Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Serban KH Abdul Karim dan Beduk Tertua di Ponpes Lirboyo

Jadi Sarana Nasihati Santri yang Nakal

04 Oktober 2019, 14: 45: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

surban

BERSEJARAH: Serban milik KH Abdul Karim dan Beduk yang sudah bolong saat dipamerkan di Ponpes Lirboyo beberapa hari ini. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Pendiri Ponpes Lirboyo KH Abdul Karim banyak meninggalkan warisan bersejarah. Beberapa di antaranya adalah serban dan beduk yang pertama kali digunakan di pondok. Dari dua benda itu, ada kisah kebijaksanaan yang bisa dipetik.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Kota, JP Radar Kediri

Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo itu begitu serius mengamati benda kuno di depannya. Yang dipajang dalam etalase kaca yang tertata rapi. Membujur dari utara ke selatan. Selesai mengamati di satu tempat mereka kemudian bergeser ke tempat lain.

beduk bolong

ANTUSIAS: Beduk kuno itu menarik perhatian para santri yang berlangsung di Gedung Yayasan Utara Masjid Al Hasan Ponpes Lirboyo. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Santri-santri itu terlihat antusias melihat pameran yang berlangsung di Gedung Yayasan Utara Masjid Al Hasan Ponpes Lirboyo itu. Acara yang berlangsung mulai Selasa (1/10) hingga hari ini itu bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ketertarikan santri yang rata-rata remaja itu tentu saja berasalan. Pasalnya, sebagian besar benda yang dipamerkan adalah milik Ponpes Lirboyo. Di antaranya adalah kitab kuno berbahasa arab, kemudian ada buku induk, dan ijazah santri. Beberapa foto sejarah pondok yang berdiri pada 1910 itu juga ikut dipamerkan.

Namun, dari deretan benda kuno itu, mereka tampak berlama-lama memandangi dua peninggalan KH Abdul Karim, sang pendiri ponpes. Yakni serban sang kiai dan beduk yang pertama kali dipakai di Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo.

An’im Falahudin Mahrus, putra dari KH Mahrus Aly – menantu KH Abdul Karim - punya cerita singkat soal benda itu. Bukan hanya kisah sejarahnya saja, juga makna di dalamnya. “Ada kisah-kisah (dari serban dan beduk) yang bisa kita ambil pelajaran. Dalam ilmu di pondok, namanya tasawuf,” kata pria yang akrab disapa Gus An’im ini saat ditemui di lokasi pameran.

Dimulai dari sorban. Menurut An’im, KH Abdul Karim sebenarnya bukan sosok yang suka berpenampilan mewah. Kiai kelahiran Magelang, Jawa Tengah (Jateng) itu lebih senang berpakaian sederhana. “Beliau sosok yang sederhana,” katanya.

Karena itu, di hari-hari biasa, Abdul Karim jarang memakai serban. Sorban hanya digunakaan saat momen-momen tertentu saja. “Misalnya salat Jumat atau ada acara-acara besar. Sehari-hari, beliau tampil biasa saja,” ucap pria kelahiran Kediri, 6 Juni 1964 ini.

Bahkan, menurut An’im, KH Abdul Karim merupakan orang yang senang menyamar dengan berpenampilan sederhana. Tentang itu, An’im punya kisahnya. Suatu ketika, KH Abdul Karim bersama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ponpes Tebu Ireng Jombang dan Nadlatul Ulama (NU), menghadiri pertemuan para kiai di Pondok Jamsaren, Kota Kediri.   Waktu itu, Abdul Karim sengaja tidak mengenakan serban seperti ulama-ulama lainnya. Dia duduk di barisan depan bersama para kiai. Melihat sesuatu yang janggal, para ajudan kiai kemudian meminta Abdul Karim untuk pindah tempat.

“Karena dikira orang biasa (bukan kiai). Kok berani duduk di depan,” kata pria yang juga anggota DPR RI ini.

Setelah pindah, KH Hasyim Asy’ari baru memberitahu kalau orang tersebut adalah KH Abdul Karim. “Setelah itu, semua ajudan meminta maaf,” ungkapnya.

An’im mengatakan, KH Abdul Karim memiliki banyak serban. Termasuk di antaranya adalah udeng-udeng yang biasa dikenakan saat pengajian. Dan, serban yang sekarang sedang dipamerkan itu adalah salah satu terfavorit. “Serban itu yang sering dipakai beliau,” terang anak bungsu KH Mahrus Aly ini.

Berbeda lagi dengan cerita soal beduk. An’im mengatakan, beduk berbahan kulit sapi itu kali pertama dipakai di Masjid Lawang Songo. Selain sebagai penanda salat, beduk peninggalan KH Abdul Karim itu juga memiliki kisah yang unik.

An’im berkisah, suatu ketika KH Abdul Karim punya seorang santri yang nakal. Santri ini sering keluar pondok malam-malam. Untuk mengingatkannya, sang kiai tidak langsung menegurnya dengan kata-kata. Apalagi sampai memarahinya. “Kiai memiliki cara lain,” ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Setelah mengetahui kenakalan santrinya, kiai menulis di secarik kertas. Tulisan itu adalah pesan buat sang santri. Pesannya adalah “Dadi Santri Aja Nakal”. “Kertasnya kemudian ditempel di bawah beduk itu (yang dipamerkan),” ujar An’im.

Karena sering pulang malam, santri itu terbiasa tidur di bawah beduk. Dia pun akhirnya membaca tulisan dari KH Abdul Karim. “Setelah itu, santri minta maaf kepada kiai dan menyadari kesalahannya,” ujar An’im.

Beduk sudah digunakan selama satu abad. Dipakai pertama 1910, beduk itu disimpan pada 2010. Namun bukan soal usia saja yang membekas dalam benak santri. Tetapi kebijaksanaan KH Abdul Karim yang punya cara sederhana melakukan sesuatu yang terus diingat sampai akhir hayat.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia