Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

18 PAC Fatayat Tuntut Konfercab Ulang

02 Oktober 2019, 16: 07: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Konfercab Fatayat

Konfercab Fatayat (radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kediri berbuntut. Sebagian pimpinan anak cabang (PAC) dan pimpinan ranting (PR) menganggap hasil konferensi yang selesai Minggu malam (29/9) lalu tidak sah.

Karena itu, mereka menuntut untuk digelar konfercab ulang. “Konfercab sudah cacat,” ujar Ketua PAC Fatayat Kayenkidul Zulianah didampingi sejumlah ketua PAC kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin. Ia mengatakan, sudah 18 dari 26 PAC yang sepakat untuk mengajukan tuntutan itu. “Bukan tidak mungkin bertambah,” lanjutnya.

Zulianah mengungkapkan, konfercab yang berlangsung di gedung Yayasan Ar Rahmah Purwotengah, Papar sejak Sabtu (28/9) itu cacat, salah satunya, karena tahapan sidang tidak dilalui dengan benar. Pimpinan sidang yang berasal dari Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Jawa Timur tidak akomodatif dan memaksakan kehendak. “Suara sebagian besar peserta diabaikan,” ungkapnya didukung Faridatul Izza, wakil ketua PAC Mojo yang turut menjadi peserta.

Itu terjadi ketika sidang memasuki agenda pemilihan ketua untuk periode 2019-2024. Pada tahap penjaringan bakal calon, tuturnya, muncul dua nama yang layak untuk melaju ke tahap selanjutnya. Yaitu, Roaitu Nafif Laha (kabid litbang PC) dengan 213 suara dan Dewi Maria Ulfa (wakil sekretaris PC) dengan 150 suara. Keduanya melampaui batas minimal 90 suara untuk bisa melaju ke tahap pemilihan calon.

Akan tetapi, sebelum melaju ke tahap berikutnya, terjadi deadlock. “Keduanya dipersoalkan,” tandas Zulianah. Nafif karena usianya 45 tahun lebih seminggu. Sedangkan, Ulfa karena kepengurusannya di Fatayat belum genap satu periode. Ia masuk sebagai pengurus PC Fatayat pada 2016 sebagai hasil reshuffle dari kepengurusan 2014-2019.

Batasan usia dan batasan kepengurusan inilah yang menimbulkan perdebatan panas pada sidang menjelang Magrib itu. Bagi sebagian peserta, usia 45 tahun lebih seminggu dianggap masih masuk 45 tahun. Begitu pula, kepengurusan hasil reshuffle bisa dianggap memenuhi satu periode.

Karena tak kunjung menemukan titik temu, deadlock pun terjadi. “Sidang diskors untuk salat Magrib,” ungkap Zulianah dibenarkan Nashihatun Nisa, ketua PR Fatayat Gogorante. Usai salat, sidang dilanjutkan. Di situlah kericuhan terjadi. Sebab, tiba-tiba Habibah, pimpinan sidang dari PW Fatayat Jawa Timur, menetapkan Dewi Maria Ulfa sebagai ketua terpilih menggantikan Miftahul Hasanah. Alasannya, ia sudah berkonsultasi dengan PP Fatayat. “Ini yang tidak bisa kami terima!,” tegas Zulianah.

Seharusnya, lanjut dia, dalam situasi deadlock seperti itu dilakukan lobi terlebih dahulu. Jika tetap tidak menemukan kata sepakat, dilanjutkan dengan voting. “Ini tidak dilakukan sama sekali. Tiba-tiba saja ada penetapan,” tandasnya, didukung Ketua PAC Pagu Durrotul Azizah.

 Karena itulah, mereka menilai konfercab tidak sah dan menuntut untuk digelar konfercab ulang. Apalagi, dalam tahap penjaringan calon itu, ditemukan selisih dua suara lebih banyak. Dari total jumlah peserta terdaftar 364 orang, ada 366 suara yang terkumpul.

Selain Nafif yang dapat 213 suara dan Maria Ulfa 150 suara, ada dua suara sah tertulis untuk Maria Ulfi dan ada satu suara tidak sah. Padahal, masing-masing peserta hanya memiliki satu hak suara. “Dalam waktu dekat, kami akan mengirim surat ke PP untuk meminta konfercab ulang. Kami minta majelis arbitrase untuk turun,” pungkasnya.

Secara terpisah, menanggapi kemelut di Fatayat, Ketua PC NU Kabupaten Kediri KH Muhammad Makmun (Gus Makmun) menyatakan sedikit kecewa. Apalagi, hingga kemarin dia belum mendapat laporan dari panitia.

Padahal, menurutnya, jika ada masalah seharusnya bisa diselesaikan dengan baik tanpa berbuntut panjang. “Sebaiknya memang harus duduk bersama dahulu, baiknya bagaimana. Tapi, sampai saat ini saya belum menerima laporan resmi dari panitia,” ungkapnya saat dihubungi wartawan koran ini tadi malam.

Sebagai ‘bapak’ dari Fatayat yang berstatus badan otonom (banom) NU itu, Makmun hanya berharap ada keterbukaan, argumentasi, serta alasan yang jelas sebagai acuan yang diambil untuk menetapkan hasil konfercab itu. Makanya, laporan panitia tentang kronologi kejadian di konfercab diperlukan untuk mengetahui duduk perkaranya.

Cuma, sayang, beberapa kali dia mencoba menghubungi panitia, belum ada respons. “Kami tidak bisa melangkah lebih jauh sebelum tahu secara pasti duduk persoalannya,” tandas salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso, Mojo tersebut.

Tentang dua nama kandidat yang muncul dalam pencalonan, Makmun tidak mempersoalkan. Baik Nafif maupun Ulfa dia nilai sama-sama berkompeten. “Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, keduanya sama-sama bagus,” nilainya.

Yang dia sesalkan hanyalah kabar tidak adanya keterbukaan alasan dari keputusan pimpinan sidang. Yang tiba-tiba menetapkan salah satu nama sebagai calon terpilih. “Menurut saya, ini sudah tidak sehat,” tandasnya. Makmun menginginkan ada koordinasi antara panitia, pembina, termasuk pimpinan sidang dan PC NU untuk menyelesaikan kemelut tersebut.

Kemarin koran ini juga mencoba menghubungi Niamah, ketua panitia konfercab Fatayat, melalui ponselnya. Akan tetapi, telepon tidak diangkat. Pesan yang dikirim juga tidak dibalas. Begitu pula dengan Miftahul Hasanah, ketua demisioner PC Fatayat. Telepon tidak diangkat dan pesan tidak dibalas.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia