Selasa, 22 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Riza Farizaha, Siswi SMKN 2 Kediri, Olah Sampah Plastik Jadi Minyak

Hasilkan Mbah Lasi dari Alat Rp 250 Ribu

26 September 2019, 14: 30: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

smkn 2 kediri

CERDAS: Riza Farizaha diapit oleh Kepala SMKN 2 Kediri Mashari Krisna Edy (kanan) dan guru pembina pramuka Juliani. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Regulasi lomba yang mengharuskan eksperimen berbiaya murah tak menyulitkan gadis ini. Menggunakan peralatan ala kadarnya siswa SMKN 2 Kediri ini mampu menghasilkan karya fenomenal. Yang mengantarnya menjadi kampiun dalam Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka Jatim 2019.

DWIYAN S. NUGRAHA,  Kabupaten, JP Radar Kediri

Tiga orang berada di ruangan 8 x 8 meter itu. Sang pemilik ruangan, Kepala SMKN 2 Kediri Mashari Krisna Edy, berbincang akrab dengan dua orang lainnya. Semuanya perempuan. Yang seorang, berseragam pramuka, adalah Juliani. Wanita ini guru pembina pramuka di sekolah tersebut. Sedangkan yang seorang lagi seorang siswa. Namanya, Riza Farizaha. Masih duduk di kelas XI.

Baca juga: Merawat Bunga Anggrek: Rumah Cantik, Penghasilan Naik

Sejurus kemudian, Riza berdiri. Dia mempraktikkan aktivitas yang baru saja mengantarkannya menjadi juara dalam salah satu lomba di Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka Jatim 2019 di Pasuruan beberapa waktu lalu. Yaitu membuat bahan bakar minyak dari sampah plastik.

Riza kemudian menyambungkan pipa plastik kecil dengan panci yang sudah dilubangi. Di panci itu, seharusnya ditempatkan sampah plastik yang akan diolah menjadi minyak. Yang kemudian dipanaskan di tungku yang terbuat dari tembikar. Namun, karena saat itu gadis ini hanya memeragakan cara membuat minyak saja, hal itu memang tak dilakukan.

“Kalau sudah benar-benar masak, hasil pembakaran plastik akan mengalir dengan baik,” terang siswa asal Desa Kawedusan, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini.

Eksperimen Riza tersebut akhirnya yang mengantarkan dia menjadi juara dalam lomba tersebut. “Berkat dukungan kepala sekolah dan pembina pramuka alhamdulillah saya bisa menjuarai kompetisi pramuka kelir tingkat Jatim,” ucap Riza.

Jalan gadis ini menjadi juara di tingkat Jatim tak mudah. Bahkan relatif panjang. Sebelum mengikuti kejuaraan tingkat Jatim itu dia terlebih dulu berkompetisi di tingkat eks-Karesidenan Kediri pada 4 Maret silam. Saat itu, gadis kelahiran 19 Juni 2002 ini mengikuti lomba yang berlangsung di Kabupaten Blitar.

“Kemudian saya mewakili wilayah (eks) Karisidenan Kediri untuk mengikuti proses perlombaan tingkat Jawa Timur,” ungkapnya.

Meskipun datang berstatus juara wilayah eks-Karesidenan, bukan berarti Riza tak mendapatkan kendala. Bahkan, tantangan yang harus dia lewati cukup berat. Yaitu terkait regulasi lomba.Yang mengharuskan peserta memiliki hasil karya teknologi tepat guna (TTG). Tapi dengan harga pembuatan alat yang tak boleh mahal. Tak boleh lebih dari Rp 500 ribu.

Menghadapi tantangan itu, otak Riza berputar keras. Akhirnya keluar ide membuat alat pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak. Peralatan untuk itu hanya butuh Rp 250 ribu. Atau setengah dari batas maksimal yang ditentukan panitia.

“Kami hanya menggunakan alat yang ala kadarnya. Alhamdulillah berhasil menciptakan olahan minyak mentah,” ujarnya kepada koran ini.

Riza terus rutin mengecek hasil ciptaannya untuk disempurnakan. Hasil ciptaanya tersebut dia namakan Mbah Lasi. Akronim dari limbah plastik multi solusi.

“Hanya menggunakan sampah plastik sudah bisa mengolah minyak yang bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas,” terangnya.

Plastik yang digunakan dalam karyanya itu diperoleh dari mengumpulkan dan memisahan sampah plastik di sekolah. Apalagi dia selama ini memang gelisah melihat semakin menumpuknya sampah plastik. Itu pula yang membuatnya terpancing untuk menjadikan sampah itu jadi bahan penelitian.

Riza mengklaim alat hasil pengolahan samapah menjadi minyak itu tidak kalah dengan produksi hasil pabrikan . “Apalagi alat ini sangat ramah lingkungan dan minim biaya,” ujarnya.

Karena itulah, menurutnya, alat tersebut bisa diaplikasikan di masyarakat. Karena biayanya hanya Rp 250 ribu. Yang sudah bisa mengolah limbah plastik menjadi minyak. “Ini selain untuk mengurangi peredaran sampah plastik, juga bisa sebagai alternatif produksi (bahan bakar) minyak,” paparnya.

Kepala SMKN 2 Kediri Mashari Krisna Edy menyambut baik dengan prestasi anak didiknya tersebut. Prestasi ini sekaligus membukukan untuk kesekian kalinya prestasi dari siswanya. “Selain prestasi akademik, kami juga terus membukukan prestasi non-akademis,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya akan memfasilitasi Riza untuk proses selanjutnya pasca-kompetisi tersebut. Edy mengaku akan berkomunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait, yaitu Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Kediri. Setidaknya agar ada tindak lanjut pada hasil penelitian anak didiknya tersebut. “Kami juga akan memfasilitasi hingga uji laboratorium untuk keabsahan jenis kandungan minyak hasil penemuan ini,” terangnya.

Edy menegaskan, hasil prestasi ini sekaligus ikut berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik di Kota Kediri. “Ini sangat mungkin untuk diaplikasikan oleh ibu rumah tangga, karena ramah lingkungan,” ucapnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news