Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kemarau Panjang, Petambak Ikan Terancam Gulung Tikar

20 September 2019, 13: 45: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

kemarau

KERING: Warga Desa Banaran, Kecamatan Kandangan, melintasi hutan jati yang meranggas. Hutan di daerah ini rawan terbakar di musim kemarau seperti sekarang ini. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Kemarau panjang yang terjadi saat ini berimbas pada petambak ikan air tawar. Mereka terancam gulung tikar. Ikan yang mereka budidayakan banyak yang mati.

Ancaman kematian ikan itu menimpa petambak ikan gurami dan lele. Bagi peternak gurami, ikan budidaya mereka banyak yang mati karena pergantian suhu ekstrem antara siang dan malam. Sedangkan petambak lele kerepotan karena peliharaannya terkena ‘moncong putih’ akibat turunnya debit air di kolam.

Belum lagi, harga ikan juga relatif kurang bagus. “Sekarang ini harga pasarannya paling Rp 30 ribu per kilogram,” ujar Muhammad Turmudi, petambak ikan gurami asal Desa Mojosari, Kecamatan Kras. Padahal, sambungnya, saat normal harganya bisa mencapai Rp 35 ribu per kilogram.

Turmudi mengatakan, saat ini para petambak ikan harus menguras otak agar bisa bertahan. Untuk menyelamatkan ikan dari kematian misalnya, para petambak harus rajin mengatur suhu air di siang hari. Pada siang hari suhu air kolam sangat panas. Sedangkan pada malam hari sangat dingin. Para petambak pun harus rajin memeriksa suhu air kolamnya setiap saat.

“Kami rutin mengecek air dengan memberikan tambahan air sebagai penetralisir (suhu),” terang lelaki yang juga kasi pemerintahan Desa Mojosari ini.

Berbeda lagi dengan kondisi yang harus dihadapi para petambak lele. Krisis air menjadi sumber petaka bagi mereka. Bahkan, petambak di wilayah Kecamatan Ringinrejo mengentikan sementara budidaya lelenya.

“Kami kesulitan untuk mengganti air secara rutin,” ungkap pengusaha lele asal Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo, Andi prayitno.

Menurutnya, menghentikan prosuksi menjadi langkah terakhir para petambek lele. Ini terjadi karena pasokan air tawar berkurang. Sebelumnya, mereka melakukan berbagai upaya agar usaha budidaya ikan tawar ini terus berlanjut.

Masih kata Andi,  musim kemarau juga rawan terhadap ancaman penyakit. Salah satunya adalah yang dikenal dengan moncong putih. Penyakit ini adalah jamur yang menyerang bagian mulut ikan lele. Jamur ini tumbuh subur karena kondisi PH air yang tak ideal.

Solusinya, menurut Andi, para petambak biasanya mencoba melakukan migrasi ke area tambak lain yang pasokan airnya aman. Meskipun demikian langkah ini juga bukannya tanpa risiko. Karena berpotensi berkurangnya ikan saat pemindahan dan membengkaknya biaya operasional. “Karena itulah kami memutuskan untuk menghentikan produksi sementara,” pungkasnya.

Sementara itu, kemarau tahun ini diperkirakan masih berlangsung hingga bulan depan. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri telah siap siaga jika kekeringan melanda daerah yang rawan. “Sesuai perkiraan BMKG musim kemarau sampai Oktober,” kata Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Randy Agatha Sakaira.

Menurut Randy, selain antisipasi daerah pertanian yang telah dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun), langkah siaga juga dilakukan jika kekeringan melanda areal pemukiman. Dari pemaparan Randy, BPBD siap mendistribusikan air bersih jika mendapat laporan kekeringan di daerah yang membutuhkan.

“Kalau memang membutuhkan kami akan siap melakukan dropping sesuai kebutuhan,” kata Randy.

Dropping yang dilakukan BPBD jika ada daerah yang kekurangan air bersih biasanya dengan mobilisasi air menggunakan 2 truk tangki. Kapasitasnya 400 liter per tangki. Sejauh ini, menurutnya, kondisi kemarau di Kabupaten Kediri untuk wilayah pemukiman masih aman. Belum ada daerah yang melaporkan kejadian kekurangan air bersih.

Hanya saja, BPBD telah mendata sembilan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan atau kekurangan air bersih tahun ini. Sembilan daerah itu merupakan desa-desa yang tersebar di lereng gunung Kelud dan Wilis.

Di antaranya seperti Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung; Desa Satak, Kecamatan Puncu; dan Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten. Juga di daerah barat sungai seperti Desa Bobang, Kecamatan Semen yang tahun lalu mengalami kekeringan sumur.

Di sisi lain, akibat kemarau panjang ini di beberapa lokasi terlihat pepohonan yang daunnya mulai meranggas. Apalagi di beberapa tempat juga telah terjadi kebakaran ilalang. Utamanya di areal hutan yang terdapat banyak ilalang kering.

Tentu saja, dengan keadaan demikian, sebelumnya Randy telah mengungkapkan bahwa kemarau hanya menjadi faktor pendukung dalam kejadian kebakaran. “Meskipun belum bisa memastikan tapi selama ini disinyalir tetap karena fakor aktivitas manusia,” jelasnya.

Selama ini BPBD belum bisa mencatat penyebab pasti sumber utama ketika ada kebakaran. Terutama saat terjadi kebakaran hutan yang menurutnya cukup sulit dalam pencegahannya. Apalagi titik api selalu jauh dari jangkauan. “Untuk kebakaran hutan kami lebih menjaga agar tidak meluas ke area pemukiman,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Sejauh ini, dari kasus kebakaran di hutan, aktivitas yang menjadi pemicu terjadinya kebakaran antara lain adalah pencari lebah madu yang mengandalkan api. Termasuk pencari burung di area lereng pegunungan. “Juga karena rokok, jadi sebelum membuang puntung, harus dipastikan sudah benar-benar mati,” pesannya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia