Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Galih Surya Hutama, Pegiat Online Penyandang Difabel Cerebral Palsy

Mandiri dengan Kuasai Komputer

19 September 2019, 15: 34: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

cerebral palsy

Berada di ruangan 6x5 meter di kediamannya yang ada di Perumahan Tugurejo Indah, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Galih Surya Hutama duduk di kursi roda, Rabu. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Kondisi keterbatasan fisik karena harus selalu di kursi roda tak membuat Galih putus asa. Dia tetap berusaha menjalani hidup dengan menjadi menjadi pegiat online.Tak pernah andalkan belas kasihan orang lain.

DWIYAN SETYA NUGRAHA JP Radar Kediri, Kabupaten

Berada di ruangan 6x5 meter di kediamannya yang ada di Perumahan Tugurejo Indah, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Galih Surya Hutama duduk di kursi roda, Rabu (18/9). Cerebral palsy yang dideritanya sejak 9 bulan membuat dia tak bisa meninggalkan kursi itu.

Cerebral palsy adalah gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak. “Jadi motorik otak kanan sedikit mengalami gangguan,” tuturnya dengan lirih.

Tangannya tampak sibuk dengan beberapa pekerjaannya yang harus ia selesaikan saat itu. “Aktivitas saya jualan online gini Mas,” ucapnya. Galih memang mengalami kelainan pada saraf otak kanan dan tulang ekor. Sehingga ia kesulitan dalam berjalan dan bergerak. Praktis, hanya jari telunjuk saja yang bisa digerakkan dengan cepat.

Karena keterbatasan itu, sebelum punya keterampilan kerja, Galih sempat merasa minder dan menghabiskan waktunya di kasur saja. Bayang-bayang masa depan yang menuntutnya harus hidup mandiri selalu menghantuinya. Khawatir dirinya tidak bisa bekerja layaknya orang normal. “Hanya ibu yang membuat saya termotivasi gini,” terangnya.

Selesai menamatkan pendidikannya di sekolah dasar, Galih memutuskan untuk melanjutkan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul Jogjakarta. “Waktu itu saya ikut keluarga dan sekolah ke Kota Gudeg,” ungkap pemuda kelahiran 30 April 1996 ini.

Awalnya Galih hanya bermain game online saja, namun secara lambat laun, Galih pun bisa mengerjakan beberapa desain grafis maupun corel draw secara otodidak. “Tidak ada yang ngajari, saya bisa karena tiap hari utak-atik komputer,” ucapnya sambil tertawa.

Tetapi tiga tahun kemudian, Galih memutuskan pulang ke Kediri karena masa kerja orang tuanya sudah habis. Hingga akhirnya Galih memulai hidup dan aktivitas barunya di Kediri. “Awalnya saya minder karena tidak punya teman di sini (Perumahan Tugurejo Indah, Red), namun kami sering mengikuti kegiatan perumahan akhirnya bisa mengembangkan usaha ini,” paparnya.

 Ketika itulah, Galih mengetahui celah yang harus ia tangkap. Salah satunya usaha melayani pembayaran online. Seperti pembayaran BPJS, token listrik, asuransi, bayar tagihan, transfer uang hingga melayani pengetikan hingga print out. “Alhamdulillah, satu bulan saya bisa melayani pembayaran listrik rutin hampir 80 orang sekitar perumahan ini,” terangnya.

Tanpa diduga, aktivitas yang ia jalani selama 7 tahun sejak kepulangannya belajar di Jogja mendapatkan perhatian khusus warga perumahan sekitar. Alhasil, segala pembuatan website, hingga pembuatan video pun sering ia kerjakan. “Mungkin basic dan rezeki saya disini (usaha online) mas,” tandasnya.

Bahkan, karena masalah rumah tangga keluarganya, akibatnya Galih harus berpisah dari ayahnya. Galih sehari-hari hanya hidup bersama ibunya Ninuk Suci Rahayu Ningtyas yang membuat kue-kue kering melalui online.

“Jadi, saya yang biasa menawarkan melalui online,” ungkapnya.

Sampai akhirnya, Galih menemukan dunia barunya dan kini merambah ke dunia Youtube dan video. Menurutnya, dunia yang mulai ia geluti ini merupakan cita-citanya untuk menjadi Youtubers.”Saya ingin mengabadikan kegiatan saya selama kursi roda, agar bisa menginspirasi masyarakat yang mengalami hal yang sama (difabel),” paparnya.

Menurut Galih, dengan kegiatan positif ini, ia ingin menyebarkan spirit semangat bagi masyarakat yang mengalami kondisi yang serupa dengan dirinya. “Kami hanya ingin saling memotivasi para kaum difabel, khususnya yang mengalami cerebral palsy seperti saya,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia