Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Ke Lirboyo, Zawawi Imron Ingatkan Kesadaran Dasar Bangsa

03 Oktober 2019, 17: 01: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

pameran sejarah lirboyo

BERSEJARAH: Zawawi Imron (kiri) dan Agus Sunyoto melihat-lihat kitab kuno yang dipamerkan di Ponpes Lirboyo kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Budayawan D. Zawawi Imron menyoroti situasi sosial yang sedikit memanas akhir-akhir ini. Sastrawan asal Sumenep itu menilai kondisi tersebut dapat diredam dengan kembali ke kesadaran dasar sebagai sebuah bangsa.

Zawawi menuturkan, kesadaran dasar sebagai bangsa itu sangat penting dipahami. Bahwa masyarakat Indonesia sama-sama lahir di negara dan tanah yang sama. Selain itu, mereka juga memakan buah dan menghirup udara yang sama. “Ketika kita mati, kita juga dikuburkan di tanah Indonesia,” kata Zawawi di sela-sela kegiatan Penguatan Nilai Kebangsaan di Aula Al Muktamar Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo kemarin.

Karena itu, ketika kesadaran itu diingatkan kembali,  menurut Zawawi tidak alasan untuk berkelahi. Selama ini, bangsa Indonesia hanya dihadapkan pada keinginan sementara. “Semua bersifat temporer,” ungkap penyair yang terkenal dengan puisi ‘Celurit Emas’ ini.

bedug tua lirboyo

BERLUBANG: Beduk kuno juga ikut dipamerkan. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Ketika kenginan itu muncul, kata Zawawi, penting sekali manusia Indonesia kembali kepada filosofi bangsa. Selain itu, mereka harus saling mendengarkan. Bukan hanya sebagai orang yang mau didengarkan saja. “Kita harus mau mendengar dan didengarkan,” paparnya.

Menurutnya, Indonesia milik semua masyarakat yang lahir di sini. Bukan hanya milik anggota DPR atau Presiden. Mereka memang pemimpin yang diberikan amanah. Tetapi sifatnya hanya sebagai individu.

Dengan saling menghormati dan menghargai, Zawawi sangat yakin masyarakat tidak akan terpecah belah. Sebagai budayawan, dirinya hanya bisa menyampaikan. “Kalau yang disampaikan tidak didengar, ya tidak perlu marah. Budayawan tidak boleh marah-marah,” ujarnya.

Untuk diketahui, kehadiran Zawawi ke Ponpes Lirboyo sebagai salah satu narasumber kegiatan Penguatan Nilai Kebangsaan di Pesantren. Selain itu, ada juga Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU Agus Sunyoto. Kegiatan tersebut diikuti ratusan santri Ponpes Lirboyo.

Sebelum mengisi acara, Zawawi dan Agus Sunyoto bersama pengasuh Ponpes Lirboyo KH Anwar Manshur mengunjungi pameran kesejarahaan di gedung Yayasan Utara Masjid Al Hasan Kompleks Aula. Selain itu, Direktur Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Triana Wulandari juga ikut mendampingi. Mereka melihat sejumlah benda pusaka. Salah satunya adalah keris peninggalan zaman kerajaan.      

Pameran tersebut juga memajang beberapa foto sejarah ponpes. Adapula kitab-kitab, beduk, dokumen, dan ijazah para santri. Bahkan, surban Kiai Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo juga ikut dipamerkan.

Triana Wulandari, Direktur Direktorat Sejarah Kemendikbud mengatakan, pesantren punya ikatan kuat dengan sejarah berdirinya bangsa. Para kiai dan santri di Indonesia juga berperan dalam kemerdekaan Indonesia. “Kami menjadikan model dan modal. Karena mereka punya peran besar dalam pembentukan bangsa,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia