Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Features

Susilawati, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Jadi Penangkar Burung

Benci, Akhirnya Terbiasa lalu Jatuh Cinta

17 September 2019, 12: 50: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Burung

BUAH KEGIGIHAN: Susilawati menunjukkan salah satu burung yang sukses ditangkarkannya. Dengan keuletannya, kini dia tinggal menikmati pundi-pundi rupiah. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Tak banyak orang yang berhasil menangkar burung Cucakrowo dan Jalak Bali. Terlebih bagi seorang perempuan yang umumnya jarang berkecimpung dalam dunia itu. Namun, Susilawati justru sebaliknya.

ANDHIKA ATTAR. Kertosono, JP Radar Nganjuk

Umumnya, hobi memelihara bahkan menangkarkan burung menjadi dominasi kaum Adam. Sangat jarang dijumpai perempuan yang mau terjun dalam dunia tersebut. Namun, stigma itu dipatahkan oleh Susilawati.

Yang dilakukan perempuan asal Desa Kudu, Kecamatan Kertosono itu seperti sebuah anomali. Ia berhasil menangkarkan burung dengan jenis yang tergolong mahal dan sulit untuk dikembangbiakkan. Yakni, burung jenis Cucakrowo dan Jalak Bali.

“Awalnya, dulu benci sekali dengan burung. Apalagi kan mereka makannya ulat. Saya sangat geli dengan ulat,” aku perempuan kelahiran Desa Puhjajar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri tersebut.

Ia tak menampik bahwa mulanya yang hobi memelihara burung adalah suaminya. Lantaran sering ditinggal pergi dinas ke luar kota, burung-burung itu pun banyak yang tidak terawat dengan baik. Lama-kelamaan, hatinya tergerak untuk merawatnya. Segala ketakutan dan phobianya dengan ulat dilawannya.

Dari yang awalnya benci, ia bertansformasi menjadi penangkar andal. Bahkan, dari tangan dinginnya Susi, begitu ia akrab disapa, berhasil menangkarkan burung Cucakrowo dan Jalak Bali yang tergolong memiliki kesulitan tinggi.

“Saya belajar otodidak. Dari beberapa trial and error saya justru banyak belajar,” aku ibu rumah tangga tersebut. Ia pun akhirnya mengantongi izin untuk penangkaran tersebut sejak tahun 2007 silam

Insting dan intuisinya pun menguat seiring hari-hari yang dilaluinya bersama burung-burung tersebut. “Merawat burung juga sama seperti merawat seorang anak. Harus penuh dengan kasih sayang dan perasaan,” tandasnya.

Di luar hal itu, ia memang mempunyai trik tersendiri dalam keberhasilannya. Yakni, dengan menyiapkan minimal tiga kandang untuk tiap jenis burung yang ditangkarkannya. Dengan begitu, rasio keberhasilannya menjadi lebih besar. Kini, di rumahnya ada sekitar 80 kandang untuk penangkaran burung.

Kegiatan yang telah digelutinya sejak awal 2000-an itu kian lama menunjukkan hasil positif. Bahkan, ia mengaku dapat merasakan buah manis perjuangannya itu. Yakni, dengan mengalirnya pundi-pundi rupiah ke kantongnya.

Dengan usaha itu pula, dia dan suami berhasil mengumpulkan uang untuk membeli rumah dan tanah yang kini ditempatinya. Demikian juga biaya kuliah dua anaknya juga berkat kicauan burung yang ditangkarkannya.

Meski demikan, bukan berarti usahanya berlangsung mulus-mulus saja. Kegagalan dalam menangkar jamak dialaminya. Hanya saja, ia memang memiliki tekad yang kuat untuk berhasil “Bagi saya, kegagalan adalah sebuah pembelajaran,” ujarnya.

Selain faktor teknis, dia juga beberapa kali kemalingan. Burung-burung yang ditangkarkannya dicuri orang sebanyak tujuh kali. Kerugiannya tak kurang dari Rp 200 juta.

Sekali lagi, kegigihannya diuji. Susi tetap tak menyerah atau trauma.  Kini, ia sering diminta menjadi pembicara di seminar-seminar. Entah itu terkait penangkaran burung, atau konservasi alam secara keseluruhan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia