Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Yoo Byongsu, Volunteer asal Korsel yang Mengajar di SMKN 2 Kota Kediri

Tingkatkan Disiplin, Adopsi Metode Korsel

30 September 2019, 18: 31: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

smkn 2 kediri korea yoo byongsu

PRAKTIK: Yoo Byongsu berbincang dalam bahasa Korea bersama siswa dan guru SMKN 2 Kota Kediri. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Dengan bekal seadanya, Yoo Byongsu memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Kali ini ia memilih menjadi volunteer. Mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kota Kediri. sebelumnya, Yoo bekerja sebagai insinyur telekomunikasi di negaranya.

Lalu-lalang siswa siang itu (25/9) di halaman SMKN 2 Kediri tampak padat. Beberapa siswa ada yang berkelompok. Memilih berdiskusi dengan teman-temannya. Sebagian kecil lain, ada yang berbincang akrab dengan dua orang guru. Salah satu di antara dua guru itu bermata sipit. Bahasa yang terucap pun bukan bahasa Indonesia. Melainkan bahasa dari negara asal sang guru, Korea Selatan.

Ya, lelaki itu adalah Yoo Byongsu. Dia adalah volunteer dari negeri ginseng tersebut. Mengajar bahasa Korea kepada siswa sekolah kejuruan tersebut.

“Saya sangat senang bisa mengajari mereka dan memperkenalkan bahasa Korea,” ucapnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Di SMKN 2 Kota Kediri, lelaki Korsel ini akrab disapa Mister Yoo. Dan, sang mister mengaku tak pernah membayangkan sebelumnya bisa menginjakkan kakinya di Kota Kediri.

Lalu, mengapa dia bisa sampai di Kota Kediri? Menurut Yoo, saat ini dia sedang mengikuti program yang bernama World Friend Koica (WFK). Kegiatan yang berupa pengiriman tenaga sukarelawan ke berbagai negara di luar Korsel. Penggagasnya adalah Koica, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi.

“Jadi seleksinya di Korea. Setelah pelatihan baru diterjunkan ke beberapa negara,” terangnya terkait kegiatan yang sumber dananya dari dana coorporate social responsibility (CSR) Koica tersebut.

Yoo juga baru tahu negara yang dia tuju setelah selesai pelatihan. Ketika namanya tercatat akan dikirim ke Indonesia, dia sempat kaget. Sebab, bayangannya awal dia dikirim ke negara lain, bukan Indonesia.

Namun, ketika sudah menginjakkan kaki di Kota Kediri, pria 48 tahun ini sangat senang. Terutama karena bisa memberikan inspirasi bagi para siswa di SMKN 2 Kediri. Bahkan,Yoo yang sudah mengajar selama 6 bulan ini sangat menikmati dengan suasana di Kota Kediri. Termasuk dengan kurikulum pendidikannya.

“Para siswa sangat antusias dengan bahasa dan budaya Korsel,” ujarnya.

Yoo mengaku, selain memberikan pembelajaran bahasa Korea, ia juga mempunyai misi untuk melatih kedisiplinan. Soal kedisiplinan itu dia terapkan karena melihat siswa di Indonesia masih lemah dalam soal tersebut. “Saya sempat gelisah dengan kedisiplinan siswa di Kediri. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kedisiplinan (siswa) Korsel,” ujarnya.

Para siswa SMKN 2 mulai mengikuti arahan yang mulai ia terapkan beberapa bulan terakhir. Beberapa jam pembelajaran yang diberikan pihak sekolah untuk dirinya pun saat ini lebih difokuskan pada pengembangan karakter kedisiplinan. Menurutnya, kedisiplinan sangat berpengaruh pada upaya siswa dalam menjemput prestasi di sekolah. Selain itu, kedisiplinan para siswa merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia pembelajaran.

“Kalau di Korsel justru siswa nyaris tiak berani melanggar aturan sekolah,” ungkapnya kepada koran ini.

Dengan kondisi ini, Yoo menegaskan akan berupaya mengadopsi gaya pembelajaran korsel di Kota Kediri khususnya terkait kedisiplinan. Lebih lanjut, ia juga akan menerapkan pembelajaran yang interaktif. Bahkan, ia juga sering menerapkan pembelajaran dialektika.

“Selain melatih komunikasi dengan baik, dialektika seperti ini juga untuk melatih keberanian siswa dalam bersosialisasi di masyarakat,” ucapnya.

Tak Dibayar, Siapkan Tabungan untuk Istri di Korsel

Berstatus volunteer  mengajar dan tinggal di Indonesia benar-benar merupakan misi sosial bagi Yoo Byoongsu. Sebab, selama bertugas di Indonesia yang rencananya berlangsung dua tahun, dia tak digaji. Hanya diberi uang makan dan tempat tinggal saja.

Lalu, bagaimana dengan nasib keluarganya di Korsel? Bukan berarti Mister Yoo lepas tangan. Pasalnya, pria berkaca mata ini  ternyata sudah mempersiapkan jauh-jauh hari terkait biaya hidup anak dan istrinya yang tinggal di Korsel. Pria yang sebelumnya pernah bekerja sebagai teknisi telekomunikasi ini sudah mempersiapkan sedemikian rupa sebelum memutuskan untuk hijrah di Kota Tahu. Terutama tabungan untuk biaya hidup keluarganya.

“Saya jalani program volunteer ini dengan senang hati meski tanpa upahnya,” ungkapnya kepada koran ini.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan setara S1 di Chungbuk University ini, kini tinggal harus rela hidup sendiri dan mempersiapkan kebutuhannya secara mandiri. Pria kelahiran 1 Maret 1971 ini sempat kesulitan beradaptasi dengan jenis makanan dan cuaca di Kota Kediri. “Awalnya saya kesulitan beradaptasi di Kota Kediri,” terangnya.

Kondisi inilah yang membuat Yoo sempat berpikir ingin pulang lagi ke Korsel. Namun, karena ketekatan niatnya untuk menyebarkan misi kemanusian untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Korsel, niatan itupun pupus.

“Niatan saya di sini (Kota Kediri, Red) hanya ingin memfasilitasi para siswa yang ingin belajar bahasa Korsel,” ujarnya.

Niatan ini pun bukan tanpa alasan. Menurutnya usaha yang ia lakukan untuk memudahkan para siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya di negeri ginseng. “Saya sering melihat warga Indonesia yang ingin kuliah namun kesulitan bahasa Korsel,” paparnya.

Meski begitu, menurutnya, upaya memperkenalkan bahasa korsel ini juga bisa digunakan untuk menghadapi era industri 4.0. Karena hubungan bisnis antara kedua negara juga mengalami peningkatan. Komoditas dari Korsel juga sudah masuk ke pasaran Indonesia. Demikian pula sebaliknya.

“Ini untuk mempermudahkan masyarakat indonesia dalam berkomunikasi,” ujar bapak dengan satu anak ini.

Yoo berharap dengan kehadirannya sebagai volunteer bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa di SMKN 2 Kediri. “Iya saya berharap dari siswa sini ada yang lanjut pendidikannya ke Korsel,” harapnya.

Yoo menegaskan, ia sangat senang mempersilakan beberapa siswa SMKN 2 Kediri yang ingin secara intensif belajar bahasa korsel. Meski di luar jam sekolah. Bahkan, dia secara sukarela juga membuka bimbingan belajar di rumah tinggal sementaranya untuk mengajari siapapun yang ingin belajar bahasa maupun budaya Korea.

“Saya tulus mengajari mereka (siswa, Red). Semua saya lakukan untuk siswa Indonesia khusunya di Kota Kediri,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia