Kamis, 24 Oct 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Pencabulan Anak di Kediri: Korban Takut Bertemu Pria

16 September 2019, 17: 33: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Rasa Trauma Korban

Rasa Trauma Korban (radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Dampak tindakan pencabulan yang dilakukan Kambali terhadap Kuncup sangat besar. Bocah berusia lima tahun itu masih terbelit trauma. Dia kini tak berani ditinggal sendirian. Ke mana-mana minta selalu ditemani.

“Sekarang (ke mana-mana) selalu ditemani ibunya,” kata Sundoro, ayah Kuncup, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya, di wilayah Kecamatan Puncu, kemarin.

Padahal, sebelum aksi bejat yang dilakukan pelaku yang masih tetangga itu, Kuncup adalah balita pemberani. Tak hanya bermain sendirian di halaman, pergi ke rumah bibinya yang berjarak 100 meter dari rumah juga masih berani.

Tapi semua itu berubah sejak kejadian laknat tersebut. Putrinya bahkan sempat tak mau sekolah beberapa hari. Sundoro menyebut putrinya mengalami trauma. Terutama bila bertemu orang baru. Saat berada di sekolah pun kini putrinya tak mau ditinggal. Minta ditunggui sang ibu.

Situasi itu membuat Sundoro amat terpukul. Wajar bila kemudian dia berharap mendapat keadilan. Terutama pemulihan trauma putrinya itu. “Sementara ibunya  tidak bekerja, biar anak saya pulih dahulu,” sebutnya.

Dia berharap agar penanganan terapi trauma terhadap putrinya segera dilakukan. Agar pemikiran dan apa yang diderita putrinya tidak berlarut-larut.

“Ingin melihat anak saya ceria lagi,” ungkapnya.

Selama ini, Sundoro mengaku bahwa putrinya saat berangkat sekolah memang selalu diantar. Hanya saja ketika pulang tidak dijemput orang tua, melainkan bersama kakaknya. Sementara di rumah, ada kakek yang menjaga. Tak jarang putrinya itu bermain ke rumah saudara yang masih satu deretan.

Sundoro pun mengucapkan terimakasih kepada sejumlah pihak yang telah peduli untuk menyelesaikan kasus ini. Ia mengaku selama ini hanya butuh keadilan hukum atas apa yang menimpa keluargannya. Dia bersikeras mempertahankan harga diri sang buah hati. Dan sama sekali menolak penawaran perangkat desa di sana yang meminta damai.

Sementara itu, Dinas Sosial Kabupaten Kediri bersama dengan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) menegaskan membantu pemulihan kondisi mental Kuncup. Agar bisa kembali seperti sedia kala.

“Anaknya takut dengan orang asing yang belum pernah ditemui,” terang Kabid Rehabilitasi Sosial Dyah Saktiana.

Kuncup sendiri berasal dari keluarga tak mampu. Orang tuanya hanya lulus sekolah dasar (SD). Mereka bekerja sebagai peternak bebek. Keluarga ini juga tercatat sebagai penerima program keluarga harapan (PKH). Karena itu, mereka sangat butuh pendampingan khusus dari keluarga dan pendampingan psikososial.  

Menurut Dyah, mulai 3 September lalu dinsos bersama LK3 telah memberikan asesmen pada korban dan keluarganya. Tentu saja fokusnya pada Kuncup. Tujuannya adalah menyelamatkan psikologi dan psikis sang anak.

Trauma yang dialami Kuncup terlihat saat tim asesmen datang. Kebetulan dalam rombongan dinsos dan LK3 itu ada yang berjenis kelamin laki-laki. Kuncup langsung takut berhadapan dengan tim. Sempat tak mau diajak berkomunikasi. Termasuk tak mau berbicara soal kejadian yang menimpanya.

“Setelah kejadian tersebut, anaknya tidak berani menceritakan kepada orang lain,” terangnya.

Meskipun akhirnya mau diajak berbicara namun Kuncup tidak seceria seperti dulu. Masih terlihat jelas trauma dari raut wajah anak bungsu empat bersaudara tersebut. Karena itulah, Dyah berharap dengan pendampingan dapat mengembalikan kepercayaan diri Kuncup.

Untuk pendampingan selanjutnya, dinsos akan meminta bantuan psikolog yang tergabung dalam LK3. Jadwal asesmen yang kedua kali itu rencana akan dilakukan Selasa (17/9).

Menghilangkan Rasa Trauma

-         Dinsos gandeng Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) melakukan pendampingan pada Kuncup.

-         Pendampingan dilakukan agar Kuncup pulih dari trauma akibat pencabulan.

-         Sejak menerima perlakukan tak senonoh Kuncup tak berani bermain sendirian.

-         Kuncup juga tak berani bersekolah sendirian. Dia minta ditunggui selama bersekolah.

-         Kuncup takut berinteraksi dengan pria, terutama yang belum pernah dikenalnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia