Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Di Balik Pemecahan Rekor MURI CB Terbanyak se-Indonesia

07 Oktober 2019, 11: 08: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

cb nganjuk

LAUTAN CB: Dari kiri, Dandim 0810 Letkol Kav Joko Wibowo, Bupati Novi Rahman Hidhayat, Kajari Ardiansyah, Anggota DPRD Fauzi Irwana dan Ketua CB Nganjuk Qoyum, dalam pemecahan rekor MURI (21/9). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Nganjuk yang selama ini hanya dikenal sebagai Kota Angin, segera memiliki julukan baru lagi. Yakni, Nganjuk Kota CB. Predikat itu tersemat lantaran banyaknya motor dengan tampilan klasik itu saat pemecahan rekor MURI Sabtu (21/9) lalu.

ANDHIKA ATTAR. Warujayeng, JP Radar Nganjuk

Terik matahari masih menyengat kulit sekitar pukul 13.30, Sabtu (21/9) lalu. Tetapi, kondisi itu tak menyurutkan niat para pecinta motor CB untuk masuk ke dalam Stadion Warujayeng.

          Kondisi stadion yang berubah menjadi lautan CB itu justru membuat peserta semakin bersemangat untuk bergabung. Satu per satu pemilik motor lawas itu melakukan registrasi sedari pagi. Demi mencatatkan diri sebagai bagian sejarah. Pemecahan rekor CB terbanyak versi Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

          Hingga pukul 12.00, sudah ada 3.000 unit motor yang mendaftarkan diri.

Itu belum termasuk ribuan motor yang memilih tetap berada di luar stadion.

“Lha wong mulai Subuh (21/9) itu sudah banyak motor CB yang masuk ke dalam stadion kok,” celetuk Abah Qoyum, ketua CB Nganjuk Bersatu.

Hajatan besar itu tak dipungkiri menguras waktu, tenaga, dan pikiran bagi semua pihak yang terlibat. Baik dari Pemkab Nganjuk maupun komunitas CB Nganjuk Bersatu.

Persiapan sudah dilakukan sejak jauh hari. Perumusan konsep acara, lanjut pria berambut gondrong itu, sudah digagas sejak lima bulan lalu. Mulai dari hal yang sepele hingga grand design gelaran bertajuk 3 Dekade CB in Harmony itu.

H-1 pelaksanaan, panitia penyelenggara mulai mengebut segala kebutuhan. Tak kurang dari 300 pegiat CB turut serta menjadi panitia. “Di luar itu, yang ikut membantu ya lebih banyak lagi,” imbuh pria dengan ciri khas jenggot panjang tersebut.

Dalam pemecahan rekor MURI ini, hanya motor CB yang mendaftar saja yang dihitung. Untuk memecahkan rekor, sejatinya hanya dibutuhkan 1.500 motor CB.

Namun, belum sampai setengah hari, motor CB yang mendaftar telah membeludak. Bahkan, pihak panitia mengaku telah menutup registrasi peserta. “Banyak yang belum terdaftar ingin ikut. Mereka sudah datang jauh-jauh ya kami pun mencoba mencarikan solusi,” tandasnya.

Setelah berkoordinasi dengan semua pihak, panitia pun akhirnya mencapai sebuah kesepakatan. Yakni, tetap menerima dan mendata ribuan motor CB tambahan yang datang.

Dengan catatan, kapasitas stadion masih mencukupi untuk menampung mereka. “Akhirnya registrasi kami buka lagi. Itu pun masih banyak yang tidak bisa masuk,” aku Abah Qoyum.

Benar saja, sejauh mata memandang di kanan-kiri jalanan menuju stadion, jajaran motor berbodi CB terparkir. Sembari berteduh, masing-masing nahkoda menunggu aba-aba untuk beraksi.

Hingga akhirnya sore tiba. Waktu pemberangkatan rombongan sudah akan dimulai. Seiring aba-aba untuk menaiki kuda besi masing-masing, para pegiat CB pun menarik tuas gas kencang-kencang. Pekikan knalpot saling menyahut. Tak ubahnya genderang perang yang ditabuh pasukan Romawi.

Tak kurang dari lima ribu motor CB membakar aspal jalanan arteri di Nganjuk. Berkeliling hingga alun-alun lewat utara dan kembali lagi lewat selatan. Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat beserta jajaran forkopimda lainnya lah yang memimpin rombongan. “Panjang rombongan tadi saja mencapai sekitar 10 kilometer,” klaim Abah Qoyum.

Matahari telah terbenam ketika rombongan kembali ke Stadion Warujayeng. Hiburan musik di panggung utama pun siap menyambut para rombongan. Yang lebih penting lagi, prosesi penyerahan piagam rekor MURI itu.

Berdasarkan hitungan pihak MURI, tercatat ada 3.531 motor CB yang memenuhi syarat. Dengan dua kali lipat jumlah yang minimal yang dibutuhkan, predikat Kota CB pun tersemat. Menjadi penanda bahwa acara bukan glorifikasi belaka.

Abah Qoyum sebagai salah satu pegiat CB yang dituakan di Nganjuk tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Sudah lama saya memimpikan Nganjuk menjadi Kota CB. Karena memang komunitas CB di sini paling banyak dibandingkan daerah lainnya. Pokok kalau dengar CB, ya identik dengan Nganjuk,” ungkapnya dengan antusias.

Bahkan, komunitas CB Nganjuk Bersatu memiliki belasan chapter  atau kelompok lagi. Total ada 13 chapter yang berada dalam naungan payung besar.

Kini, Nganjuk tak hanya memiliki julukan Kota Angin. Satu predikat baru telah tersemat. Melekat erat sepanjang aspal yang dibakar oleh roda-roda kendaraan. Nganjuk Kota CB! Nganjuk Kota CB!

(rk/die/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia