Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Rindu Era Majapahit

16 September 2019, 17: 27: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro purwito

Oleh: Endro Purwito (radarkediri.id)

Share this          

Sudah kerap diberitakan. Bahkan kasusnya berujung di kepolisian. Lalu, berakhir di pengadilan. Meski begitu, masih ada saja yang jadi korban penipuan rekrutmen pegawai negeri.

    Tak terkecuali di Kota dan Kabupaten Kediri. Di pekan awal September ini, Polres Kediri Kota mengamankan pria 43 tahun asal Toyoresmi, Ngasem (Jawa Pos Radar Kediri, 8 September 2019).

Dia berkeliling di gang-gang kecil sambil membagikan brosur informasi tes penerimaan CPNS (calon pegawai negeri sipil). Menebar janji dan harapan tentang peluang mendapat pekerjaan yang selama ini masih dipandang mapan dan nyaman.

Di brosur tercantum  nomor telepon dia. Tawaran tersebut bersambut. Mereka yang tergiur akhirnya terpikat. Tak curiga kendati harus membayar sebagai syarat. Uang sudah disetor. Namun nyatanya, iming-iming diangkat pegawai cuma ilusi. Ngapusi.

Sebelumnya, di awal bulan yang sama, Polsek Gampengrejo di wilayah Kabupaten Kediri juga mengamankan pria asal Ngunut, Tulungagung (Jawa Pos Radar Kediri, 5 September 2019). Dia dilaporkan oleh warga Desa Doko, Kecamatan Ngasem yang merasa tertipu.

Anaknya yang dijanjikan bisa diterima menjadi pegawai di instansi pemerintah ternyata hanya di-PHP (pemberi harapan palsu). Padahal uang telanjur dibayar. Jutaan rupiah banyaknya. Tetapi, rupanya, janji tinggal janji. Dua tahun menanti, iming-iming menjadi pegawai tak terbukti.

Modus tipuan seperti ini seharusnya bisa diantisipasi agar tak terjadi lagi. Orang bisa berkaca atau belajar dari pengalaman korban. Informasi soal kasus penipuan itu pun banyak dipublikasikan di media massa. Anehnya kok ada saja yang masih terjerat. 

Ini ibarat transaksi ekonomi. Di mana ada permintaan, di situ ada penawaran. Pun sebaliknya. Ada kalanya justru korban sendiri yang ingin mencari jalan pintas. Tak perlu bersusah payah dalam seleksi. Namun, memilih jalur belakang dengan membayar upeti.

Konsep pragmatisme inilah yang dimanfaatkan penipu. Seolah ia sudah mengetahui kebanyakan orang sekarang ingin serba praktis. Tak menghargai proses. Mengabaikan nilai-nilai moral. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Karena tergiur sikap pragmatis itulah banyak yang tertipu. Mereka memandang hidup hanya sekadar mengejar jabatan dan mencari kekayaan. Ibarat memancing, mereka berpandangan tidak masalah membayar terlebih dahulu asal bisa mendapatkan pekerjaan atau jabatan.

Toh nanti setelah mendapat pekerjaan dan menduduki jabatan, uang bisa dicari kembali. Yang seperti ini–ketika nanti memiliki kewenangan atau kekuasaan–bisa berbahaya. Sebab sejak awal sudah berpikir praktis. Modal yang dahulu dikeluarkan harus kembali. Selanjutnya, tinggal menumpuk kekayaan.

Ironisnya, sekarang ini anggapan orang terpandang dinilai dari kekayaannya. Diukur seberapa banyak aset atau hartanya. Dipandang dari nilai kebendaannya. Tak peduli dengan bagaimana proses mendapatkannya.

Tak dimungkiri keadaan seperti di atas masih banyak ditemukan dalam realitas kehidupan di era globalisasi sekarang ini. Orang cenderung pragmatis. Inginnya serbapraktis. Menumpuk materi menjadi tujuan.

Materialisme seolah menjadi dewa. Diyakini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan menghidupinya. Mengesampingkan nilai-nilai lain dari kebutuhan kemanusiaan, seperti kerohanian, moral dan spiritual.

Materialisme menciptakan kelas atau kasta di masyarakat berdasarkan nilai materi kekayaannya. Yang terkaya menduduki kelas paling atas. Yang bergelimang harta menempati kelas tinggi. Semakin menumpuk kekayaan, makin naik kelasnya.

Tak heran, banyak orang berlomba demi menggapai kasta teratas. Kendati dengan melakukan segala cara. Tak peduli lagi halal haram. Seolah hidup di dunia untuk selamanya.

Rindu rasanya ingin kembali ke era Kerajaan Majapahit. Dalam diskusi bedah buku bersama sejarawan Agus Sunyoto di Brantas room, Jawa Pos Radar Kediri, dua pekan lalu (4/9), diulas kehidupan masyarakat Nusantara kala itu. Mereka telah memiliki peradaban unggul. Materialisme tak dijunjung tinggi. Bahkan diletakkan di kasta bawah.

Pasalnya, kelas sosial masyarakat diukur dari keterikatannya dengan  materi atau urusan duniawi. Makin jauh dari materi keduniawian, maka martabatnya makin tinggi. Sebaliknya, jika hasratnya dengan kekayaan duniawi sangat kuat, martabatnya pun kian rendah.

Ini menunjukkan bahwa leluhur zaman Majapahit dahulu telah meletakkan nilai spiritual sebagai hal paling utama dalam kehidupan. Pada era itu, kasta tertinggi adalah Brahmana. Mereka adalah para rohaniawan. Hidupnya di hutan, gunung, dan gua. Tugasnya membimbing pada kebenaran.

Kasta berikutnya Kesatria. Mereka adalah abdi negara yang tak punya kekayaan pribadi. Tugasnya mengabdi pada negara. Kebutuhan hidupnya (sandang, pangan, dan papan) dipenuhi negara. Bila diketahui punya rumah (kekayaan) pribadi, kesatria ini akan dikucilkan. Masyarakat tidak boleh melayani. Sebab negara harus bersih dari orang yang memiliki pamrih pribadi.

Urutan ketiga, kasta Waisya. Mereka kaum petani, seniman, dan nelayan. Kaum ini lebih rendah dari Brahmana dan Kesatria karena dianggap sudah terikat kekayaan duniawi. Mereka punya rumah, sawah, atau ternak. Kelas ini cukup terhormat karena menjamin ketersediaan pangan dan kebutuhan hidup masyarakat.

Keempat Sudra. Para saudagar, rentenir, tuan tanah, atau yang kaya berlebihan tergolong kasta ini. Nilai yang berlaku saat itu, menumpuk kekayaan adalah manifestasi nafsu atau hasrat duniawi. Golongan Sudra dilarang bicara soal agama, sebab ayat-ayat agama akan dijual demi keuntungan pribadi.

Kelima Candala. Termasuk kasta ini adalah jagal ternak dan aparat negara yang tugasnya mengeksekusi terpidana mati seperti algojo. Keenam Mleccha. Adalah orang asing yang tinggal di Majapahit. Disebut juga wong kiwahan atau orang rendahan (pelayan). Kala itu, penduduk asli diberi kedudukan sebagai wong yekti, wong mulia atau wong agung. Makanya jika ada pribumi bekerja sebagai pelayan akan diadili.    

Ketujuh Tuccha, adalah kasta paling rendah. Ini kelompok pencinta materi duniawi dan tak peduli hak orang lain. Mereka penipu, penjudi, pencuri, pelacur dan mucikari, dan begal atau rampok. Kelasnya paling rendah dan hina martabatnya. Karena untuk hidup mereka justru senang melanggar hukum dan hak-hak orang lain. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia