Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Polres Kediri Bidik Kurir Dobel L Hingga ke Luar Kota

03 Oktober 2019, 16: 43: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

pil koplo

BARANG BUKTI: Petugas Polres Kediri memeriksa wadah yang digunakan tersangka untuk mengolah bahan produksi pil dobel L, Selasa (1/10). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Satuan Resnarkoba Polres Kediri terus mendalami kasus produksi pil dobel L abal-abal sekaligus ilegal. Penyidikan tak berhenti dengan menahan dua tersangka produsennya. Yakni, Sutiono, 33, warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, dan Sugeng Pramono, 27, warga Desa Paron, Ngasem.

          Kali ini pengembangan kasusnya menyasar pada kurir yang menjadi perantara pemasaran pil koplo tersebut. Apalagi, dari pengakuan dua tersangka, hasil produksi pil itu tak hanya diedarkan di wilayah Kediri. Namun, sampai ke area Blitar dan Tulungagung.

“Untuk melancarkan ruang geraknya, kedua tersangka menggunakan jasa kurir. Melalui perantara ini mereka mendistribusikan ‘barang’ produksinya,” ujar Kasat Resnarkoba Polres Kediri AKP Eko Prasetyo Sanosin pada wartawan koran ini.

Hingga kemarin, ia mengaku, tim satresnarkoba masih menelusuri keberadaan para kurir tersebut. “Saat ini kami juga dalami beberapa yang sudah masuk TO (target operasi) kami,” terang Eko.

Menurut dia, pihaknyamasih melakukan pemetaan wilayah. Fokusnya terkait wilayah edar yang selama ini dijelajah tersangka saat melakukan transaksi. Berdasarkan pengakuan tersangka, Eko mengatakan, keduanya melakukan transaksi hingga wilayah Blitar dan Tulungagung. Calon konsumen yang disasar adalah pekerja bangunan dan petani. “Memang target penjualan mereka adalah pada setiap orang yang membutuhkan stamina tinggi,” paparnya.

Ketika digerebek di ‘pabrik’ pembuatan pil koplo di rumah Sugeng, Desa Paron, Kecamatan Ngasem, satuan resnarkoba menyita 67 ribu butir pil dobel L yang dikemas dalam 67 plastik.

Tak hanya itu, sebanyak 80 butir pil koplo hasil produksi Sugeng dan Sutiono pun diamankan. Tablet pil koplo abal-abal buatan ‘pabrik’ di Paron tersebut memang mirip dengan pil dobel L asli.

Eko mengungkapkan, secara kasatmata pil koplo itu memang terlihat sama. Namun, jika dicermati seksama secara detail akan terlihat cukup berbeda. Kalau pil dobel L asli, lanjut dia, berwarna putih dan berlogo huruf latin L tercetak jelas dan lebih keras. “Namun, pil hasil racikan tersangka sangat lembek dan warnanya kecokelatan,” jelasnya.

Selain barang bukti (BB) sediaan farmasi ilegal tersebut, Eko mengatakan, tim satresnarkoba juga mengamankan mesin pencetak pil, oven, dan alat pres plastik. Sementara bahan-bahan pembuat pil koplo yang ditemukan di rumah Sugeng pun turut dibawa ke mapolres.

Di antaranya adalah dua ember besar berisi tepung tapioka, satu kardus obat sidiaryl, satu kardus obat scopamin, dan satu toples tepung yang sudah tercampur obat sidiadryl dan scopamin. Semua barang bukti tersebut ditemukan petugas di dalam bungker.

Menurut Eko, kedua tersangka mendapatkan barang tersebut dari salah satu jaringan yang kini masih dalam pendalaman petugas. “Mereka juga baru beroperasi sekitar satu bulan,” terangnya.

Selain sebagai peracik pil dobel L palsu, sambung Eko, keduanya memiliki peran masing-masing. Sutiono sebagai penyedia peralatan dan bahan obat keras itu. Dia pun terlibat sebagai perantara komunikasi dengan beberapa jaringannya. “Sedangkan tersangka Sugeng menyediakan tempat untuk produksi,” ungkapnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia