Senin, 21 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Penjual Roti Cabuli Bocah Ngaji di Ngadiluwih

Di Pagu, Gadis SLB Dihamili Tetangga

20 September 2019, 13: 40: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Pencabulan Anak di Kediri

Pencabulan Anak di Kediri (radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN - Bejat nian tindakan Imam Safii, 55. Penjual roti bakar keliling di Kecamatan Ngadiluwih ini tega mencabuli Bunga, 8. Lebih bejat lagi, aksi pencabulan itu justru dilakukan di kamar mandi musala. Tempat Bunga mengaji.

Kasus ini telah ditangani oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kediri. Pelaku, Safii, sudah dimasukkan sel tahanan.

Pencabulan Anak di Ngadiluwih

Pencabulan Anak di Ngadiluwih (radarkediri.id)

Kasubag Humas Polres Kediri Iptu Purnomo mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (14/9) lalu. Pada saat itu korban sedang mengaji di musala tersebut bersama teman-temannya. Sementara Imam Safii tengah menjajakan roti bakarnya.

“Pelaku bekerja sebagai penjual roti bakar keliling. Biasanya pelaku menjajakan dagangannya di masjid tempat korban mengaji,” ungkap Iptu Purnomo.

Kebetulan, saat itu korban tidak membawa uang saku. Dengan didasari niat licik, Imam menawarkan roti bakar secara gratis. Namun, saat itu korban tidak mau. Korban justru meminta uang kepada pelaku.

Setelah memberi uang Rp 2 ribu sesuai permintaan, Safii kemudian mengajak Bunga ke kamar mandi musala. Di dalam kamar mandi itulah si penjual roti bakar ini melakukan aksinya. Mencabuli korbannya. Dengan memegang-megang bagian kemaluan korban.

Sesampai di rumah, Bunga menangis tanpa sebab. Kedua orang tuanya bingung. Mereka kemudian menanyai sang anak. Betapa kagetnya mereka setelah Bunga menceritakan kejadian kelam yang diterima dari Safii.

“Korban merasa trauma akibat kejadian tersebut. Orang tua korban menanyai dan korban menceritakan apa yang dialaminya,” terang Iptu Purnomo.

Orang tua Bunga kemudian langsung melaporkan kasus itu ke Polsek Kandat. Kemudian ditindaklanjuti oleh Unit PPA Satreskrim Polres Kediri. Polisi kemudian melakukan penangkapan terhadap pelaku. Adapun barang bukti yang diamankan dari penangkapan Imam adalah pakaian milik korban.

“Atas perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 81 Undang Undang No 23 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ancaman hukuman pidana penjara minimal selama 5 tahun.

Sementara itu, kasus perkosaan menimpa anak berkebutuhan khusus yang masih berusia 17 tahun. Nasib malang itu menimpa, sebut saja, Mekar. Ironisnya, remaja asal Kecamatan Pagu ini juga tengah mengandung anak hasil kebejatan perbuatan Tumijan, 58, tetangganya.

Tumijan saat ini sudah ditahan pihak kepolisian. Pekerja di perusahaan kerupuk itu diamankan setelah kasus asusila ini terbongkar. Sementara korban segera mendapat asesmen dari dinas sosial.

“Kini korban tengah mendepat pengwasan dari dinas sosial kabupaten,” terang Dyah Saktiana, kabid Rehabilitasi.

Yang memilukan, gadis anak pasangan Giyono dan Suci Lestari ini tidak seperti anak-anak sebayanya. Kumbang merupakan anak berkebutuhan khusus. Dia belajar di sekolah luar biasa (SLB)

Orang tua korban baru tahu peristiwa itu ketika perut Kumbang semakin membesar. Karena merasa curiga Suci langsung memeriksakan anaknya tersebut ke dokter kandungan. Benar saja, ketika diperiksa dokter diketahuilah bahwa Kumbang dalam keadaan mengandung. “Karena kondisinya, korban bicaranya sedikit sulit,” terangnya.

Setelah mengetahui anaknya hamil, kedua orang tua Kumbang mencoba menginterogasi sang anak. Hasilnya, Kumbang kerap diajak pergi oleh Tumijan. Kejadian itu berlangsung sepulang Kumbang dari sekolah. Kebetulan saat itu rumah dalam keadaan sepi karena Giyono dan Suci tengah bekerja.

“Si anak sering diajak main dan diberi uang (oleh pelaku),” tutur Nana. 

Nana menjelaskan, Kumbang yang tidak mengerti apa-apa menuruti kemauan pelaku. Dengan mudah dia diajak oleh laki-laki yang bekerja sebagai pembuat kerupuk itu. Dan itu dilakukan Tumijan tak hanya sekali. Tapi sudah berkali-kali.

Mengetahui kejadian tersebut, Suci langsung melaporkan kejadian kepada pihak kepolisian. Untuk proses selanjutnya, kini Tumijan telah diamankan di Mapolres Kediri.

Berdasarkan keterangan pelaku kepada polisi, pertama kali aksi bejat berlangsung Januari lalu. Lokasinya di rumah pelaku. Saat itu sekitar pukul 16.00 WIB, Kumbang bermain ke rumah pelaku. Tumijan mengaku Kumbnag langsung masuk ke kamarnya saat dia beristirahat sepulang kerja. Pada saat itulah terbersit niat jahat di benak Tumijan, yang langsung memeluk korban.

“Pelaku kemudian melakukan persetubuhan terhadap korban hingga beberapa kali,” terang Kasubag Humas Polres Kediri Iptu Purnomo.

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya satu lembar baju warna hitam yang dipakai korban dan dua potong celana.  Polisi juga mendapatkan hasil visum yang membuktikan adanya kerusakan pada kemaluan korban.

Atas perbuatannya itu, kini pelaku harus mendekam di balik jeruji besi Polres Kediri. Tumijan dijerat dengan Pasal 81 Undang Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman pidana penjara selama minimal lima tahun.

Korban sendiri kini ditangani oleh dinsos dan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). Mereka melakukan asesmen tak hanya pada Kumbang, tapi juga memberi edukasi pada orang tua agar kesehatan Kumbang terus terjaga.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia