Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Mereka yang Menjuarai Kelud Volcano Road Run 2019 (2)

Berlari meski Kram di Tanjakan Margomulyo

17 September 2019, 15: 36: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

pelari kvrr juara

BANGGA: Ardhi berfoto dengan plakat pemenang KVRR 2019 usai penyerahan hadiah, Minggu (14/9). (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Misi Eva dan Ardhi menaklukkan medan tanjakan Gunung Kelud bukan saja berhasil. Keduanya bahkan mampu melewati estimasi awal mereka. Keduanya berhasil menjadi juara di kategori pelajar.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten, JP Radar Kediri

pemenang kvrr

JUARA: Eva usai menjadi pemenang dalam KVRR 2019. (Dwiyan - radarkediri.id)

Kilometer 8, dua kilometer lagi menjelang garis finish. Napas Eva Yunita terdengar ngos-ngosan. Keringat juga menetes di sekujur tubuh. Terlihat kelelahan.

Pelajar cewek asal kota pisang, Lumajang, itu tak menyerah. Sepasang kakinya tetap dikuatkan untuk melibat tanjakan dan tikungan tajam yang tersaji di depannya. Hasilnya, gadis ini tampil sebagai juara dalam Kelud Volcano Road Run (KVRR) 2019 di female student category, Minggu (14/9) lalu. Capaian waktunya juga lumayan, 60 menit 1 detik.

Eva tidak menyangka sama sekali bila dirinya bakal menjuarai KVRR 2019. Saat memastikan ikut ajang ini dia memang punya target. Tapi, dia hanya mematok bisa masuk lima besar saat sampai di garis finish.

Target itu dianggapnya wajar. Karena pesaingnya dalam lomba lari 10 kilometer tapi dengan rute medan pegunungan tersebut bukan lawan ringan. Mereka semua punya kans mencapai garis finish sebagai yang tercepat.

“Karena itu awalnya saya kaget ketika panitia menyebut nama saya (sebagai pemenang),” aku Eva sesaat setelah menerjang pita finish.

Di usianya yang masih belia, Eva mengaku harus banyak belajar dan memperbanyak latihan. Terutama untuk menaklukkan jalur lari yang menanjak dan menikung tajam. Meskipun olahraga lari bukanlah hal yang baru bagi gadis ini. Dia telah menekuni olahraga fisik ini sejak usia delapan tahun.

Alasannya bergelut dengan olahraga lari sangat sederhana. Karena dengan olahraga lari dia tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak. Tapi bisa bermanfaat menjaga stamina dan kondisi tubuh.

Kemampuan lari gadis ini kian terasah setelah bergabung dengan komunitas lari Golden Arrow Lumajang. Dia kemudian mulai mengikuti banyak kejuaraan. Baik regional maupun nasional. “Saya juga pernah menjuarai Rilay Marthin Marathon di Kudus. Terbaru saya dapat menjuarai Relay Marathon di Kabupaten Banyuwangi. Dan kali ini berhasil menaklukkan Gunung Kelud,” ucapnya senang.

Khusus untuk KVRR, dara kelahiran 16 Maret 2004 ini mempersiapkan diri secara khusus. Jauh hari dia berlatih di medan pegunungan. Daerah tempatnya berlatih dia pilih yang juga memiliki rute menanjak dan menikung tajam. “Hampir tiap hari saya latihan lari di dataran tinggi,” ungkap perempuan yang saat ini duduk di kelas 10 SMAN Yosowilangun Lumajang.

Meskipun demikian, Eva ternyata msih juga merasakan beratnya medan KVRR. Dia merasakan kakinya mulai kram saat melewati tanjakan di Taman Wisata Margomulyo (TAM). Tapi semangatnya pantang surut. Eva enggan berhenti dan menyerah. Untuk mengurangi kram itu dia berlari kecil menggunakan ujung kaki. “Untuk mengurangi rasa sakit,” ucapnya.

Sementara itu, male student category dimenangkan Ardhi wirayuda, 17. Pemuda ini asal Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Dia melalap rute sepanjang 10 kilometer  dalam waktu 48 menit, 55 detik. Wajahnya tampak sangat puas dengan raihan ini. “Alhamdulillah saya bisa menaklukkan Gunung Kelud meski dengan tanjakan yang sangat tajam,” serunya.

Pemuda dengan nomor dada 4103 adalah atlet atletik dari Kabupaten Jombang. Sebelum mengikuti KVRR, pemuda yang akrab disapa Ardhi ini telah mengikuti perlombaan lari marathon di segala event regional maupun nasional. “Saya masih gak percaya bisa menjuarai pertama,” ungkapnya sambil mengusap mukanya yang penuh dengan keringat.

Untuk mempersiapkan KVRR ini, Ardhi mempersiapkan diri selama satu bulan. Dengan medan lari datar dan tanjakan. Ia juga berlatih ketahanan dan peregangan otot-otot agar tidak mudah kram saat lari. Terbukti, selama perjalanan, ia nyaris tak mengalami permasalahan fisik.

Ardhi mengakui medan KVRR menyajikan suguhan yang berbeda. Salah satunya saat melewati terowongan Ganesha. Di sinilah kondisi Ardhi mulai menurun. “Saat memasuki area terowongan saya sedikit mengalami penurunan fisik. Namun saya coba untuk tetap fokus,” ucapnya.

Diiringi sorakan para volunteer yang berada tepat di ujung terowongan, di menambah tarikan lari yang kian kencang. Alhasil ia bisa mencapai garis finish di urutan pertama “Pokoknya kemenangan ini menjadi kabar baik untuk keluarga maupun komunitas saya,” pungasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia