Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

600 Ha Hutan Gundul

Dampak Penebangan Liar Tiga Tahun Silam

07 Oktober 2019, 11: 01: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

hutan gundul

BERBAHAYA: Hamparan kawasan hutan di Desa Duren, Sawahan seluas sekitar 600 hektare dalam kondisi gundul. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

SAWAHAN, JP Radar Nganjuk - Ratusan hektare (ha) hutan di Desa Duren, Sawahan gundul selama tiga tahun terakhir. Upaya rehabilitasi yang dilakukan perhutani tidak bisa maksimal karena banyak pohon yang mati. Ancaman bencana di lahan yang jadi sasaran penebangan liar sejak 2016 lalu itu pun di depan mata.

          Pantauan koran ini Minggu (22/9) lalu, di sejumlah lokasi terlihat pohon sengon setinggi dada orang dewasa atau sekitar satu meter. Tetapi, tanaman itu tidak merata. Banyak lahan yang gundul. Hanya menyisakan tunggul alias potongan sisa kayu yang ditebang di lahan yang ditetapkan sebagai daerah rawan longsor oleh badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) pada 2018 lalu.

          Tidak ada pohon tegakan besar di sana. Melainkan, hanya sisa-sisa pohon jagung dan pohon ketela di hamparan lahan hutan tersebut. Suyitno, 61, warga Dusun Bomo, Desa Duren mengatakan, warga memang banyak yang menanam palawija di sana saat musim hujan. “Sekarang sudah tidak ke hutan karena tidak bisa menanam jagung lagi. Tunggu hujan baru tanam lagi,” ungkap pria tua itu.

          Kepala Desa Duren Sutaji yang dikonfirmasi tentang hutan gundul di desanya mengatakan, praktik penggundulan hutan terjadi sejak 2016 hingga 2017 silam. “Penebangan kayu jati sekitar 600 hektare,” ujar Sutaji ditemui di rumahnya.

          Melihat hamparan hutan gundul di desanya, pria berusia 48 tahun itu juga mengaku risau. Terutama terkait ancaman bencana tanah longsor yang mengintai daerah yang dipimpinnya.

          Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya sudah menanam pepohonan di tepi jalan pada 2018 lalu. Tetapi, setahun berselang belum bisa tumbuh maksimal. Sehingga, suasana rindang yang diharapkan belum bisa terlihat. “Kami sudah ajukan ke perhutani agar pohonnya (di tepi jalan, Red) diganti yang bisa menghasilkan. Nanti yang mengelola karang taruna,” lanjutnya.

           Terpisah, Administratur Perhutani KPH Nganjuk Bambang Cahyo Purnomo mengungkapkan, penggundulan hutan di Desa Duren, Sawahan itu terjadi sejak 2016 hingga awal 2018. Pohon jati yang belum memasuki masa panen ditebang paksa oleh masyarakat. “Ada pemahaman yang salah sehingga hutan ini menjadi gundul,” ujar lulusan UGM ini.

          Kesalahan pengertian itu, lanjut Bambang, terkait pengertian Perhutanan Sosial. Saat itu, masyarakat di Desa Duren, Sawahan diberi peran lebih besar untuk tata kelola hutan.

Karenanya, warga menganggp hutan yang berdekatan dengan perkampungan itu bisa dibagi-bagi dan dibuatkan sertifikatnya. “Saya menduga warga dapat provokasi sehingga nekat menebang hutan kayu jati tersebut secara bersama-sama hingga gundul,” tutur Bambang.

          Pemahaman yang salah inilah yang coba diperbaiki Perhutani KPH Nganjuk. Selain memberi pemahaman terkait izin pemanfaatan hutan perhutanan sosial (IPHPS), mereka juga memberi solusi untuk segera merehabilitasi hutan.

          Sesuai aspirasi warga, perhutani menetapkan lahan tersebut wajib ditanami kayu sengon sebagai ganti kayu jati. Yaitu, 60 persen kayu sengon dan 40 persen palawija. “Tidak mungkin bisa 100 persen sengon, karena petani masih butuh tanamn palawija,” terangnya tentang penanaman 600 pohon sengon di tiap satu hektare hutan itu.

          Pohon sengon ini diharapkan bisa lebih cepat tumbuh dan menghasilkan. Bila dibandingkan dengan jati, sengon bisa empat kali tebang. “Risiko kematian pasti ada, tugas petani yang sudah diberi izin itulah yang menjaga dan merawatnya,” beber bapak dua anak itu.

Ancaman Bencana di Desa Duren:

-Tahun 2016-2017 terjadi penebangan pohon jati di areal hutan seluas sekitar 600 hektare di Desa Duren, Sawahan

-Lahan dibiarkan kosong dan baru mulai direhabilitasi tahun 2018

-Perhutani hanya bisa menanami 60 persen lahan dengan pohon sengon, 40 persen sisanya untuk bercocok tanam warga

-Kondisi hutan yang gundul rawan menimbulkan bencana tanah longsor di musim hujan

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia