Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Santoso Mangkir Tiga Kali

JPU Bacakan Keterangan di Persidangan

07 Oktober 2019, 11: 49: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan vicky

MENYIMAK: Sutiwo, terdakwa kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai, menyimak keterangan saksi yang dihadirkan di persidangan lanjutan. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Santoso, 29, salah satu saksi yang sedianya dihadirkan di sidang kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai, kembali mangkir untuk kali ketiga. Menyikapi hal itu, jaksa penuntut umum (JPU) membacakan keterangan pria asal Desa Mungkung, Rejoso tersebut. Dari sana terungkap isi curhatan Supriyadi, pria yang diduga terlibat pembunuhan Vicky Febrin Piawai.

           Di depan majelis hakim, JPU Endang Dwi Rahajoe membacakan keterangan Santoso yang sempat diperiksa penyidik Polres Nganjuk. “Supriyadi datang ke rumah Santoso pada Rabu (3/4) sekitar pukul 09.00,” ujarnya.

          Dari sana, Santoso lantas mengajak Supriyadi ke warung milik Yeni Dwi Ratnasari, di Desa Sugihwaras, Bagor. Datang menggunakan motor Honda Beat bernopol AG 2877 VC, Supriyadi memarkir motor di belakang warung.

          Sembari minum kopi, Supriyadi kerap melontarkan kata terkait kematian dan kasus. Di antaranya, saat dia bertanya kepada Santoso. “Umpama aku sesuk mati awakmu gelem mikul, ora (seandainya aku besok mati kamu mau mengangkat tidak, Red)?” lanjut Endang dalam pembacaan keterangan.  

Pertanyaan itu juga sempat didengar oleh Yenik. Perempuan berjilbab itu sudah memberi kesaksian di persidangan Selasa (17/9) lalu. Mendengar pertanyaan dari Supriyadi yang dianggap tak jelas, Santoso balik bertanya. “Omong apa? Wong mati urip sing ngerti sing gawe urip (ngomong apa, orang hidup mati yang tahu Tuhan, Red),” terang perempuan berambut pendek itu. 

          Tak berhenti di sana. Supriyadi kembali meracau. Menyiratkan ketakutannya jika kelak dia dipenjara. Pria yang bekerja sebagai pegawai harian lepas (PHL) di Polres Nganjuk itu mengaku malu. Alasannya, dia terlibat kasus besar. “Timbang aku dipenjara, aku luwih isin. Gede kasuse (dari pada aku dipenjara, aku lebih mau. Besar kasusnya, Red),” urai Endang.

          Mendengar itu, agaknya Santoso kebingungan. Dalam keterangannya kepada polisi, dia menanyakan kejelasan maksud Supriyadi. Tetapi, tidak dijawab. Sebagai gantinya, Supriyadi kembali meracau tentang kematian. Setelah berkata demikian, dia pamit kencing. Selanjutnya, dia tidak kembali ke warung Yenik. Meninggalkan motornya di sana.

          Keterangan Santoso yang dibacakan di persidangan itu tidak mendapat bantahan. Baik oleh Sutiwo, terdakwa kasus pembunuhan, maupun tim penasihat hukumnya.

          Penasihat Hukum Sutiwo, Achmad Yani mengungkapkan, timnya tidak keberatan dengan keterangan Santoso tersebut. Alasannya, dia bukan saksi kunci.

“Dia (Santoso, Red) hanya saksi tambahan yang menerangkan keberadaan Supriyadi yang saat ini jadi DPO (daftar pencarian orang, Red),” ujar Yani.

          Untuk diketahui, selain mendengarkan keterangan Santoso, sidang kemarin juga menghadirkan dua saksi meringankan dari pihak Sutiwo. Mereka adalah Eko Widyantoro, 43, dan Jaenuri, 51, tetangga Sutiwo.

          Keduanya memberi kesaksian tentang sosok Sutiwo yang dikenal pendiam dan tidak pernah melanggar hukum. “Saya kaget saja saat mendengar kejadian ini (pembunuhan, Red). Selama ini yang saya tahu Sutiwo anak yang baik dan tidak pernah membuat ulah di kampung,” tutur Jaenuri.

          Terpisah, JPU Endang Dwi Rahajoe yang ditemui usai persidangan mengatakan, JPU sudah melayangkan surat panggilan kepada Santoso sebanyak tiga kali. Tetapi, sampai kemarin dia tidak bisa dihadirkan sebagai saksi. Sesuai surat keterangan dari kepala desa, Santoso tengah berada di luar kota. “Saksi (Santoso, Red) baru mendapat kerja di luar daerah. Katanya di Jogja,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia