Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Satresnarkoba Polres Kediri Bongkar Produksi Pil Dobel L di Ngasem

02 Oktober 2019, 16: 19: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

dobel l ngasem

TERUNGKAP: Kapolres AKBP Roni Faisal Saiful Faton dan Kasatnarkoba AKP Eko Prasetyo Sanosin saat merilis kasus produksi pil koplo dengan tersangka Sutiono dan Sugeng Pramono. Tersangka praktik cetak pil kemarin (1/10). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Satuan Resnarkoba Polres Kediri membongkar produksi pil dobel L ilegal. Pabriknya di rumah Sugeng Pramono, 27, di Desa  Paron, Kecamatan Ngasem digerebek pada 25 September lalu. Selain Sugeng, polisi juga mengamankan Sutiono, 33, warga Dusun Joho, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem.

          Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka. “Saat ini mereka masih dalam proses penyidikan intensif,” ujar Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal Saiful Faton dalam rilis pengungkapan kasus ini di hadapan awak media, kemarin.

          Dalam penggerebekan ‘pabrik’ pembuat pil koplo itu, tim satresnarkoba menyita 67 ribu butir pil dobel L yang dikemas dalam 67 plastik. Selain itu, sebanyak 80 butir pil koplo hasil produksi Sugeng dan Sutiono pun diamankan.

pil ilegal

ILEGAL: Tersangka praktik cetak pil kemarin (1/10). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

          Barang bukti (BB) lainnya adalah mesin pencetak pil, oven, dan alat pres plastik. Sementara bahan-bahan pembuat pil koplo itu turut dibawa ke mapolres. Di antaranya adalah dua ember besar berisi tepung tapioka, satu kardus obat sidiaryl, satu kardus obat scopamin, dan satu toples tepung yang sudah tercampur obat sidiadryl dan scopamin. Semua barang bukti tersebut ditemukan petugas di dalam bungker.

“Jadi mereka membeli pil dobel L kemudian dicampur dengan bahan-bahan racikan yang diproduksi sendiri,” papar Roni.

Untuk memproduksi pil koplo itu, Sutiono dan Sugeng mempelajarinya melalui internet di Youtube. Bahan-bahan untuk campuran pil dibeli dari online shop. “Mereka baru memproduksi barang tersebut selama satu bulan,” ungkap Roni.

Dalam aksinya, Sutiono berperan sebagai penyedia peralatan dan bahan pembuat pil koplo. Dia juga ikut meracik. Bahkan berkomunikasi saat transaksi dengan pembeli.

Sementara Sugeng berperan sebagai orang yang menyediakan tempat produksi. Pil koplo diracik di rumahnya. Selain membantu membuat sediaan farmasi tanpa izin, dia juga terlibat dalam transaksi jual beli dobel L. Sistemnya secara ranjau.

Proses peracikannya, menurut Roni, bahan-bahan dari kedua tersangka dicampur dengan pil dobel L olahan pabrik. Untuk mengelabui petugas, dalam pengedaran mereka menyamarkannya dalam kemasan vitamin B1.

Setiap satu bungkus dijual Rp 300 ribu. “Untuk satu butirnya Rp 3.000,” ungkap Kasatresnarkoba Polres Kediri AKP Eko Prasetyo Sanosin.

Wilayah pemasarannya tidak hanya di Kediri. Namun sampai Tulungagung hingga Blitar. Sasaran konsumennya adalah kuli bangunan hingga petani.

Pada kesempatan itu, Eko mempraktikkan, proses pembuatan pil koplo produksinya. Semula kedua tersangka memasukkan 100 botol sidiadryl dan 75 botol scopamin dalam botol kaca hingga obat tersebut tercampur. Setelah itu, hasil oplosannya dimasukkan tepung tapioka.“Setelah tepung tercampur rata, baru dimasukkan dalam oven selama satu jam,” paparnya.

Setelah campuran bahan tersebut dingin langsung dimasukkan mesin pencetak pil. Dalam produksi pil ini, Sugeng dan Sutiono melakukan banyak eksprimen. Hingga akhirnya butiran pil yang dihasilkan sama dengan hasil buatan pabrik.  Sutiono diketahui merupakan residivis kasus pengeroyokan dan pengedar dobel L.

“Kami masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap jaringan besar yang diduga para pelaku dikendalikan dari dalam lapas,” ungkap Eko.

Akibat perbuatannya, Sutiono dan Sugeng dijerat pasal 197 subsider pasal 196 Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang Kesehatan. Keduanya terancam hukuman maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.  

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia