Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

PD Jayabaya Beri Peringatan Pedagang Pasar Setonobetek

02 Oktober 2019, 16: 12: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

pedagang setonobetek

ENGGAN JUALAN: Pengunjung berjalan di area kios dalam Pasar Setonobetek, Kota Kediri yang banyak masih tutup dan belum beroperasi, kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jayabaya mulai bersikap tegas kepada sejumlah pedagang di Pasar Setonobetek, Kota Kediri. Pertengahan September lalu, mereka melayangkan surat peringatan pertama (SP1) kepada ratusan pedagang.

Pasalnya, setelah blok A pasar dioperasikan setahun lalu, sampai sekarang belum ada yang berjualan. Direktur PD Pasar Jayabaya Kota Kediri Ihwan Yusuf mengatakan, total ada 118 pedagang yang akan menerima SP1. Pada 25 September lalu, pihaknya sudah menyampaikan suratnya.

“Kami antarkan ke rumah mereka (pedagang),” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin.

Pasar Setonobetek Kediri

Pasar Setonobetek Kediri (radarkediri.id)

Kendati telah memberikan warning tersebut, Ihwan mengaku, belum semua pedagang menerima SP1. Dari ratusan orang itu, menurutnya, yang menerima baru sekitar 5 persen.

“Yang lain belum. Karena sempat kesulitan mencari alamatnya. Kami masih upayakan untuk menyampaikan semua,” ujar pria asal Wilangan, Kabupaten Nganjuk ini.

Mereka yang mendapat surat peringatan dari PD Pasar, sambung Ihwan, adalah pedagang di blok A. Baik yang berada di lantai satu maupun dua. Blok tersebut dioperasionalkan pada 16 Oktober 2018 silam.

Dari 118 orang, Ihwan menyebut, sebanyak 50 pedagang yang menempati kios. Sedangkan sisanya sebanyak 68 orang berjualan di los. Mulai dari pedagang gerabah, rombeng, konveksi, pracangan, dan sayur. “Ada yang di lantai satu dan dua,” ungkapnya.

Ihwan menyatakan, pemberian SP1 itu bukan tanpa alasan dan pertimbangan. Sebab, sejak pasar yang berlokasi di Jl Pattimura, Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota itu dibuka akhir tahun lalu, mereka belum pernah berjualan sama sekali. “Banyak kios yang masih tutup,” paparnya.

Ihwan khawatir, para pedagang yang mendapat jatah kios dan los tersebut tidak serius berjualan. Apalagi pihak PD Pasar Jayabaya sudah memberlakukan retribusi kepada pedagang lain. “Kasihan pedagang lain yang benar-benar ingin berjualan,” urainya.

Untuk diketahui, retribusi dilakukan setiap hari kepada pedagang secara tunai. Untuk pedagang kios, mereka ditarik 8.000 per hari. Sedangkan pedagang di los kena Rp 4.000 per hari. Sementara pedagang yang buka lapak di pelataran pasar, harganya lebih murah, yakni Rp 1.500 per hari.

Selain itu, Ihwan mengungkapkan, pedagang yang tidak segera berjualan rawan memindahtangankan kios dan lapaknya. Dari kekhawatiran itulah, ia menyatakan, PD Pasar harus bersikap tegas. Apalagi berembus kabar ada tempat berjualan di pasar yang diperjualbelikan.

“Karena informasi yang beredar, banyak yang dipindahtangankan. Itu yang kami khawatirkan,” ucap direktur yang menggantikan Saiful Yazin ini.

Lebih jauh Ihwan mengatakan, surat peringatakan akan diberikan sebanyak tiga kali. Setelah SP1 beres, berjarak sebulan pihaknya akan melayangkan SP2 kepada pedagang. Terutama mereka yang masih bandel dan tidak segera berjualan. “Terakhir nanti sampai peringatan ketiga,” tandasnya.

Setelah SP3, Ihwan menegaskan, pihaknya akan mencabut izin pedagang yang menempati kios. Rencananya, kios yang kosong itu akan diberikan kepada orang lain yang benar-benar serius ingin berdagang.

“Bisa kami alihkan ke orang lain. Karena itu (lapak atau kios), harus segera ditempati,” tegasnya.

Lantas mengapa pedagang belum menempati dan berjualan di sana? Mereka rupanya memiliki alasan tersendiri. Kasno, salah satu pedagang Pasar Setonobetek, mengakui, kondisi di blok A pasar sangat sepi.

Karena keadaan tersebut, dia akhirnya tidak berjualan setiap hari di sana. “Saya buka-tutup. Seminggu hanya empat kali. Selebihnya saya jualan di luar,” beber pedagang sandal ini.

Meski demikian, pria asal Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Kota ini mengatakan, tetap membayar retribusi setiap hari. Sayangnya, transaksi dan laba belum memadai untuk mencukupi biaya operasionalnya. Dia berharap, Pasar Setonobetek bisa ramai seperti dulu lagi. ”Saya sudah berjualan di sini sejak 1983,” aku Kasno.

Pertimbangan Surat Peringatan di Blok A

-         SP-1 diberikan kepada 118 pedagang di blok A

-         Para pedagang itu dianggap belum menempati lapak dan kiosnya

-         Mereka belum pernah berjualan sama sekali

-         Padahal blok itu sudah dioperasionalkan sejak 16 Oktober 2018

-         PD Pasar menilai yang dapat jatah kios dan los tak serius berjualan

-         PD Pasar khawatir kios dan lapak pedagang dipindahtangankan

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia