Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Wawancara dengan Sutrisno: Perusahaan Lebih Butuh Eggy

17 September 2019, 16: 31: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Sutrisno

Sutrisno, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri

Share this          

Hilangnya nama Eggy Adityawan dari bursa pencalonan bupati dan wakil bupati Kediri menimbulkan sejumlah pertanyaan. Sebab, dialah yang konon digadang-gadang untuk melanjutkan kepemimpinan trah Sutrisno di Kediri. Ada apa sebenarnya di balik itu? Berikut wawancara dengan sang ayah, Sutrisno, yang juga mantan Bupati Kediri di Gunung Kelud, Minggu (15/9) lalu.

Anda kembali memberikan kejutan politik dengan hilangnya tiba-tiba nama putra Anda, Eggy, dalam bursa pencalonan bupati-wabup. Apakah keputusan itu diambil untuk menepis isu dinasti yang dapat menjadi batu sandungan?

Bukan. Kalau sekadar menepis isu dinasti, kan siapa saja boleh mencalonkan sepanjang tidak melanggar aturan. Dihukum pidana, misalnya. Nah, Eggy tidak ada masalah terkait hal itu. Tidak ada aturan yang melarang. Partai (PDIP), DPP, pun tidak ada larangan. Tapi, memang bukan itu alasan untuk tidak mencalonkan Eggy.

Apakah ini sebuah manuver yang disengaja, untuk mengacaukan prediksi lawan misalnya, mengingat nama Eggy sudah muncul sejak awal?

Terserah saja orang menafsirkan. Yang jelas, saya sudah menyiapkan ini sejak dua tahun lalu. Bukan hal yang tiba-tiba. Saya memilih Pak Mujahid karena memang cocok. Selain itu sudah berpengalaman lama di birokrasi. Lha digandengkan dengan Pak Eko Ediyono karena keduanya juga sudah saling cocok. Saling kenal juga. Jadi, bisa bekerja sama ke depan.

Tapi, bukankah awalnya nama Eggy sempat disebut sebagai bakal cabup. Lalu, bergeser menjadi cawabup dengan Mujahid sebagai cabup. Dan, terakhir malah hilang sama sekali?

Ya kalau kabar-kabar yang belum pasti begitu biarkan saja. Yang pasti kan setelah ada pendaftaran di partai dan nama anak saya tidak ada di situ. Artinya, Eggy memang tidak akan ikut pemilihan bupati tahun depan. Sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. 

Lalu, apa alasan sebenarnya dari menghilangnya nama putra Anda tersebut dari bursa pencalonan?

Kami, keluarga, ingin dia fokus mengurusi perusahaan. Dia sekarang sudah menjadi CEO (chief executive officer) dari Trisna Group, holding perusahaan kami. Ada puluhan perusahaan di bawahnya. Dan, sekarang, perusahaan ini sedang membutuhkan regenerasi pemimpin. Sekaranglah saatnya.

Sebegitu pentingkah regenerasi di perusahaan Anda dibanding meregenerasi kepemimpinan Anda di Kabupaten Kediri?

Saya sudah tidak muda lagi. Sebenarnya, juga sudah sejak lama saya tidak menjadi pengurus perusahaan. Sudah dilanjutkan anak-anak. Tapi, di dunia bisnis banyak perubahan yang harus disikapi. Dan, ini bukan hanya urusan satu-dua perusahaan, tapi puluhan. Juga bukan hanya di Kediri. Tapi luar Jawa juga. Seperti tren peralihan BBM ke energi listrik (sebagian usaha Sutrisno di bidang energi, Red). Anak-anak muda itu yang bisa nututi. Ya tenaganya, ya pikirannya. Nah, sekali lagi, Eggy sekarang sudah berada di top management. Kami lebih membutuhkan dia untuk mengendalikan perusahaan ini. Dia harus fokus di situ jika perusahaan ini ingin sustain.  

Lalu mengapa tidak memilih Masykuri yang selama ini terlihat kompak sebagai wakil bupati mendampingi istri Anda, misalnya, ketika tidak mengajukan putra Anda?

Ini soal kecocokan ya. Saya secara pribadi tentu punya penilaian. Dari sekian penilaian, mana yang saya anggap cocok. Kebetulan saja yang saya nilai cocok Pak Mujahid. Jadi, ini bukan soal Pak Masykuri atau siapa. Tapi, soal kecocokan.

Oke, Anda tadi menyebut sudah menyiapkan Mujahid-Eko Ediyono. Sementara, Anda sebagai ketua DPC PDIP juga harus bersikap sama terhadap kandidat lain yang berharap rekom. Bagaimana Anda menyikapinya?

Kalau dalam pendaftaran, semuanya kan memang berkedudukan sama. Baik yang mendapat dukungan saya secara pribadi maupun tidak. Semua berkesempatan sama. Dan, perlu diketahui, pendaftaran itu bukan hanya di DPC lo. Bisa juga di DPD bahkan langsung DPP. Kabarnya juga sudah ada yang mendaftar lewat DPD. Nah, DPC atau DPD hanya meneruskan pendaftaran itu ke DPP. Nanti semua yang memutuskan DPP. Siapa yang diberi rekom, semua tergantung dari DPP.

Bagaimana jika nanti rekomendasi DPP PDIP tidak jatuh kepada calon yang Anda dukung?

Jangan berandai-andai dulu. Kan masih ada waktu cukup panjang. Tentu, saya berharap calon yang saya dukunglah yang mendapat rekomendasi. Namun, sebagai politisi, dalam pertarungan di ‘medan perang’ politik, tentu kita harus menyiapkan banyak strategi.

Apa sih sebenarnya yang Anda harapkan dari kepemimpinan di Kabupaten Kediri ini ke depan?

Tentu keberlanjutan. Apa yang sudah saya, kemudian istri saya lanjutkan, selama ini bisa terus berlanjut. Bagi saya, ini pengabdian untuk masyarakat Kabupaten Kediri. Pengabdian kepada Allah juga. Kalau bukan karena itu, lebih baik saya ngurusi perusahaan saja. Tidak perlu ngurusi kabupaten ini. Karena itulah, saya harus memilih orang yang saya nilai cocok untuk melanjutkan semua itu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia