Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melek Literasi, Tiga Anak Jamiluddin Langganan Juara Tartil Alquran

Dibiasakan Dengar Lantunan Ayat Suci

30 September 2019, 18: 49: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

literasi alquran

PENGHAFAL ALQURAN: Jamiluddin (kiri) beserta istri Cisna Barorin dan ibunya, Alfinsanatin (kanan), saat mendampingi putranya, Afnan Zain, menghafal Alquran di rumahnya. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Prestasi demi prestasi sudah ditorehkan tiga anak Jamiluddin. Ketiganya adalah langganan juara tartil dan hafiz Alquran di tingkat provinsi maupun nasional. Sang bapak menyebut salah satu kunci kesuksesannya adalah pembiasaan literasi di lingkungan keluarga.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Deretan piala tertata rapi dalam tiga lemari kayu di rumah Jamiluddin. Jumlahnya sekitar 50 buah. Kumpulan bukti prestasi itu memang sengaja diletakkan di tempat penyimpanan yang berbeda. Tujuannya, agar memudahkan si pemilik mengingat piala dari lomba yang pernah diikuti.

“Piala-piala itu milik tiga anak saya,” kata Jamil saat ditemui di kediamannya, Dusun Banaran, Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Sabtu lalu (28/9).

Di sebelah barat merupakan milik Ama Faridatul Husna, putri sulungnya. Anak kedua, Dina Rahmatun Najma, mendapat bagian lemari tengah. Sedangkan, si bungsu, Muhammad Afnan Zain menyimpan piala di lemari sisi timur.

Yang menarik, prestasi tiga saudara kandung itu direbut dari lomba tartil dan hafiz Alquran. Mulai tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. “Kategorinya macam-macam dengan penyelenggara berbeda,” ujar Jamil.

Sebagai anak tertua, Ama tentu saja mengawali deretan prestasi lomba tartil di keluarganya. Mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang, itu kali pertama merebut juara saat duduk di kelas 3 SD. “Masih tingkat kabupaten waktu itu,” ungkap pria yang juga kepala MTs Negeri 3 Kediri ini.

Setelah itu, torehan prestasi remaja 21 tahun tersebut tidak terbendung lagi. Tercatat, Ama pernah menjadi juara pertama tartil nasional di Bengkulu pada 2010. Terbaru, dia menjadi juara nasional Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) 10 juz dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) antar perguruan tinggi se-Indonesia, Juli lalu.

Adapun sang adik, Dina, tahun lalu menjuarai lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Di tahun yang sama, pelajar 16 tahun di MAN 3 Jombang itu juga pernah menjadi finalis Seleksi Tilawatil Quran (STQ) nasional di Kalimantan Barat (Kalbar).

Sementara Zain yang sekarang masih di MTsN 1 Kediri merebut juara 3 nasional tahfidz 30 juz dalam Pekan Olahraga dan Seni antarpondok pesantren (ponpes) se-Indonesia di Pasuruan, 2017 silam. “Dan banyak prestasi lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,” papar Jamil.

Dengan prestasi membanggakan itu, Jamil sejak awal sebenarnya tidak membentuk secara khusus anaknya menjadi pemenang lomba tartil. Akan tetapi, secara terencana, dia dan Cisna Barorin, sang istri, membiasakan anak-anaknya dengan budaya literasi keluarga.

Itu diawali saat kelahiran anak pertama. Sebagai keluarga pendidik agama Islam, Jamil menyadari pentingnya membaca dan memahami Alquran. Makanya, setelah punya anak, dia dan istri sepakat mengenalkan bacaan kitab suci itu kepada sang buah hati. “Hanya itu awal tujuannya. Bukan membentuk menjadi peserta lomba,” ujar pria kelahiran Kediri, 4 November 1966 ini.

Dengan kesepakatan tersebut, saat Ama berusia antara 2-3 bulan, dia sering memutar tartil di tape recorder. Dulu, suara yang didengarkan adalah Muammar MA. Sambil tiduran di kasurnya, sang putri mendengarkan lantunan Alquran dari qari’ dan hafiz terkenal Indonesia itu. “Ibunya bisa nyambi memasak atau membersihkan rumah,” kenang Jamil.

Biasanya, tartil diputar selama dua jam setiap hari. Paling sering dimulai sekitar pukul 09.00. Namun, sebenarnya soal waktu, tidak ada jadwal pasti. “Yang pasti diputar setiap hari,” terang alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Kediri ini.

Pembiasaan mendengarkan bacaan ayat suci itu sampai umur anaknya berusia 2 tahun. Sebab, di usia tersebut, balita tidak bisa diam. Bahkan, mereka akan memencet sendiri tape di rumah. “Itu usia aktif mereka,” imbuh Jamil.

Metode tersebut membuahkan hasil. Karena sering mendengarkan suara Muammar, Ama menjadi familier dengan bacaan Alquran. Menjelang usia tiga tahun, dia sudah bisa melafalkan sejumlah surat-surat pendek. “Misalnya surat Al Ikhlas dan Annas. Meskipun dengan suara cadel,” urai Jamil seraya tertawa.

Saat usia lima tahun, Jamil mulai mengajarkan membaca Alquran. Kemampuan Ama pun makin lancar. Apalagi di rumah, mereka punya Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang dikelola keluarga. Cisna, sang ibu, adalah salah satu pengajarnya.

Karena sering melihat ibunya mengajar, Ama tertarik dengan bacaan tartil Alquran. Ditambah, Alfinsanatin, sang nenek, adalah qari’saat muda. Dari neneknya itu, Ama belajar teknik melagukan Alquran. “Ibu mertua saya dulu sering diundang menjadi qari’. Tapi tak pernah sampai juara lomba,” ucapnya.

Perlahan, kemahiran Ama membaca Alquran semakin terasah. Lomba-lomba tingkat sekolah mulai sering diikuti. Dari sana, Jamil dan keluarganya baru mengetahui minat dan bakat anaknya. “Kami semakin fokuskan untuk mengasah kemampuan,” tuturnya.

Cara mengenalkan Alquran itu kemudian juga diterapkan ke Dina dan Zain. Dengan metode yang sama, Jamil memutar suara tartil setiap hari di rumahnya.

Meski begitu, keinginan dua anaknya mengikuti lomba tartil dan hafiz bukan karena paksaan orang tua. Justru, Dina dan Zain terinspirasi sang kakak yang sudah naik pesawat saat kelas 5 SD. “Katanya, ingin naik pesawat juga seperti kakaknya. Ingat saya, waktu itu Ama lomba tartil di Sumatera,” ungkapnya.

Lewat keinginan naik pesawat, Jamil menjadikannya momen itu untuk memotivasi. Kebetulan, keduanya juga berbakat di bidang tartil dan hafiz. Setelah itu, Dina dan Zain tidak hanya mewujudkan mimpinya naik pesawat, tetapi juga menorehkan banyak prestasi dan penghargaan dari berbagai perlombaan yang diikuti.

Di rumah, dalam mendidik anak, Jamil dan istrinya memberikan peraturan tidak tertulis. Saat jam belajar, mereka harus fokus belajar. Di era teknologi informasi seperti sekarang, keluarga tidak melarang anak-anaknya memiliki gawai. Pasalnya, ponsel pintar itu juga dijadikan media belajar. Hanya saja, Jamil tetap mengontrol penggunaan ponsel anak-anaknya. Setelah Magrib, biasanya dia melarang anak memegang alat komunikasi tersebut. “Tidak boleh ada yang menggunakan smartphone,” tegasnya.

Sebab, di jam tersebut, keluarga Jamil membiasakan anaknya untuk hafalan Alquran dan berlatih tartil. Waktunya sekitar satu jam atau berakhir sekitar pukul 19.00. Setelah itu, diperbolehkan lagi memegang gawai.

Sampai saat ini, Jamil menyebut, Ama sudah memiliki hafalan sampai 30 juz. Sedangkan Dina dan Zain masing-masing 8 dan 3 juz. Karena itu, keduanya harus mengangsur hafalan Alquran. “Sebenarnya bisa saja fokus hanya hafalan. Tiga, empat bulan selesai. Tapi saya membiarkan mereka menghapal perlahan. Supaya fokus juga dengan yang lain,” ungkapnya.

Selain batasan pemakaian gawai, Jamil secara berkala juga melakukan pengawasan terhadap penggunaannya. Seminggu sekali, dia mengecek ponsel anak-anaknya. Dengan bantuan aplikasi Google Account, Jamil tahu apa saja yang dibuka.”Anak-anak saya tidak tahu sebenarnya saya bisa ngecek. Memang saya biarkan begitu. Saya percaya mereka,” urai Jamil yang mengetahui cara tersebut setelah mengikuti pelatihan dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

Dari pengecekan itu, Jamil patut bersyukur. Sebab, anak-anaknya bisa bertanggungjawab dengan penggunaan ponsel pintar. Sejauh ini, baik Dina maupun Zain, lebih sering membuka channel Youtube dengan konten lagu-lagu Alquran. “Itu yang paling banyak dibuka. Mereka belajar Alquran,” imbuhnya.

Untuk konten hiburan, Jamil masih menganggapnya wajar. Misalnya Dina yang suka membuka tontonan Upin dan Ipin. Sedangkan Zain, lebih sering melihat cuplikan sepak bola. “Semua masih wajar. Kalau Ama saya anggap sudah dewasa. Jadi saya tidak perlu mengecek. Cukup berpesan saja,” tuturnya.

Di rumahnya, Jamil juga mengoleksi buku bacaan. Dari tiga rak, koleksinya terdiri atas buku agama, ilmu pengetahuan, dan sejarah. Selain membiasakan membaca Alquran, dia juga mengingatkan sang anak untuk rajin membaca buku. Karena itu, begitu anak-anaknya minta dibelikan buku, Jamil dengan senang hati mengantarkan dan membelikannya di toko buku.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia