Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Events

Samas Costume Festival: Kostum Karnaval Cintai Budaya

Anak Lereng Kelud Manfaatkan Barang Bekas

30 September 2019, 19: 05: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

samas festival

MEMUKAU: Penampilan salah satu peraga di Samas Costume Festival yang diselenggarakan SMAN 1 Puncu, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Ratusan peraga kostum karnaval tampil memukau pada pawai Samas Costume Festival (SCF), kemarin. Mengusung beragam tema, acara yang diselenggarakan SMAN 1 Puncu itu menjadi agenda tahunan untuk memperkenalkan kebudayaan Nusantara.

Berlatar pegunungan di lereng sisi utara Gunung Kelud yang mempesona, pawai tersebut menjadi magnet bagi warga untuk melihat keunikan kostumnya. Guru Seni Rupa SMAN 1 Puncu Wiwied Asri Sutanto mengatakan, SCF merupakan salah satu upaya memperkenalkan budaya di seluruh penjuru Indonesia. “Dari sini kami sedikit berjuang untuk belajar mencintai budaya Indonesia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Meski sekolahnya termasuk di daerah pelosok, menurut Wiwied, semangat anak-anak di sana sangatlah tinggi. Terbukti mereka berhasil menampilkan kostum istimewa. “Mereka yang membuat kostum sendiri, termasuk menentukan tema masing-masing,” ujarnya.

Tema yang diusung dibagi masing-masing jenjang kelas. Untuk kelas X kebudayaan Jawa Timur. Sementara kelas XI budaya Nusantara. “Dan untuk kelas XII bertema Mahabarata,” imbuhnya.

Dari 21 kelas ditambah 4 ekstrakurikuler yang tampil kemarin, semuanya memeragakan kostum yang mencirikan budaya masing-masing daerah. Termasuk legenda dan cerita rakyat. Mulai legenda Lembu Sura, Roro Jonggrang, hingga cerita bersatunya Werkudara dan Arimbi.

Ada juga yang memeragakan kostum bertema bangunan cagar budaya Nusantara. Seperti Candi Prambanan dan rumah adat suku Minangkabau. Pawai telah diadakan sejak 2010. Ada pula kebudayaan Pulau Dewata, Papua, hingga Minahasa. “Rata-rata dalam pembuatan kostum, mereka juga memanfaatkan barang bekas,” terang guru yang juga inisiator SCF ini.

Wiwied menegaskan, semua dilakukan mandiri. Siswa bekerjasama mempersiapkan pawai yang masuk kegiatan tengah semester (KTS) itu. Mulai tema cerita, iuran membuat kostum, koreografi, juga sound system pengiring saat pawai. Menariknya, dari hasil kostum yang dibuat, setelah acara banyak yang menyewa. Rata-rata satu paket bisa mencapai Rp 6-7 juta. “Mereka mengerjakan bersama tim. Dari hasil kerja kerasnya, bisa mendapat pemasukan,” paparnya.

Ifatul Muzana, siswa SMAN 1 Puncu, mengungkapkan, kebanggaannya bisa ikut dalam agenda tahunan di sekolahnya. Kegiatan ini mengasah kemampuannya memanfaatkan bahan-bahan bekas untuk dibuat kostum menarik. “Kami juga belajar bekerjasama dan semakin kompak,” ujar siswa kelas XI tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia