Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Najwa Kahani Fatima, siswa MTs Negeri 2 Kota Kediri, Juara Kedua MYRES

Teliti Dampak Proyek Bandara Kediri

27 September 2019, 15: 08: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

myres madrasah najwa

PRESTISIUS: Najwa, bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kanan), Kepala MTsN 2 Kota Kediri Hadi Suseno, dan guru pembimbing usai menerima penghargaan di ajang MYRES. (NAJWA KAHANANI for radarkediri.id)

Share this          

Proyek bandara Kediri membuat Najwa terpantik. Gaya hidup warga terdampak pembebasan tanah diluapkannya melalui karya ilmiah. Mengantarkan siswa kelas IX MTsN 2 Kota Kediri ini gemilang di ajang Madrasah Young Researchers Supercamp (MYRES) 2019

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kota, JP Radar Kediri

Bel panjang terdengar di madrasah yang berada di Jalan Sunan Ampel Kota Kediri ini. Sejurus kemudian disusul suara wanita di pengeras suara, yang menyebutkan bahwa waktu pergantian jam pelajaran berlangsung. Namun, aktivitas di beranda sekolah masih ramai. Beberapa siswa terlihat mondar-mandir. Sebagian lagi berjalan menuju ruang guru.

Salah satu siswa yang menuju ruang guru itu adalah Najwa Kahani Fatima. Langkahnya mantap. Semantap prestasi yang baru diraihnya. Gadis yang biasa disapa dengan panggilan Najwa ini baru saja mengharumkan nama sekolah di ajang MYRES 2019 di Kota Manado, Sulawesi Utara. Menjadi juara kedua.

Kesuksesan Najwa itu berkat upayanya mengangkat kondisi orang kaya mendadak di sekitar lahan proyek bandara Kediri. Meneliti tentang dilema gaya hidup dan pola pikir masyarakat terdampak proyek tersebut.

“Saya lihat ada perubahan drastis di masyarakat yang terdampak. Terutama dalam kepemilikan transportasi dan kepemilikan rumah di daerah tersebut,” ungkap gadis penghobi fotografi dan menulis itu tersenyum.

Kepemilikan transportasi yang dia maksud adalah semakin banyaknya masyarakat yang membeli kendaraan pribadi. Baik mobil maupun motor baru. Sementara yang lain, Najwa mengungkapkan, banyak masyarakat yang mengubah rumahnya menjadi semakin bagus.

Daerah yang menjadi fokus observasi Najwa adalah empat desa di tiga kecamatan. Desa Bulusari dan Desa Tarokan di Kecamatan Tarokan. Serta Desa Jatirejo Kecamatan Banyakan, dan Desa Grogol Kecamatan Grogol.

“Setelah saya tanyakan lebih lanjut, itu karena warga di sana dapat banyak uang dari hasil pembebasan lahan untuk bandara Kediri,” jelasnya.

Dari kondisi itu, putri pasangan Taufik Chavifudin dan Yuni Puji Astutik tersebut tergelitik ingin mengetahui pengelolaan uang oleh masyarakat. Mendapat uang banyak dalam waktu cepat dapat mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat.

Tentu saja, gadis 15 tahun itu harus jatuh bangun dalam proses penelitiannya. Berbagai tantangan harus dilaluinya. Dia harus berjuang agar mendapatkan data yang akurat dari masyarakat. Mulai dari wawancara, pengamatan di lapangan, hingga melakukan focus group discussion (FGD) di empat desa. Termasuk dalam melakukan analisis data. “Saat pengumpulan data itu benar-benar menyita waktu,” ungkap gadis kelahiran tahun 2004 ini.

Beberapa kali ia harus izin ke sekolah untuk merampungkan penelitiannya sebelum dibawa beradu di babak final. Belum lagi ketika terjun langsung dan pengumpulan data di masyarakat. Total waktu yang diberikan selama pengumpulan data itu mencapai satu bulan. “Jadi saya harus jelaskan dari awal, ke sana itu tujuannya untuk apa,” urainya.

Masalah pembebasan lahan proyek bandara bagi sebagian orang adalah hal yang krusial. Banyak di antaranya yang menolak diwawancarai. Sebagian ada yang takut. “Karakter orang beda-beda. Ya bagaimana caranya saya menjelaskan penelitian ini agar mereka mau diwawancara,” sebutnya.

Lebih dari satu bulan ia harus menyelesaikan penelitian tersebut. Hingga akhirnya, pada pertengahan September ia berangkat sebagai salah satu dari 9 finalis bidang humaniora di ajang MYRES. Ajang yang sangat bergengsi karena ada ribuan proposal penelitian yang diajukan peserta dari 34 provinsi.

Najwa mendapatkan kesimpulan dari penelitian itu. Setidaknya ada 4 perubahan sosial dalam gaya hidup masyarakat di daerah terdampak. Terutama dalam hal pengelolaan uang yang mereka dapat. Yakni gaya hidup modern, gaya hidup sehat, gaya hidup hedonis, dan gaya hidup hemat.

“Sementara untuk perubahan sosial pola pikir masyarakat yakni pola pikir statis dan pola pikir dinamis,” ungkap siswa dari jalur akselerasi tersebut.

Najwa pun merumuskan saran berdasar hasil penelitiannya itu. Di antaranya adalah perlunya pembinaan dan pengarahan pada masyarakat.  Terutama dalam hal pengelolaan uang.

“Kemudian juga perlu adanya pengembangan UKM bagi masyarakat terdampak yang memiliki usaha,” paparnya.

Keuletan Najwa selama proses penelitian ini diakui guru pembimbingnya, Nur Farida. Menurut Nur Najwa adalah anak yang mandiri. Rajin dan pandai mengatur jadwal. “Selama penelitian dan terjun ke lapangan, saya sama sekali tidak mendampingi,” pujinya.

Padahal, dalam penelitian sosial membutuhkan mental dan keberanian tinggi. Khususnya untuk berinteraksi secara langsung dengan narasumber. Termasuk membuat video profil penelitian yang juga dilakukannya dengan mandiri. “Anak ini memang karakternya kalem. Tapi untuk hal berkomunikasi, dia sangat lancar,” pujinya.

Kepala MTsN 2 Kota Kediri Hadi Suseno juga mengapresiasi prestasi yang diraih siswanya tersebut. “Alhamdulillah kami memberi apresiasi dan penghargaan atas capaian ini. Semoga ke depan bisa mendorong prestasi dan semangat siswa yang lain,” ungkapnya.

Semangat Najwa tentu saja menjadi nilai positif dalam perkembangan pendidikan di sekolahnya. Menjadi contoh siswa berprestasi yang sangat menginspirasi. Sosok gadis mandiri, yang peduli akan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Memberi informasi dari hasil penelitian. Sebagai tambahan ilmu untuk pengarahan dan bekal bagi warga. Termasuk, mereka yang mengalami dilema usai pembebasan lahan untuk proyek bandara.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia