan tebal 8 sentimeter, Wicaksono menyebut batu bata itu berbeda dengan bangunan era Majapahit. Dia pun menduga struktur bangunan itu peninggalan kerajaan pra-Majapahit. “Bisa masuk abad ke 10 atau 11. Untuk mengungkap periodenya harus didukung data pelengkap,” lanjut pria yang memakai kemeja putih itu.

Apa saja data pendukung yang dibutuhkan? Wicaksono menjelaskan, pihaknya memerlukan kelengkapan data arkeolog. Mulai temuan seperti porselen, gerabah, uang kepeng hingga logam di sekitar bangunan.

Sejauh ini, disparporabud belum menemukan data pendukung di sekitar bangunan kuno. Meski demkian, Wicaksono mengaku tertarik pada struktur bangunan yang sudah menggunakan batu bata gosok berukuran jumbo. Sebelumnya, bangunan dengan jenis batu bata serupa pernah ditemukan di beberapa daerah di Jawa Timur.

Wicaksono menjelaskan, batu bata di era Majapahit rata-rata sepanjang 38 sentimeter, lebar 21 sentimeter dan ketebalan sekitar 6-7 sentimeter. Batu bata yang lebih besar banyak ditemukan di era kerajaan Kediri dan Singasari.

Untuk memastikan masa periode bangunan kuno tersebut, Wicaksono mengungkapkan, BPCB perlu melakukan ekskavasi penjajakan. “Setidaknya butuh waktu lima hari, pada bulan November nanti (ekskavasi penjajakannya, Red),” tutur Wicaksono.

Sebelum ekskavasi penjajakan, Wicaksono meminta disparporabud menyiapkan pelindung struktur bangunan. Dia menduga struktur bangunan yang sudah tampak ini bisa lebih luas dari yang diperkirakan.

Sementara itu, Rubianto, 38, keluarga pemilik lahan mengaku setuju bila bangunan kuno itu di ekskavasi. “Keluarga penasaran itu bangunan apa,” paparnya.

Terpisah, Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Amin Fuadi mengatakan, dirinya akan berkoordinasi dengan pimpinan terkait dengan tindak lanjut dari BPCB kemarin. “Saya pikir ini layak didukung karena punya potensi untuk desa wisata sejarah,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia