Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Stok Tandon di BPBD Nganjuk Menipis

Tujuh Desa Berpotensi Kekurangan Air Bersih

19 September 2019, 12: 53: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

Tandon

MINIM:Staf BPBD Nganjuk mengecek kondisi enam tandon yang masih tersisa. Mereka memastikan tandon tersebut bisa berfungsi dengan baik. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Stok tandon di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk menipis. Hal tersebut menyusul meluasnya kekeringan hingga minggu ketiga September ini. Padahal, di luar enam desa yang saat ini kesulitan air, masih ada tujuh desa lain yang berpotensi krisis air bersih.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Nganjuk Nugroho mengatakan, meluasnya kekeringan ke Desa Genjeng, Loceret dan Desa Pule, Jatikalen, membuat kebutuhan tandon membengkak. Apalagi, khusus di Desa Genjeng, kebutuhan tandon jauh lebih besar dari hasil asesmen. “Saat asesmen disiapkan lima (tandon, Red). Ternyata ada tambahan dua. Jadi butuh tujuh tandon,” ujar Nugroho.

Untuk diketahui, sebelumnya BPBD Nganjuk memiliki stok 41 tandon. Baik tandon pengadaan dari APBD maupun bantuan dari provinsi. Setelah tandon didistribusikan ke delapan desa, stok tandon di BPBD tinggal enam unit.

Tiap tandon memiliki kapasitas 1.200 liter air. Dengan didistribusikannya tandon ke daerah yang kekurangan air, warga bisa mendapat pasokan yang cukup. Termasuk distribusi tandon ke Desa Genjeng, Loceret, beberapa waktu lalu.         Pendistribusian tandon, menurut Nugroho sekaligus untuk efisiensi proses dropping. Tim BPBD tidak perlu lagi mengecer air bersih ke rumah warga. “Lebih hemat waktu,” lanjut Nugroho sembari menyebut empat tandon juga sudah didistribusikan ke Desa Pule, Jatikalen. 

Untuk memenuhi kebutuhan air di dua desa tersebut, BPBD berencana akan mengirim air sebanyak empat tangki. “Masing-masing desa dikirim dua tangki, sambil jalan akan dilakukan evaluasi,” terang alumnus STPDN itu sembari menyebut kebutuhan air bersih di Pule dan Genjeng sekitar 8.000-10 ribu liter.

Sementara itu, menipisnya stok tandon di BPBD Nganjuk mengancam penanganan bencana kekeringan di Kota Angin. Padahal, di luar enam desa yang mengalami kekeringan tersebut, sesuai pemetaan BPBD masih ada tujuh desa lain yang rawan mengalami kekeringan di musim kemarau panjang tahun ini.

Yaitu, Desa Pinggir, Prayungan, Sumbersono, Kecamatan Lengkong. Kemudian, Desa Ketawang, Sumberejo, Kecamatan Gondang; serta Desa Karangsono, Kecamatan Loceret, dan Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Ngetos.

Bagaimana memenuhi kebutuhan tandon jika tujuh desa tersebut menyusul enam desa lain yang mengalami kekeringan? Ditanya demikian, Nugroho menjelaskan pihaknya masih akan berkoodinasi dengan Pemprov Jatim. Tujuannya, agar mereka mau membantu kebutuhan tandon. “Kalau tidak bisa terpaksa pakai belanja tidak terduga (BTT),” terangnya.

Ditanya ketersediaan air bersih di tujuh desa tersebut, Nugroho mengatakan, timnya baru saja melakukan asesmen di Desa Pinggir, lengkong. Hasilnya, di sana masih ada sumber air yang bisa dimanfaatkan warga. Sehingga, stok air bersih masih relatif aman.

Seperti diberitakan, total ada 13 desa yang masuk peta rawan bencana kekeringan di Nganjuk. Hingga minggu ketiga September ini, enam desa di antaranya sudah mengalami kekeringan. Yaitu, Desa Gampeng, Tempuran, Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu; Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong; serta Desa Pule, Kecamatan Jatikalen; dan Desa Genjeng, Kecamatan Loceret.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia