Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Achyar, Saksi Hidup Tragedi G30 S PKI di Desa Kanigoro, Kras

Dari Sentimen Keagamaan Jadi Kesalehan Sosial

01 Oktober 2019, 17: 41: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

G30 S PKI di Desa Kanigoro

SAKSI : Achyar (kiri) dan Kades Kanigoro Miskan di Masjid At-Taqwa, kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Cerita pahit penyerangan massa underbow PKI yang pernah mendera Desa Kanigoro, kini telah pulih. Beberapa eks-anggota PKI itu kini mulai mengikuti kegiatan bernuansa keagamaan. Sentimen keagamaan itu kini mulai berubah menjadi kesalehan sosial.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, JP Radar Kediri, Kabupaten

Siang itu (30/9) cuaca terasa panas. Namun, di dalam Masjid At-Taqwa, di Dusun Jagalan, Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, suhu panas itu seperti tak terasa. Hawanya terasa sejuk.

Memasuki masjid itu seperti kembali ke masa silam. Ke masa beberapa puluh tahun lalu. Kondisinya masih mencerminkan bangunan lama. Banyak bagian dinding yang mengelupas. Sementara, empat pilar kayu yang menyangga atap masjid juga masih bertahan di tengah-tengah ruangan. Demikian juga dengan jendelanya yang masih bergaya lama. Dari kayu jati dengan lebar semeter dan tinggi dua meter.

Masjid ini tergolong sangat bersejarah. Karena menjadi saksi terjadinya tragedi penyerangan di era orde lama. Tepatnya ketika masa-masa terjadinya aksi yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) PKI. Masjid berukuran 14x 14 meter ini menjadi saksi penyerangan ratusan massa underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) ke Pesantren Al-Jauhar.

“Sejak kejadian itu (penyerangan massa PKI, Red) sampai sekarang masih dibiarkan utuh. Cuma beberapa bagian saja yang mendapatkan renovasi,” kata Achyar,  salah seorang saksi hidup peristiwa  yang terjadi 13 Januari 1965 tersebut.

Dengan mata tajam ia menatap bagian-bagian dinding masjid. Seakan ia mengingatkan kenangan pahit yang menyelimuti cerita hidupnya. Ia pun mulai menceritakan peristiwa tersebut.

Saat itu, sejak 9 Januari 1965 Masjid At-Taqwa ramai. Karena kedatangan ratusan pemuda dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Mereka sedang melakukan pertemuan kader regional se-Jawa Timur.

Pagi itu Achyar yang selesai salat Subuh  berjamaah dikagetkan dengan suara tembakan di belakang masjid. Sontak, beberapa jamaah pun kaget. Tak dikira, suara tersebut merupakan pertanda kedatangan ratusan massa underbow PKI.

“Saat itu saya hanya salat dan ngaji pada Kiai Jauhari, bapak dari Gus Maksum (almarhum Gus Maksum Jauhari, salah seorang pengasuh Ponpes Lirboyo, Red),” terangnya.

Akhyar menerangkan, massa PKI itu tidak hanya mengepung masjid. Namun juga mulai menyerang Asrama dan dalem (rumah) kiai. Karena beberapa dari mereka membawa senjata, ia pun hanya bisa pasrah. Achyar sempat panik dan ketakutan karena dianggap bagian dari PII. Dia pun berusaha untuk melarikan diri dari kepungan massa kelompok PKI.

“Karena saat itu dijaga ketat anggota PKI, akhirnya saya lewat jendela masjid dan mencoba lompat tembok,” terangnya.

Awalnya, ia tak menyangka bisa melompat tembok yang saat itu tingginya mencapai 4 meter. Karena paniknya ia mengaku tak merasa kesakitan. “Saat itu saya kabur, beberapa massa underbow PKI yang tahu mengejar saya,” kenangnya.

Namun ia bisa lolos dari kepungan massa yang mencoba mengejar. Achyar menjelaskan, saat itu beberapa dari warga Desa Kanigoro tergabung dalam organisasi underbow  PKI. “Dulu untuk ibadah di masjid saja sulitnya minta ampun,” ungkap pria paruh baya yang memilik 23 cucu ini.

Namun seiring berjalannya waktu, pasca-pemberontakan G30S-PKI, beberapa warga Desa Kanigoro sadar. Mereka mulai mengikuti kegiatan keagamaan. “Saat ini sudah dipastikan 99 persen warga Desa Kanigoro menganut agama Islam,” paparnya.

Yang menarik, dari beberapa kegiatan masyarakat Desa Kanigoro seperti jamaah yasinan hingga salat berjamaah sudah banyak diikuti mantan anggota PKI. “Kini beberapa warga eks-PKI dari Desa Kanigoro banyak yang mengikuti kegiatan keagamaan islam,” ujar tukang kebun MTsN 2 Kediri ini.

Achyar mengenang, dulu orang PKI selalu memusuhi orang Islam. Jika warga PKI menggelar pertunjukan ketoprak misalnya, selalu seperti mengolok-olok orang Islam. Naskah ceritanya juga menyudutkan warga Islam. “Dulu ada pementasan yang berjudul Matinya Gusti Allah hingga Gusti Allah Mantu,” kenangnya.

Namun kini, menurut Achyar, justru dari mereka yang pernah jadi anggota PKI mulai aktif mengikuti kegiatan keagamaan. “Di Desa Kanigoro saat ini justru banyak sekali dijumpai bangunan masjid dan musala,” paparnya.

Ia berharap, masyarakat Desa Kanigoro semakin meningkatkan solidaritas antarwarga. Termasuk tidak terlalu mengeksploitasi cerita negatif tentang PKI yang pernah bersarang di Desa Kanigoro. “Semoga kedamaian dan solidaritas antar warga saat ini bisa terus kami pertahankan hingga nanti,” harapnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia