Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

--- KPM 310 ---

30 September 2019, 18: 26: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Oleh : Iqbal Syahroni (radarkediri.id)

Share this          

Jika diartikan, kurang lebih artinya setiap sifat angkara bisa lebur, atau hancur oleh kelembutan. Sepenggal bait berbahasa Jawa buah karya dari Raden Ngabehi Ranggawarsita pada eranya. Namun makna dari bait tersebut akan terus dikenang dan abadi. Hingga saat ini pun, arti dari sepenggal bait tersebut masih relevan dalam mengingatkan diri agar selalu ingat dan waspada tentang sifat buruk.

Setidaknya itu yang saya pelajari dari beberapa sesepuh, atau teman-teman yang memang lebih aktif dalam kebudayaan Jawa. Bahkan, saya juga melihat banner besar dengan bait tersebut yang dipasang di pagar besi pembatas di tribun utara Stadion Brawijaya, Kota Kediri. Dari cerita-cerita tersebut, muncul pemikiran liar yang saya artikan, dan saya opinikan sendiri. Bisa jadi salah menurut para pembaca, namun namanya saja opini, saya juga tidak ingin memaksakan opini saya untuk kalian terima.

Seperti di dalam buku cerita, semua orang dengan sifat jahat, akan kalah oleh orang yang memiliki sifat baik. Hampir klise. Namun, ada beberapa orang yang sudah berpikir sinis. Seperti, “Orang-orang jahat selalu menang di dunia nyata.” Setidaknya itu menurut orang-orang yang memiliki pemikiran yang sinis.

Mereka kemungkinan tidak tahu, bahwa setiap orang dasarnya diciptakan dengan memiliki kebaikan hati. Sedikit atau banyak, tergantung dari setiap individu yang memelihara sifat kebaikan itu di dalam diri.

Bisa saja, orang “jahat” sebenarnya masih memiliki sifat kebaikan dari dalam dirinya. Namun, faktor-faktor lain yang ia alami semasa hidup membuatnya lupa untuk memelihatra sifat baiknya. Hingga sifat buruk menggerogoti, dan memegang kendali.

Sepenggal bait yang sudah diciptakan pada tahun 1800-an itu saya rasa masih terus akan relevan dalam menghadapi situasi apapun. Sama seperti yang mungkin sedang ramai terjadi di sekitar kita.

Segala sifat angkara yang ditunjukkan oleh “wakil rakyat” yang sedang duduk di Gedung Nusantara, Jakarta itu sedang dilawan oleh para pejuang demokrasi. Itu adalah salah satu contoh saja, di mana, para pejuang, sedang menunjukkan sifat kelembutan-kelembutan untuk melunakkan dan menghancurkan sifat angkara dari para tuan dan pemimpin yang terhormat disana.

Tidak ada yang salah dalam sebuah perjuangan. Niat para pejuang adalah untuk mempertahankan, dan mengingatkan, agar para penguasa negeri melunakkan hati mereka dengan kelembutan-kelembutan yang sedang dilakukan dalam beberapa minggu terkakhir di sudut-suduk kota di negara ini.

Di lain sudut, akan selalu ada para penunggang gelap yang memiliki sifat angkara untuk mengajarkan sifat-sifat tersebut kepada para pejuang. Iman, dan keteguhan hati yang kuat untuk berjuang tidak boleh kalah dari sifat angkara dari para penunggang gelap ini. Meski mereka juga sama-sama berjuang, namun perjuangan mereka tidak untuk membuat keadaan menjadi lebih baik seperti yang diemban oleh para pejuang demokrasi.

Bagi para pejuang, harus terus melapisi iman dan keteguhan hati agar tidak mudah terprovokasi. Sifat angkara lebih mudah menyebar dan menggerogoti diri jika para pejuang tidak mempertebal diri dan fokus kepada tujuan dan apa yang mereka niati. Api tidak akan selesai jika dibalas dengan api. Namun api dapat dipadamkan dengan air yang bersifat mendinginkan suasana.

Kejadian-kejadian tersebut, ibarat di dalam sebuah kereta yang bergerak ke arah yang menuntun kita ke tempat yang buruk, hanya dua pilihan kita. Menjadi bagian yang menuntun ke arah yang buruk, atau melawan. Namun kita tidak bisa menjadi netral dalam sebuah kereta yang sedang berjalan. Seperti yang dinyanyikan oleh Serj Tankian dalam sepenggal liriknya di lagu Deer Dance yang berbunyi: “..we can’t afford to be neutral on a moving train,”.

Tentu saja-jika memilih untuk melawan, perlawanan akan dilakukan dengan cara masing-masing. Melalui aksi, tulisan, atau teriakan. Semuanya sudah termasuk dan terhitung untuk berjuang melawan. Namun selalu ingat, bahwa perlawanan dengan sesuatu yang buruk akan lebih mudah jika dilakukan dengan kebaikan. Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia